Blog pribadi sebuah sarana melepas emosi

Memiliki blog pribadi, entah itu blogspot yang berbasis pada Plaftorm Blogger. Maupun blog dari CMS WordPress atau lainnya. Menawarkan manfaat yang luar biasa dari segi psikologi, menunda kegilaan kita.

Kita bisa menulis apa saja di blog, mencurahkan semua emosi agar lepas tidak membebani. Dengan atau tanpa menyertakan nama.

Blog pribadi juga berperan sebagai catatan yang aman untuk membungkus masa lalu. Kita bisa datang kembali menjelajah waktu, membaca tulisan cakar-ayam kita saat itu, dan tertawa aneh tanpa disadari.

Abaikan media sosial. Saat curhat dan bersambat di sana, orang-orang yang membacanya akan memberikan stigma (yang kemungkinan buruk).

Alih-alih menulis di media sosial, blog adalah pilihan yang paling masuk akal. Ini seperti rumah, kita bebas mendesain pintu, memilih cat, memasang dekorasi, atau apa pun sesuai dengan imajinasi.

Bikin blog mudah, dan murah. Berdasarkan pengalaman saya memiliki blog sejak 2016, hanya ada satu bagian yang sulit: konsisten.

Sudah tak terhitung berapa blog yang saya buat dan hilang karena tidak saya perpanjang. Alasannya jelas, miskin.

Mumpung Filosofish ini belum menyusul blog pendahulunya yang sudah berada di alam baka. Saya hendak menyampaikan mengapa blog pribadi dapat menjadi salah satu pilihan terbaik sebagai sarana melepaskan emosi.

10 Manfaat Blog Pribadi untuk Melepas Emosi

Blog pribadi adalah blog miliki kita sendiri, tidak ada user atau pengguna lain yang mengelolanya.

1. Media Curhat dan Bersambat yang Aman

Kita bisa menulis sesuatu apa pun itu dengan bebas, soalnya blog ini milik kita seorang.

Misalnya, kalian mendapati bos yang begitu berengsek, menulis tentang bos kalian di blog jauh lebih aman daripada membuat WA Story Bos KONTOO....

Namun, bagaimana kalau ternyata ada yang membacanya? Apalagi kalau saya membubuhkan info diri di blog tersebut?

Jawabannya singkat saja: biarkan.

Kita berada di Indonesia dengan minat baca berada di Palung Mariana. Jika ada yang membaca tulisan cakar-ayam kita, berarti masih ada manusia yang memiliki kesadaran bahwa membaca itu penting.

Jika yang membacanya adalah bos berengsek kalian, lihatlah konsekuensi terburuk hanyalah dipecat, tidak lebih, tidak kurang.

Artinya, tidak ada konsekuensi yang perlu kita khawatirkan saat menulis apa pun di blog pribadi.

Kalau perlu, tambahkan kolom komentar agar bos tersebut bisa memberikan pendapatnya. Apakah menjadikan tulisan kalian sebagai kaca benggala untuk berkaca biar menjadi bos yang lebih manusiawi.

Atau justru sebaliknya, meninggikan ego (setinggi otak di kelamin) dan mencari cara paling cepat untuk menyingkirkan kalian.

2. Blog Pribadi Menunda Kegilaan Kita

Saya selalu percaya kalau menceritakan tentang masalah kita kepada orang lain tidak akan memberikan solusi apa-apa.

Dengan menulis keluh-kesah di blog, itu akan lebih membantu, kita tidak membutuhkan telinga orang lain agar mendengarkan. Kita hanya berurusan dengan keyboard, layar, dan kata-demi-kata.

Jangan menyimpan terlalu lama emosi negatif (seperti marah, dendamn, dan seterusnya) di hati.

Semua emosi negatif itu akan membusuk kalau disimpan terlalu lama. Menjadi sumber penyakit, menghambat kebahagiaan yang seharusnya bisa datang dengan mudah dan sederhana.

3. Meredakan Stress dengan Instan

Blog pribadi secara ajaib bisa meredakan stress kita dengan instan.

Bahkan, kita tidak perlu menulis untuk menghilangkan stress. Tinggal membaca tulisan di tahun lalu, kemudian kita berpikir, oh saya pernah berada dalam situasi ini, dan menuliskannya secara berantakan.

Lihat, stress kita sudah berkurang 50%.

Blog pribadi berbeda dengan website atau blog yang bertujuan memperoleh manfaat ekonomi. Tujuan memiliki blog bukan semata-mata uang, jauh lebih penting dari itu: ketenangan.

4. Membantu Mengenali Diri Sendiri

Saya teringat dua pertanyaan yang diajukan oleh seekor harimau raksasa sebesar sapi yang tiba-tiba keluar dari tembok di dalam penjara. Harimau itu bertanya kepada Pram yang nyaris mampus gara-gara tidak makan dan minum selama tiga hari.

  • Pertanyaan pertama: Siapa kau ini sebenarnya?
  • Pertanyaan kedua: Apa yang kau kehendaki di dunia ini?

Dua pertanyaan yang nyaris mustahil dijawab oleh semua orang. Berkaitan dengan siapa kita, dan apa tujuan kita.

Lantas, apa hubungannya dengan blog pribadi? Memiliki blog memberi gambaran secara garis besar tentang siapa kita ini sebenarnya, apa kecenderungan kita, dan bagaimana kita menjalani kehidupan.

Jika dipaksa untuk menjawab pertanyaan tersebut, barangkali saya akan mengatakan bahwa, saya adalah seorang pemancing ikan dan punya tujuan di dunia untuk beribadah kepada Allah SWT.

5. Tempat Membuang Emosi Negatif dengan Cara Positif

Kabar baik, emosi negatif bisa kita buang.

  • Membuang emosi negatif dengan cara negatif: Memukul teman tanpa alasan, membanting peralatan rumah tangga, atau menceburkan diri ke Sungai Brantas tanpa pelampung.
  • Membuang emosi negatif dengan cara positif: Menulis.

Blog pribadi memberikan kebebasan kepada kita untuk menulis apa saja. Lalu menerbitkannya saat itu juga.

Kalian adalah pemiliknya, kalian yang mengelolanya, kalian juga yang menjadi redakturnya. Tidak ada istilahnya Tulisan Anda ditolak karena kurang marketable.

6. Rasa Lega seperti Berak

Setelah menulis, akan muncul rasa lega seperti habis berak. Rasa ini pula yang menjadi candu mengapa saya perlu memiliki sebuah blog.

Jangan salah sangka, berak tidak sejorok yang kalian pikirkan. Mengapa?

Saat berak pasti ngeden, di mana dalam ngeden ada eden. Ya, Taman Surga, Taman Eden yang begitu indah itu nyatanya bisa kita temukan dari kegiatan sehari-hari yang tidak pernah kita sadari: berak.

7. Meningkatkan Mood

Menulis dalam rangka melepas emosi juga berarti kita menjelajahi diri sendiri, jauh lebih dalam mirip kontemplasi.

Kita akan memilah satu-per-satu, bertemu dengan emosi dan apa yang menyebabkan itu muncul.

Kondisi pertemuan kita dengan emosi yang berada di dalam diri kita terbentuk di ruang lingkup yang baik-baik. Kita tidak menolak emosi itu, justru sebaliknya, seperti berjabat tangan untuk berdamai.

Hasilnya, suasana hati akan berubah, semula suram menjadi terang, semula penuh beban menjadi tetap ada beban (tetapi sudah berkurang).

Tidak percaya? Cobalah menuliskan emosi kalian.

8. Blog Pribadi Bikin Kita Bersyukur

Sebenarnya, kita tetap harus bersyukur meski tidak memiliki blog.

Bersyukur untuk sesuatu yang sangat berharga, meski tampak begitu sederhana. Apa itu? Masih hidup dan waras.

Selama kita masih hidup dan waras, yakinlah kondisi terburuk yang runyam seperti sekarang tidak akan bertahan selamanya.

Pasti ada waktu di mana titik balik dimulai, berubah menjadi fajar indah yang hangat dan lembut.

9. Dunia Terlalu Bising untuk Kita yang Hening

Blog pribadi bermanfaat untuk menghalau rasa kesepian.

Kalian bisa mencari blogger lain dengan menuliskan kata kunci tentang masalah yang sedang kalian hadapi.

Lihat? Bahwa kalian bukan satu-satunya orang di muka bumi ini yang mengalami masalah yang serupa.

Hal ini sebetulnya juga meningkatkan semangat, kita bisa berinteraksi dengan blogwalking, lalu memberi perasaan seperti terhubung.

Bertemu dengan sesama blogger di ranah online itu rasanya seperti ini: Seperti kita yang sedang berada di luar negeri, bertemu dengan orang Indonesia.

Sesuatu yang sangat langka, apalagi blogger yang menjadikan Adsense bukan tujuan utama.

10. Self Healing

Terakhir namun bukan akhir, blog pribadi adalah sarana self healing apalagi bagi orang yang suka membaca dan menulis.

Blog bisa menjadi bagian dari proses penyembuhan emosi dan trauma, terutama jika konsisten dijadikan ruang refleksi.

Saya pribadi tidak berani menjamin setelah kalian punya blog pribadi akan mengubah hidup kalian menjadi bahagia, utang kalian lunas semua, dan orang-orang tiba-tiba menjadi baik.

Hanya saja dengan menuliskannya, blog dapat menjadi sarana melepas emosi di samping bersujud dan berdoa.

Nah, kira-kira begitu.

Kalau ada kalimat yang kurang jelas, makna yang kabur, atau manfaat yang tidak ada; harap maklum. Soalnya saya memang bukan penulis, hanya pemancing ikan.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi