Mencatat tawaran pinjaman uang
Pinjaman uang seolah oasis di tengah gurun kemelaratan. Nyatanya tidak lebih dari fatamorgana. Kau akan keluar dari sebuah jerat tali leher hanya untuk masuk ke jerat tali leher yang lain. Jerat yang lebih mencengkeram, besar, dan mustahil dilepas sendirian. Maka, kupasrahkan kemelaratan ini pada Allah.
Agaknya terlalu berlebihan mengatakan begitu. Namun, aku ingin kau tahu bahwa itulah yang dipikirkan oleh para penanggung utang umumnya. Kami --termasuk aku di dalamnya-- menggali lubang utang karena satu-dua alasan, yang sebagian besar akibat keputusan tolol dan bodoh, lantas merasa perlu mendapat pertolongan Allah --atau Tuhan dalam arti apa pun-- untuk membantu keluar dari lubang itu.
Kecukupan membuat kami lupa dengan-Nya, lain kemelaratan.
Rasanya, aku ingin masuk ke arena heksagon. Kondisi yang begini lembek dapat jadi samsak hidup yang empuk. Aku ingin dipukuli secara nyata. Dihajar habis-habisan bahwa ketololan dan kebodohan masa lalu mustahil diperbaiki hanya dengan menyesali. Pipi kena pukul, dagu kena hantam, selangkangan kena tendang. Serta sebuah bantingan ringan yang kemungkinan langsung mematahkan tulang leher. Setelah itu jasadku akan dibawa pulang, dikenang sebagai pahlawan, tidak, itu jelas berlebihan, setidaknya sebagai seorang manusia yang punya keberanian --atau kenekatan.
Pagi tadi aku menghubungi kenalan yang sudah ahli memutar uang. Dalam setiap putaran, dia mendapat semacam keuntungan. Dia sudah menarget pasar yang tepat di negara ini, yang miskinnya sudah merata. Menjadikannya sebagai salah satu dari segelintir yang kaya.
Pinjam tujuh juta, harus kembali dua belas juta dalam dua puluh empat bulan.
Mendengar hal tersebut, orang gila yang sudah tidak mandi sebulan pun akan mengerti kalau-kalau menerimanya menunjukkan kegilaan yang hakiki. Dan aku adalah orang gila hakiki itu. Sore ini kuterima tawaran jerat leher baru. Besok pagi akan kuserahkan surat sepeda motor mertua kepadanya.
Ngomong-ngomong, uang tujuh juta yang barusan kuterima sudah habis. Hampir semuanya aku gunakan menutup lubang pertama. Sisanya amblas di lubang kedua. Sedangkan lubang-lubang lain masih menganga begitu rupa.
Tidak ada bedanya. Besok kami masih bingung mau makan apa; dan tidur di mana saat mertua mengetahuinya.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi