Pengalaman menjadi orang tua, ini cukup mengubah saya
Agaknya terlalu terburu-buru mengungkapkan pengalaman menjadi orang tua. Pasalnya, anak saya masih kecil, barusan sampai bulan ke-12 usianya.
Namun, saya sudah kadung ingin menulis artikel yang membahas perihal itu. Ada banyak hal baru yang seperti mengubah pandangan saya tentang kehidupan.
Hal Pertama: Menjadi Orang Tua Tidak Mudah
Sadari hal ini, bahwa menjadi orang tua, mengurus bayi baru lahir yang hanya bisa menangis, hingga tumbuh dan berkembang sampai sekarang. Itu semuanya tidak mudah.
Kita harus mengganti popok yang penuh dengan poop, menemani begadang di saat-saat tertentu, dan betapa konyolnya kita membuat wajah lucu untuk menghiburnya.
Itu bukan bagian terburuknya, bagian yang paling menjelaskan mengapa semua itu tidak mudah adalah ini: kita harus melakukannya setiap hari.
Makanya, memiliki anak kiranya dapat mengubah seekor singa liar menjadi kucing jinak.
Sebelum menjadi orang tua, dulu kita adalah sama bayi, sama anak. Orang tua kita juga melakukan hal yang sama dalam merawat kita. Menyadari posisi kita sekarang adalah orang tua, menunjukkan alasan purna mengapa kita tidak boleh durhaka kepada mereka.
Hal Kedua: Anak Sakit Orang Tua Merasa Lebih Sakit
Ini juga penting, beberapa waktu lalu anak saya sakit panas, batuk, dan pilek. Bagi semua orang tua, saya yakin mereka berdoa ingin memindahkan sakitnya kepada dirinya saja. Jangan ke anak.
Melihat anak yang begitu ceria dan menggemaskan tiba-tiba lesu dan rewel. Di satu sisi kita lelah, di sisi lain kita kasihan.
Apalagi saat anak terpaksa harus minum obat yang pahit. Andaikan obat itu bisa kita minum sendiri, lantas manfaatnya diterima oleh anak, maka berapa pun jumlah obat dan seberapa pahit pun tetap akan kita telan seluruhnya tanpa terkecuali.
Hal Ketiga: Anak Obat Lelah yang Mujarab
Kita yang nyaris menyerah karena situasi sulit, melihat anak seketika memberikan cahaya harapan baru. Setelah menjadi orang tua, kamu tidak lagi hidup untuk diri sendiri, melainkan hidup untuk anak.
Cukup melihat pipinya yang ranum dan harum mirip mangga matang, mencium wanginya yang khas, serta melihat tingkahnya yang lucu.
Apalagi saat anak sudah tidur, begitu tenang dan damai, kita tak lagi mengingat bahwa berada di posisi hampir menyerah.
Tulisan ini sebenarnya sebagai catatan pribadi saat ulang tahun pertama anak saya.
Sebagai orang tua, saya tidak memiliki harapan muluk. Saya hanya berharap kelak anak saya meletakkan jidatnya untuk bersujud dan beribadah kepada Allah SWT. Menjadi salah satu hamba yang mendapat ridho baik dunia fana maupun akhirat kekal.
Mau kaya, mau sederhana, mau pintar, mau tinggal kelas, mau jadi guru honorer seperti ibunya, mau menjadi pemancing ikan seperti ayahnya; semuanya bebas dipilih olehnya. Ya, tentu saja, asalkan tidak menjadi polisi.
Untuk engkau yang memiliki pipi ranum yang harum mirip buah mangga matang, teruslah berkembang ke arah lebih baik. Meminjam kata Pak Listanto, doa kami di nadimu.
Kalau kamu juga memiliki pengalaman menjadi orang tua, coba tuliskan di komentar.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi