Menguras kolam ikan dengan anak dan istri
Aroma amis semerbak. Menguap ke udara, berpadu dengan oksigen bening, bercampur lumpur hijau endapan di tanah basah yang keluar lewat sebuah lubang pembuangan kolam.
Tiga menit kemudian kolam itu sudah kehilangan seluruh airnya. Menyisakan ikan-ikan yang terkapar tak berdaya.
Saya seolah merasakan hal serupa. Menggelepar mencari air buat bernapas. Bedanya, saya megap-megap mencari waktu luang.
Tawa riang bocah perempuan usia dua tahun itu membuyarkan lamunan. Segera saya ambil timba dan memasukkan satu-satu ikan ke dalamnya bergiliran.
Si bocah makin kegirangan sore ini. Sedang si ibu meringis aneh dari kejauhan.
Sisa-sisa lumpur hijau endapan kolam harus saya serok manual. Kolam sekecil ini ternyata menelurkan bulir-bulir keringat juga. Setengah jam berlalu akhirnya semuanya kelar.
Saya duduk di samping ibunya sementara si bocah masih asyik berbincang rahasia dengan ikan-ikan di timba. Kami melihatnya cukup teduh, andaikan setiap hari berlalu dengan suasana serupa. Betapa indahnya.
Setelah beberapa seruput kopi sore dan sebatang kretek, saya dekati bocah itu. Memintanya mengembalikan ikan ke kolam.
Lambat-laun satu-satu ingatan muncul. Bahwa semua ikan di kolam kecil ini merupakan hasil pancingan dari kali yang sama-sama kecil. Waktu, betapa tega itu, hanya menyisakan sepenggal-sepenggal ingatan samar.
Kolam terisi kembali dengan air dari selang. Air yang semula hijau kental berubah jadi bening.
Sore hari ini saya turut mengalirkan harapan. Kehidupan yang demikian keruh semoga saja dapat menjadi jernih dengan pertolongan Tuhan.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi