Ora oleh lawang
Secara harfiah, ora oleh lawang adalah tidak mendapat pintu, yang bermakna seorang pemancing laki-laki tidak bisa masuk ke dalam rumah karena pintu sudah dikunci oleh istrinya lantaran pulang mancing terlalu malam/larut.
Kondisi yang sangat umum, khususnya bagi pemancing yang sudah berumah tangga.
Sayangnya, di pertengahan Januari 2025 saya mengalami kondisi tersebut.
Ini adalah kali pertama, dan semoga saja kali terakhir. Rasanya benar-benar tidak enak, serasa diabaikan oleh seluruh dunia, terasingkan, kedinginan, dan sendirian.
Lebih parahnya, saat itu saya masih tinggal bersama mertua. Lengkap sudah dengan bumbu-bumbu rasa sungkan dan rasa tidak enak kepada mereka.
Ialah seorang lelaki pemancing yang ora oleh lawang gara-gara pulang mancing terlalu malam.
Cerita Ora Oleh Lawang
Semua ini dimulai pada saat Senin pagi, saya bangun agak kesiangan seperti biasa. Lanjut sarapan, sebagaimana rutinitas hari-hari sebelumnya, saya langsung ambil seperangkat alat mancing dan menuju spot mancing andalan setelah menitipkan putri saya ke neneknya.
Acara mancing itu cukup menyenangkan, dapat banyak ikan kecil seperti garithel dan anakan bader abang. Serta beberapa kali penampakan lele lokal yang ukurannya lumayan besar di sungai.
Sekitar pukul empat sore saya pulang terlebih dahulu. Mandi, dan mengambil alih mengurus kebutuhan putri kecil saya hingga maghrib.
Putri saya itu benar-benar mudah dalam pengurusan, dalam hal ini sejatinya saya sangat bersyukur. Ia memiliki pipi layaknya mangga ranum, tidur setelah isya dan bangun menjelang subuh.
Setelah ia tertidur, itu sekitar pukul 7 sore, saya lantas berangkat mancing lagi di spot yang sama. Keberangkatan kedua ini kiranya agak membikin ibunya si kecil kurang senang.
Untuk menghiburnya, saya janjikan akan pulang sebelum pukul 10 malam, dan membawa makanan yang dipesan olehnya.
Nahas, ketika mancing itu nyatanya cuaca tidak mendukung, hujan turun yang memaksa saya pulang sekitar pukul 10 lebih 30 menit malam.
Saya sudah was-was jangan-jangan ada hal buruk yang akan terjadi. Betul adanya, ketika mencoba membuka pintu garasi di samping kanan rumah, pintu itu tidak bergerak sama sekali. Waduh... batin saya.
Hingga saya menyimpulkan bahwa inilah keadaan ora oleh lawang, yang sebelum-belumnya sering dialami dan diceritakan oleh kawan-kawan mancing lainnya.
Ini menjadi kali pertama saya mengalaminya, pengalaman yang sungguh luar biasa sialan.
Saya terpaksa menahan dingin, asing, dan sendiri sejak pukul 11 malam hingga 4 pagi!
Hingga setelah azan subuh selesai, ibunya si kecil membuka pintu, mengatakan sesuatu yang membuat saya yang nyaris pingsan sangat terkejut: kenapa enggak masuk?
Saya menjelaskan bahwa makanan yang dipesan sudah saya belikan, saya juga menjelaskan bahwa hanya terlambat 30 menit dari perjanjian bukan kesalahan saya sepenuhnya.
Namun, ia justru lebih kebingungan, ini pintunya enggak dikunci.
Ha?
Jadi sejak tadi di luar? Ya Allah...
Gak dikunci?
Saya masih heran, lantas mengecek pintu dan benar adanya. Sebenarnya, saya bukannya ora oleh lawang, melainkan hanya pintunya agak macet karena terkena hujan. Buajingaaaannn...
Itu peringatan dari Gusti Allah kalau mancing cukup 1x sehari saja, katanya sambil terkekeh.
Saya pun benar-benar sudah mau pingsan, masuk kamar, ambil selimut, dan menuntaskan tidur yang terlambat sekitar 5-6 jam.
Jadi, sebenarnya saya belum mengalami kondisi ora oleh lawang secara langsung lantaran bojo yang sabar dan pengertian. Namun karena suatu hal, saya mendapat pengalaman tentang apa yang dirasakan kawan pemancing lainnya ketika ora oleh lawang.
Pesan moral: mancing secukupnya, misalnya 1x sehari itu sudah cukup. Jangan mancing terlalu sering apalagi kalau sudah berumah tangga. Bisa-bisa kamu juga mengalami ora oleh lawang tersebut!
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi