Mendengar guruh di langit, air tempayan dicurahkan
Agaknya cukup lama saya tidak membuka blog ini; disibukkan oleh segunung sengkarut dalam kehidupan.
Tetapi alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Dipertemukan oleh Tuhan dengan orang-orang baik yang mengulurkan tangannya.
Tepat satu bulan yang lalu adalah tulisan terakhir saya di filosofish.
Tidak akan ada yang menarik dalam artikel ini, sebab saya hanya merefleksi satu bulan terakhir kehidupan saya. Minimal, ada dua hal yang harus disyukuri:
- Masih hidup
- Masih waras
Masih hidup berarti memiliki kesempatan untuk mengubah keadaan. Masih waras berarti masih mungkin merealisasikan perubahan tersebut.
Semoga saja tidak menjadi seperti peribahasa "Mendengar guruh di langit, air tempayan dicurahkan".
Secara harfiah berarti: Berharap pada sesuatu yang tidak pasti dengan membuang yang sudah ada.
Siapa yang paling cocok untuk peribahasa tersebut? Sudah jelas, kan, pengadu nasib di meja taruhan.
Mereka mendapat iming-iming yang sejatinya hanya halusinasi, bahwa akan mendapatkan sesuatu yang sangat besar. Guruh/guntur/petir yang seolah-olah menandakan akan adanya hujan. Di mana hujan akan memberikan air melimpah.
Sedangkan hujan belum turun, sudah membuang air di tempayan/bejana/wadah yang jumlahnya sedikit.
Hasilnya, hujan tak jadi turun, guruh hanyalah menjadi guruh semata, hilang dan pergi. Namun, air di tempayan terlanjur terbuang, tidak bisa kembali.
Janganlah begitu. Cobalah untuk sabar menunggu hujan benar-benar turun, kerahkan usaha mencari bejana lain, dan konsisten menampung air sebanyak mungkin.
Dari peribahasa mendengar guruh di langit, air tempayan dicurahkan, kita akan belajar setidaknya tiga hal:
- Sabar dengan situasi sulit sekarang.
- Usaha yang lebih keras, dibarengi dengan doa.
- Konsisten mengerjakannya.
Aih, manusia hanya bisa merencanakan, namun siapa yang akan menentukan? Tidak ada yang lain, Dia-lah yang maha segala-galanya.
Sesuatu yang mustahil bagi manusia, bagi-Nya bukanlah apa-apa. Dia adalah yang tidak terbatas. Tidak akan berkurang pun bertambah, sebab memanglah tidak terbatas.
Lantas, apa inti dari artikel ini? Sebenarnya tidak ada, kecuali refleksi subjektif kehidupan saya satu bulan ke belakang.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi