Mencatat joran patah

Mancing sore ini ada kejadian ganjil yang aku merasa perlu mencatatnya. Pancingku dipinjam teman --sebutlah begitu sebab tidak kutahu namanya hingga sekarang. Dia menggunakan joran pancing karbon kering layaknya fiber solid (padat tanpa lubang). Hasilnya sebagaimana judul, joranku patah.

Dengan ingah-ingih yang khas, dia mendekat padaku. "Berapa harganya?" Kujawab apa adanya bahwa itu merupakan joran custom seharga empat ratus ribu. Seperti yang bisa ditebak, raut wajahnya pucat seketika.

Dia adalah seorang laki-laki berusia 47 tahun yang punya wajah bayi sehingga selalu kusapa dengan "mas". Menganggur. Dan tidak berpasangan. Keberangkatannya sore ini ke lokasi tidak membawa pancing karena sedang dipinjam kenalan. Aku membawa dua. Diambilnya salah satu. Daripada tidak digunakan, katanya. Melempar jauh. Tersangkut bambu rubuh. Gradak penuh. Suara patah.

Aku tidak kaget. Sebab, ini bukan kali pertama pancingku dipinjam teman lalu dipatahkan. Mematahkan pancing teman, agaknya mirip dengan meminjam buku. Hanya orang bodoh yang mau mengembalikannya, apalagi dalam kondisi semula. Agar suasana sore jadi tidak biasa-biasa saja, aku meminta pertanggungjawabannya.

Dia mengatakan bahwa akan bertanggung jawab meski sudah tahu harganya. Diucapkannya kalimat itu sebanyak tujuh kali. Aku jadi agak merasa berasalah. Kemudian menawarkan dua pilihan. Pertama, dia bawa pulang joran, menggantinya dengan setengah harga, dua ratus ribu. Kedua, dia bawa pulang joran, datangi bengkel pancing, minta montir pancing untuk memperbaiki, kembalikan seperti semula.

Sungguh sembrono. Dia malah bikin pilihan ketiga. Itu adalah aku yang bawa pulang joran, datangi bengkel pancing, minta montir memperbaiki, mengatakan kepadanya berapa ongkosnya. Alasannya cukup masuk akal, sebab dia tidak tahu mana bengkel pancing terdekat. Itu meyakinkan. Dia lantas merogoh dalam saku depan celana jeans, mungkin hampir sampai peler, mengeluarkan semuanya. "Kalau perlu, ini kubayar di muka." katanya. "Sungguh. Hanya ini yang kupunya sekarang." Kata-katanya yang terakhir membuatku mengingat adegan tokoh utama kartun Jepang yang naif. Aku merasa mual di lambung.

Dua lembar; satu warna biru, satunya hijau. Melihat uang di atas telapak tangannya; di depan wjahku, membuat aku tak mau kalah, kubikin pilihan keempat. Itu adalah aku bawa pulang joran, aku datangi bengkel pancing, minta montir memperbaiki, aku ambil uang yang biru, dan urusan kita selesai di sini.

Ada adu mulut yang penuh dengan kerendahan hati --atau kerendahan diri. Dia mengatakan untuk membawa semua dua lembar itu. Aku mengatakan tidak. Dia bersikeras dengan memegang tanganku, sehingga mual di lambungku makin menjadi. Aku tarik tanganku karena langsung terbayang seorang pemimpin suatu negeri dengan sekretaris pribadi. Dia bersikeras untuk membawa semuanya karena merasa sungguh tidak enak mematahkan joran teman yang belum lama dikenal. Aku ingin suasana sore jadi tidak biasa-biasa saja, tetapi tidak sampai begini. Akhirnya, aku jujur mengatakan bahwa sudah sangat terbiasa dengan joran patah saat dipinjam, dan itu sama sekali bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan seperti ini.

Berhubung sudah kukatakan. Jadi aku merasa tidak apa-apa aku teruskan. Lagi, bahwa saat teman-temanku mematahkan joran-joranku, atau teman-temanku meminjam joran-joranku lalu tidak pernah kembali; itu adalah hal biasa.

Dia mengatakan bahwa itu adalah pengalaman pertamanya. Sungguh. Aku mau mual di titik ini. Saat kutulis catatan ini, gambaran lain muncul. Seorang laki-laki dewasa dengan seorang laki-laki yang lebih dewasa, di sebuah sore yang remang, di pinggir sungai yang arusnya tenang. Bergumpal awan dan secuil bulan terpantul di airnya. Dilengkapi siluet dua laki-laki yang berdiri-berhadapan. Sempat memegang tangan. Salah satunya memaksa melepaskan. Laki-laki pertama dengan kepolosan yang di luar nalar, mengatakan kalimat yang terlampau melankolis, "Itu adalah pengalaman pertamaku".

Mari kita lanjutkan catatan ini. Aku barusan membersihkan muntahan setelah mengelap mulutku sebanyak tujuh kali dengan air mengalir, dan salah satunya menggunakan pasir.

Agar persoalan ini segera tuntas, serta agar pemancing lain tidak melihat kami seperti dua pasangan tidak waras, aku katakan bahwa dengan sungguh-sungguh mematahkan joran itu tidak apa-apa asalkan tidak merusak pertemanan. Sungguh aneh. Dia gila. Saat kukatakan itu, dia malah membungkuk. Aku langsung menutup pangkal paha dengan kedua tangan sambil mundur dua langkah.

Pikiranku berkecamuk. Antara takut dan ngeri. Ini jauh lebih seram daripada hantu-hantu penunggu sungai. Aku berdiri, naik ke atas motor, mengambil uang biru dan kepingan joran. Tenang saja, ucapku sebelum berlalu.

Di perjalanan, di tengah serangan membabi-buta samber mata, aku berpikir bahwa satu-satunya yang harus bertanggung jawab atas joranku patah dan kondisi yang memaksaku muntah adalah pemerintah. Tidak ada yang lain. Sebelum-sebelumnya, aku akan merelakan dengan kerelaan yang benar-benar seolah tidak terjadi apa-apa saat seorang teman mematahkan joran. Tidak pernah meminta kembalian.

Ini, memalukan.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi