Mencatat tempat bernaung
Catatan ini barangkali adalah pamungkas tentang keakuan. Aku tak akan membahas selain aku. Ini akan begitu pribadi, dan sialnya masih sulit kuterima. Kutulis catatan ini dengan hape kentang yang baterainya tinggal 12%. Menggunakan fitur berbagi koneksi internet dari orang yang kukenal tiga puluh dua menit yang lalu. Sekarang pukul 06.13, Rabu, 24 Juni, tahun keparat.
Orang baik yang menawari koneksi internet tersebut bernama Tanto. Yang kemudian belakangan kuketahui nama panjangnya Hartanto Ramelan. Kau mungkin berpikir ini takdir, begitu juga aku. Namanya mirip dengan sebuah cerita yang pernah kubaca dari blog arsip koran yang jelas-jelas bajakan lima tahun lalu.
Aku perlu membagi fokus antara menulis catatan, melanjutkan pembicaraan dengan Tanto agar dia tidak kunjung pergi, dan kompromi dengan kemelut sengkarut yang kualami. Itu tidak mudah. Aku dapat bertaruh denganmu bahwa kau tidak akan mampu melakukan keahlian ganda seperti ini. Bagaimana kalau taruhannya adalah seporsi sarapan? Jika aku menang, aku tak perlu menanggung kelaparan seperti kemarin. Bagaimana? Jika kau menang, ah... kau kan sudah sering menang dalam kehidupan, jangan serakah! Tentu tidak ada orang bodoh dan kurang kerjaan yang bersedia mengikuti taruhan semacam itu. Lupakan.
Ternyata, menulis tiga paragraf di atas membutuhkan waktu dua menit. Barangkali aku bisa menulis lebih cepat jika si berengsek Tanto menawariku kopi dan rokok, bukan malah terus mengajak bicara seperti ini. Dia bertanya apakah keadaanku baik-baik saja. Kujawab bahwa aku tidak pernah merasa sebaik ini sebelumnya. Kulirik ke kanan, dia tampak tidak percaya. Lalu dia bertanya lagi bahwa kalau baik-baik saja mengapa sejak subuh duduk di depan toko miliknya. Aku tak perlu berpikir untuk menjawabnya. Pertanyaan seperti itu terlalu mudah. Aku katakan bahwa aku menganggap seluruh dunia boleh diduduki, termasuk depan toko miliknya yang masih tutup.
"Ha?!" wajahnya tampak lebih tidak percaya. Aku tak yakin dia bertanya atau berseru.
Mungkin aku perlu mengatakannya lagi agar Tanto mendengar, atau setidaknya memahami. Suara kendaraan yang lewat sejak dulu memang mengganggu. Apalagi orang tolol yang memodifikasi knalpot dengan suara yang seolah hanya didengarkan sendiri olehnya. Berseliweran dengan gemuruh dengung yang tidak keren. Tidak ada orang tolol yang melebihi orang seperti itu.
"Harusnya dibetulkan dulu itu kalibrasi sistem bahan bakarnya, soalnya motor injeksi," kata Tanto yang matanya terus mengikuti sebuah motor bersuara keras. "Biar suaranya lebih enak didengar?"
Ha?! Aku mulai curiga kalau-kalau Tanto bukanlah manusia. Dia mungkin bisa membaca pikiranku. Setelah kupikir ulang, menanggapi knalpot motor berisik itu wajar, sebab memanglah baru saja lewat. Aku tahu dia hanya manusia. Manusia yang selain berengsek mungkin juga tolol.
"Aku punya motor dengan suara merdu, brong-ngebas," katanya akhirnya.
"Itu bagus."
Tidak, jelas itu tolol. Dan ketololan Tanto mustahil bisa diselamatkan kecuali mendapat hidayah langsung dari langit.
"Namanya Ratih?"
"Nama apa?"
"Motorku."
Oh, sudah. Bahkan hidayah dari langit pun mustahil bisa menyelamatkannya.
Cerita ini terlalu panjang. Aku sebenarnya ingin menulis catatan pamungkas tentang keakuan. Tetapi malah membahas hal lain yang tidak jelas. Sekarang sudah pukul 06.17. Bisa gawat kalau-kalau empunya koneksi internet keburu melakukan hal lain dan meninggalkanku.
"Kau buka toko pukul berapa?" tanyaku kepada Tanto.
"Sebenarnya setengah enam," jawabnya. Dia menunjuk ke arah timur, teronggok warung yang belum buka. "Itu buka sore. Kau bisa ke sana. Jika masih butuh internet, pakai saja wifi toko."
"Oh, maaf."
"Tidak apa-apa. Kupikir kau sibuk dengan urusan yang penting di hapemu."
Aku menuju ke warung itu setelah diberitahu kata sandi wifi toko, RATIHCINTAKU, besar semua. Ini orang yang agak aneh. Mengapa repot-repot berbagi koneksi internet jika memang ada wifi. Katanya, dia tidak kehilangan paket data, sebab yang dibagikan olehnya adalah koneksi dari wifi itu sendiri.
Warung ini tampak berantakan, dan kotor. Siapa pun yang punya mata akan lebih percaya kalau warung ini buka sore hari satu tahun yang lalu. Sepertinya jualan mi ayam. Kursinya panjang dan reot. Mejanya dicat biru yang sudah mengelupas. Tiang penyangga ada bekas saus. Di lantai ada sebuah kondom terinjak. Atap berlubang, empat genting hilang. Tanto sudah gila. Tidak ada warung mi ayam yang buka dalam kondisi begini mengenaskan.
Dari sini dapat kulihat Tanto mulai membuka tokonya. Dia jualan suku cadang motor. Beberapa bentar kusadari ternyata ada plang di atas toko bertuliskan "Ratih Motor".
Sekarang pukul 08.15. Sial. Aku ketiduran. Tanto sudah berada di depanku. Dia mengatakan bahwa nanti magrib akan ada acara selamatan. Itu kabar bagus, selain mendapat makanan di saat itu, juga mendapat berkat di saat setelahnya. Berkat yang bisa dimakan. Tentu saja. Dan yang lebih bagus lagi cukup untuk dua-tiga hari ke depan. Aku mengatakan terima kasih dan akan membantu mempersiapkan acara.
Tanto meminjamkan sarung yang agak bau pesing. Sesuatu yang jelas tidak akan kukatakan langsung di depannya. Dia juga memperbolehkan aku mengenakan kaus yang sekarang. Itu cukup normal, katanya.
Ketika acara selamatan dimulai. Keyakinanku bahwa Tanto tidak waras benar-benar bulat. Selamatan itu dimaksudkan untuk mensyukuri perceraiannya dengan Ratih, yang ternyata mantan istrinya. Selamatan rutin setiap enam bulan sekali selama delapan tahun terakhir. Dia merasa bersyukur bisa terbebas darinya. Katanya, mantan istrinya merupakan betina yang tidak memiliki kesabaran menanggung kemelaratan. Dia digondol juragan untuk dijadikan istri kelima.
"Kadang aku berdoa agar dia segera mati, karena aku masih mencintainya," katanya lagi.
Tanto, betapa tidak waras pun tetap memberikan koneksi internet gratis. Sesuatu yang bisa kupakai menulis catatan pamungkas tentang keakuan. Sekarang pukul 20.10, selamatan itu berjalan lancar, sedangkan belum ada catatan yang benar-benar kutulis. Sore tadi saat mengeluarkan kursi dengan Tanto, aku titipkan hape untuk diisi daya di sebelah kasir. Kali ini benar-benar, sungguh-sungguh, catatanku akan segera dimulai.
Cepat-cepat aku kembali ke warung yang memang tidak pernah buka. Tanto gila. Kumulai menulis catatan itu.
Catatan ini barangkali adalah pamungkas tentang keakuan. Aku tak akan membahas selain aku. Ini akan begitu pribadi, dan sialnya masih sulit kuterima. Kutulis catatan ini dengan hape kentang yang baterainya masih 92%. Menggunakan wifi dari toko orang yang kukenal pagi tadi. Sekarang pukul 21.45, Rabu, 24 Juni, tahun keparat.
Sayangnya, kepalaku berdenyut lagi, semakin parah. Sudah dua bulan sejak kutinggalkan rumah. Kata-kata ibuku yang bertanya bahwa kenapa aku masih di sini, masih terngiang sampai sekarang.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi