Mencatat omong kosong

Tidak ada yang benar-benar aku lakukan meski telah aku pikirkan segudang rencana untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik --dalam definisi masyarakat normal. Dan kalau ada yang aku lakukan, itu bukanlah sesuatu yang terlampau berguna, membuat blog misalnya. Membuat blog mancing adalah satu yang paling dangkal dan sederhana dari segudang yang tadi. Bisa jadi merupakan satu-satunya yang mungkin aku lakukan.

Gudang pikiranku penuh omong kosong. Mana mungkin aku pergi ke pulau langit untuk mengalahkan naga legenda untuk pulang sebagai pahlawan suatu negeri? Mana mungkin aku bertemu macan seukuran sapi yang keluar dari tembok kemudian memberi kesaktian untuk membunuh orang jahat hanya dengan menulis namanya di sebuah buku catatan? Atau, mana mungkin aku seorang presiden antah-berantah untuk mengubah tanaman berbiji satu (monokotil) menjadi berbiji dua seperti mangga?

Setelah aku pikirkan lebih lanjut bagaimana aku berpikir, nyaris semuanya hanyalah imajinasi yang jelas tidak ada di dunia fana ini. Atau mungkin memang ada, tetapi hanya orang-orang terpilih yang dapat menjangkaunya. Dan orang terpilih itu niscaya bukanlah aku.

Imajinasi, bagaimana pun, mampu mengusir kebosanan. Sedang rasa bosan, sering mucul dari hal-hal yang justru tampak wajar. Menjalani kehidupan begini-begini saja, misalnya.

Setelah semuanya, aku merasa perlu melakukan sedikit lebih banyak hal gila. Mencari hal gila untuk dilakukan tanpa memberi dampak buruk kepada diri sendiri, terlebih kepada orang lain, itu tidaklah gampang-gampang amat. Perlu memutar otak, memelintirnya, memeras sari-sari paling dalam darinya; kemudian menyuling untuk menjadikannya semacam arak paling murni.

Hingga pada akhirnya aku menenggak satu seloki berisi sulingan luhur paling murni itu pada sebuah malam yang kelam dalam ruangan sempit, gelap, dan pesing sendirian. Itu jugalah merupakan hal gila yang paling minim risikonya. Aku bisa bersenandung lagu-lagu Iwan Fals muda, menangis karena mengingat umurku yang sudah setua ini, dan seperti kata Daruz Armedian; tak bisa apapun kulakukan kecuali kesia-siaan.

Lagu-lagu sudah tidak lagi menarik. Lantas, aku akan menggantinya dengan puisi acak yang dengan sembrono antre untuk dibacakan dengan mata merah berkaca-kaca. Berlanjut dengan cerita-cerita aneh yang aku temukan di internet; juga dari banyak folder yang belum sempat kuhapus. Dari satu-dua cerita, sangat mungkin mengantarkan aku kembali ke masa lalu melalui sebuah jalur yang disebut proklamator itu sebagai jembatan keledai. Dan entah bagaimana, tidak terasa, subuh akan datang begitu saja.

Akhirnya, catatan ini pula salah satu hal nisbi dalam segudang yang tadi. Catatan yang dangkal dan sederhana. Yang hanya akan berarti sepuluh tahun lagi saat aku membacanya pada sebuah malam yang kelam dalam ruangan sempit, gelap, dan pesing sendirian.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi