Mencatat truk menyeruduk palang pembatas

Sebuah sore, tiga puluh lima menit lagi menuju pukul lima, sebuah jembatan kecil di atas sungai yang menjadi jalur aliran lahar Gunung Kelud saat meletus, palang pembatas besi setinggi dua koma lima meter, sebuah truk canter bobrok yang catnya mengelupas di sana-sini menyeruduknya. Pelakunya adalah besi tambahan di bak truk yang membuatnya menjadi lebih tinggi dari seharusnya.

Seratus meter ke arah barat, duduk laki-laki dan perempuan di pinggir sungai sedang memancing. Di seberang, empat orang laki-laki berjejer, juga memancing. Semua serempak menengok ke arah timur. Suara benturan cukup keras. Aku adalah bagian dari barisan empat orang itu. Dua detik kemudian kualihkan pandangan ke pelampung. Umpan dimakan ikan.

Cukup lama sopir dan kernet berurusan dengan palang yang kini bentuknya melengkung. Arus kendaraan dari dua arah terpaksa putar balik. Tidak ada ruang tersisa di jembatan.

Lima belas menit berlalu tidak ada perubahan. Truk masih teronggok tepat di tengah jembatan. Tidak ada pula pemancing yang berinisiatif untuk mendekat dan melihat, atau sekadar bertanya apakah ada yang bisa dibantu.

Akhirnya sang pahlawan datang. Itulah seorang petani yang sedang merumput. Kebetulan yang aneh, dia membawa ponsel, suaranya keras memarahi sopir yang tampaknya belum genap dua puluh tahun itu. Juga kernet yang malah lebih muda. Sembari mengarahkan ponsel ke wajah mereka berdua. Aku curiga sedang merekam; atau melaporkan. Entah mana yang benar.

Lima menit kemudian tiga orang datang, dua motor. Mereka membawa kabel roll dan gerinda, semoga kau paham maksudku, itu bukanlah nama partai, yang kumaksud semacam alat yang punya bagian bulat-kasar berputar. Alat itu membutuhkan listrik agar bisa bekerja, sehingga kabel yang dibawa mereka ada gunanya.

Dipotonglah bagian palang yang masih tersangkut di sela bak dan kemudi truk lima menit kemudian. Mereka berhasil. Kemudian seseorang yang tampak lebih rapi datang, barangkali perangkat desa. Melihat-lihat kondisi truk dan palang di jembatan. Dia juga melihati sungai di bawahnya. "Lihat! Nila besar." Aku, tidak, kami tahu kalau dia sedang mencoba mengakrabi para pemancing. Tidak ada pemancing yang percaya dengan pemerintah, pun itu di tingkat desa. Sehingga dia hanya berteriak pada tunggak bekas rumput gajah yang sudah dibabat.

Merasa diabaikan, dia tunjukkan kuasanya yang bau pesing. Menyuruh sopir yang muda itu untuk mematikan rokoknya, lantas dia sulut rokok di bibirnya sendiri. Memerintahkan sopir segera memindahkan truk bobroknya untuk menyingkir agar jembatan itu bisa dilewati.

Hampir pukul lima sore, dia tampaknya bertanya tentang kronologi lengkap kepada orang yang merumput. Tiga orang dengan alat turut nimbrung. Itulah pemandangan yang secara aneh menunjukkan seolah-olah dia berada di atas manusia lain. Dia benarkan sabuk yang mengikat perut gendutnya, baju batik lengan panjang yang bisa kucium aroma dana desa dari jarak ini, dan sepatu hitam yang bikin silau.

Orang-orang dari dua arah kini bisa menyeberang setelah keberhasilan sosok itu memerintah truk untuk maju. Sebuah sepeda motor malah menepi, seorang anak turun, disusul ayah dan ibunya, melihat pemancing yang diam seperti patung. "Ayah, apakah mereka batu?" aku bisa mendengar anak itu bertanya. "Bukan, mereka pemancing ikan." Jawab ayahnya. "Apa bedanya?" tanya anaknya lagi. Sang ibu yang merasa perlu pulang untuk segera memasak makan malam mengajak anak sembrono itu naik motor.

Pukul lima lebih sepuluh menit. Di jembatan kini hanya tinggal motor sosok itu, motor tangki, plat merah. Dia mengarahkan tangan kanan agar orang yang merumput kembali merumput. Juga tiga orang yang datang agar kembali membawa alat-alat yang sempat dibawanya. Sementara itu, truk bobrok yang dari tadi menunggu entah apa, melipir begitu saja.

Sosok itu mengejar dan terjungkal di ujung jembatan. Kami mendengar beberapa umpatan jorok yang keluar dengan lancar. Suaranya lebih keras daripada benturan tatkala truk menyeruduk palang.

Orang yang mau melanjutkan merumput lari kecil kembali lagi. Bertanya ada apa sambil membantu tubuh gempal sosok itu berdiri. "Kejar truk itu, bodoh!" teriaknya yang masih nyaring.

Aku melirik pemancing di sebelahku, meski tak kutahu namanya, dia mengangguk. Ya, kami mencapai kesepakatan bahwa tidak ada kata-kata yang bisa dipercaya dari para pemimpin; setidaknya pemimpin yang pernah kami temui. Apalagi cerita pemancing yang berjarak seratus meter dari tempat kejadian.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi