Mancing saat hujan angin dahsyat
Sekarang di pinggir kali, di bawah jembatan, kita melihat betapa angin dan hujan dan petir mampu menghadirkan cuaca mencekam. Kita kedinginan dalam perlindungan semu mantel hujan. Satu-dua pohon di sebelah kiri-kanan mulai roboh. Tangan kita makin gemetar karena dingin ditambah bayangan kengerian terkena pohon ambruk.
Saat itu kita teringat seorang kenalan yang bercita-cita mati muda. Aih, barangkali ini kesempatan yang kelewat baik untuk mewujudkannya. Namun, ia justru mendekam di kamar dalam selimut hangat sambil menghitung pundi-pundi kekayaan bersama pasangannya setelah perut kenyang menyantap mi kuah hangat sepiring-berdua.
Jika masih diberi kesempatan hidup, kita jelas ingin bertemu dengannya, lantas bertanya dengan sopan di mana kuburan idealisme yang ia junjung setengah mati dulu. Itu pun kalau kita berhasil melewati hujan-badai yang tak berkesudahan di sini, dan hujan-badai kehidupan yang sama-sama mencekamnya.
Terlepas dari itu, kita mesti kembali ke realita. Konon katanya saat hujan ikan lebih lahap makan. Air sungai mulai naik dan keruh, dan ikan-ikan mungkin juga sedang mendekam di liang persembunyian. Mencari aman.
Lantas bagaimana sekarang? Tangan sudah menggigil mirip saat tetangga kita dulu sakaratul maut. Apakah kita perlu berkemas merapikan joran pancing dan buru-buru pulang? Atau, jongkok di sini sedikit lebih lama sambil mengumandangkan doa-doa keselamatan? Pilihan kedua agaknya lebih baik. Toh, kita jarang berada dalam situasi seperti ini kecuali saat bujang dulu. Baik, mendekam saja di sini, dan pulang setelah air naik sejengkal lebih tinggi. Eh, ngomong-ngomong, kita pulang ke mana?
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi