Enggak punya apa-apa selain nyawa, itu pun titipan
Lebaran Hari Raya Idul Fitri menjadi momen yang dinantikan, sekaligus mengkhawatirkan. Terlebih bagi orang seperti saya; seorang ayah, suami, dan merangkap anak tertua.
Bukan tanpa alasan, kehidupan di masyarakat materialistis tidak mudah-mudah amat. Kita harus menyiapkan telinga yang tebal. Ya, kita seharusnya tidak perlu terlalu menaruh perhatian pada kripik-saran yang pedas.
Sayangnya, beberapa kali saya gagal mengabaikan kata-kata mereka --terutama Anda-- yang demikian brutal. Kata-kata yang entah bagaimana langsung menusuk sanubari pertahanan.
Pada kondisi yang agak tersulut, saya menjawab Anda, bahwa sementara ini saya tidak punya apa-apa selain nyawa, itu pun titipan.
Jawaban yang seperti pisau bermata dua. Di satu sisi membungkam mulut penanya, di sisi lain menghancurkan harga diri saya.
Aih, harga diri, apa pula itu? Heuheuheu...
Anda sejatinya tidak tahu bagaimana saya berhasil sampai pada titik ini: masih hidup dan waras. Anda tidak tahu apa saja yang sudah saya lalui, jalan terjal yang penuh paku berkarat.
Situasi sulit seperti ini saat Hari Raya Idul Fitri bukan sesuatu yang baru. Hanya saja, ini adalah next level, sebab di pundak saya mengemban citra sebagai seseorang yang harus tampak kuat dan tidak goyah.
Orang Jawa bilang, wong lanang boyok e gak oleh bengkong.
Berbeda dengan dulu ketika masih lajang, di mana saya bebas mengabaikan semua-muanya tanpa terikat apa pun. Sekarang berbeda, suatu citra buruk yang menimpa saya, berdampak pada keluarga. Entah orang tua, istri, atau anak.
Sebenarnya kalau mau, saya bisa mengatakan, bahwa Anda pun juga tidak jauh berbeda dengan saya. Suami Anda pengangguran yang memiliki banyak utang, ini sudah terdengar sampai desa seberang. Menantu Anda adalah seorang laki-laki yang kecanduan sabung ayam, jelas, sama-sama pengangguran. Anak pertama Anda nyaris mampus kalau tetangga Anda tidak melihat saat ia memasukkan lehernya ke tali yang terikat di tiang, harusnya Anda berterima kasih dengan tetangga itu. Beban mental dan ketololan yang dimiliki anak Anda, jelas. Anak kedua Anda mengharap kematian Anda agar segera mendapatkan warisan tanah yang sedikit itu. Sedangkan Anda sendiri, adalah perempuan yang tidak pernah mendapat pembicaraan positif dari gunjing ibu-ibu di warung pagi.
Tetapi, saya yang agaknya masih punya nurani, tidak menumpahkan semua itu di muka Anda. Justru menyayat muka saya sendiri dengan mengatakan "Enggak punya apa-apa selain nyawa, itu pun titipan". Wajar mestinya Anda berterima kasih kepada saya.
Celetuk pertanyaan jahanam entah sengaja atau tidak dari Anda, tak bakal mengubah bulan yang penuh ampunan dan maaf-maafan ini menjadi bencana.
Terlepas dari seberapa buruk kondisi saya sekarang, saya tetap dikelilingi orang-orang baik. Saya masih bersyukur untuk dua hal; hidup dan bernapas. Dan, bersyukur lebih banyak karena masih bisa memancing ikan.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi