Saya mendengar dua kabar buruk di satu waktu

Pagi itu akhir bulan di Januari 2025, seorang teman memancing datang ke rumah. Ia tampak kebingungan sebagaimana enam bulan yang lalu saat kita berdua terakhir bertemu. Wajahnya tidak berubah --tetap murung-- hanya tubuhnya yang tampak lebih kurus.

Ia datang sekadar untuk melihat-lihat joran pancing, kok semakin sedikit, katanya suatu waktu. Saya menjawab bahwa begitulah adanya. Beberapa kondisi memaksa seorang pemancing sekaligus ayah menjual joran miliknya.

Lama berbincang ngalor-ngidul soal spot mancing terdekat. Kami akhirnya sampai pada pembahasan tentang dua teman yang lainnya. Sesi gunjing tampaknya akan berlangsung, dan saya sebenarnya enggan mendengarkan.

Namun, teman saya langsung mengatakan bahwa Si A dan Si B belum lama ini berpisah dengan bininya masing-masing.

Tak mau melanjutkan pembicaraan, saya lantas memotong dengan mengatakan bahwa mungkin Si A dan Si B lebih mementingkan memancing.

Dalam hati saya membatin, seharusnya kalian berdua menjadi seonggok tahi. Ya, tidak lain, tahi yang benar-benar tahi. Seonggok tahi yang tidak memiliki daya dan upaya apa-apa untuk melawan keadaan yang tidak pernah mendukung. Seonggok tahi yang hanya tahu untuk mengikuti arus ke jurang terdalam mana pun.

Kisah pertemuan dan perpisahan selalu saja tidak menarik. Beberapa waktu matahari pagi sudah agak tinggi mendekati siang. Udara menjadi semakin panas. Teman saya lantas bertanya satu-satunya joran yang tersisa ini harganya berapa.

Sedikit enggan, saya mengatakan bahwa itu tidak dijual. Sebenarnya, saya berencana untuk memberikan secara cuma-cuma kepadanya. Berharap dengan harapan konyol entah apa, semoga Tuhan melihat kebaikan terakhir ini lantas memberikan uang ganti yang tak terkira jumlahnya.

Siang makin terik, ia lantas berpamitan hendak pulang setelah menghabiskan secangkir kopi stok terakhir. Sesuai rencana, saya memberikan joran tersebut kepadanya.

Ia agaknya tidak terlalu terkejut, seperti sudah menduganya. Lantas merogoh kantong celana untuk mengeluarkan selembar uang berwarna biru dari sana. Jelas, saya seketika menolak, sebab harapan saya adalah ganti yang jauh lebih besar daripada itu. Bukan ganti dari manusia, melainkan dari Tuhan langsung.

Sial, pikir saya. Ia terus memaksa, meninggalkan selembar lapuk itu di tempatnya duduk tadi. Sama sekali tidak mau mengambilnya kembali.

Bangsat, seharusnya saya mendapatkan ganti dari Tuhan. Namun kenyataannya langsung dikasih ganti oleh manusia dengan nominal yang sama sekali tidak sebanding. Banyak keadaan yang belakangan ini membuat pemahaman saya tentang ikhlas itu tereduksi.

Yah, biarlah, kabar baik dan kabar buruk tidak ada bedanya. Keduanya menjadi penghias sebentar, lalu dilupakan setelah beberapa waktu. Yah, biarlah.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi