Alasan mengapa suami berbohong kepada istri
Sebelum mulai, saya harap tulisan kali ini tidak jatuh pada bias gender. Bukan pula afirmasi saya melanggengkan patriarkal. Setiap pasangan suami-istri memiliki kehidupan yang begitu kompleks, unik. Muskil disamakan satu dengan lainnya. Dan hanya berdasarkan bagaimana saya menjalani pernikahan selama hampir empat tahun ini, dengan sembrono saya menulis tulisan ini.
Suami yang notabene merupakan kepala keluarga, tak jarang sengaja menyampaikan kebohongan kepada pasangannya, sang istri. Misalnya, menggunakan rumus menghilangkan satu nol saat membeli alat pancing. Tegek yang seharusnya seharga 1.500.000 dibilang 150.000. Atau, menggunakan prinsip lebih baik minta maaf daripada minta izin.
Itu merupakan hal remeh, yang barangkali justru membuat kita tertawa setelah melakukannya.
Namun, ada beberapa kebohongan fatal yang berkaitan langsung dengan penghidupan dan keberlangsungan rumah tangga. Ini agaknya runyam, dan perlu hati-hati.
Sejauh yang saya tahu, dan pengetahuan saya tentang istri mungkin saja sangat sempit, soalnya saya masih hanya memiliki seorang istri saja, bukan seratus istri. Jadi, istri itu rasa-rasanya mengedepankan emosi.
Emosi bukan melulu marah, melainkan perasaan bahagia, sedih, bingung, dan sebagainya.
Sisi emosional ini yang dominan. Sialnya, emosi yang disampaikan oleh istri berpengaruh langsung pada pandangan tentang kehidupan di mata suami.
Anda akan merasakannya saat sudah menikah. Misalnya, kondisi yang terhimpit dan terhina, ditambah dengan emosi marah dari istri, akan membuat pandangan kehidupan di mata suami serasa langit runtuh. Lain cerita jika pada kondisi yang sama, emosi istri menunjukkan kesabaran, penerimaan, dan penyemangat. Langit runtuh tujuh kali pun akan tetap mampu dihadapi suami sebanyak tujuh kali lagi.
Kami hanya takut dengan emosi yang istri timbulkan jika menyampaikan kebenaran
Andaikan, kalian, para istri. Mampu menerima kebenaran dengan sebaik-baik dan setulus-tulusnya, niscaya tidak perlu lagi kami, para suami, memberikan kebohongan.
Kami mengatakan tentang susu dan popok anak habis, kalian langsung cemberut seharian. Tanpa memikirkan dampak emosi yang kalian tunjukkan.
Kami mengatakan tentang harga pancing 1.500.000, kalian malah cemberut seminggu penuh. Bagaimana bisa perasaan didiamkan seminggu membuat kami bersemangat?
Kami mengatakan tentang utang 150.000 di teman, kalian langsung murka banting piring dan panci, bagaimana mampu kami ungkapkan bahwa utang kami yang sebenarnya adalah 150.000.000?
Kami mengatakan tentang sepinya pekerjaan belakangan ini, kalian langsung mogok makan dua hari. Bagaimana jika kami mengatakan bahwa pekerjaan benar-benar kosong bahkan sejak tiga bulan yang lalu? Bisa-bisa kalian mati kelaparan.
Kami mengatakan tentang bangun kesiangan, kalian abai bahwa sebenarnya kami tidak tidur semalaman. Kalian benar-benar tidak tahu bahwa saat kalian tidur, ada jidat yang kami bentur-benturkan ke sajadah. Ada tetes-tetes aneh yang jatuh entah dari mana ke mana. Ada serangkaian sengkarut-kusut yang berada di dalam batok kepala.
Jadi, kami terpaksa beranggapan bahwa kalian mustahil bisa kuat menerima kenyataan lantaran terlampau manja bukan kepalang. Kebohongan, atau pemanis fana kenyataan, yang kami tunjukkan adalah sekadar bentuk kasih sayang. Kasih sayang kepada kalian yang betapa lemahnya itu; kasih sayang pula pada diri kami sendiri agar tidak patah ini punggung karena sikap kalian setelah mengetahui kenyataan.
Kalian hanya perlu tahu keadaan baik-baik saja. Segala kembang-api-kekacauan yang jauh lebih raksasa, biar kami telan sendiri terkubur dalam sedalam-dalamnya.
Kebohongan mustahil bisa ditutupi selamanya
Sayangnya, sebagai seorang laki-laki dewasa yang sudah menjadi suami, kami tahu betul bahwa kebohongan tidaklah bisa ditutupi selamanya. Akan tercium-terendus bau-bau memuakkan yang kian hari kian menyengat.
Dan sebelum kalian meledakkan emosi yang luar biasa mengerikan itu, kami akan siap dengan segala-galanya hal buruk; termasuk yang paling buruk.
Dan kalian hanya perlu menganggap diri kalianlah yang paling tersakiti dan menderita. Tak perlu mengurai benang kusut yang mencoba diperbaiki suami saban tengah malam sendirian di waktu-waktu kalian tertidur.
Dan sesungguhnya pundak suami-suami akan mampu menerima semuanya itu. Setimpal dengan tanggung jawab di dunia dan akhirat.
Dan kalian kelak boleh langsung masuk ke surga melalui jalur yang nyaman. Sedangkan suami kalian akan tinggal, mampir sebentar di neraka untuk pertanggungjawaban.
Dan kalian akan menanti suami kalian di surga sambil duduk di tepi sungai anggur. Sesekali mengambil secawan-dua anggur dari sana, meminumnya di bawah pohon apel emas, dan memilih beberapa perhiasan emas yang dihiasi batu permata berwarna hijau zamrud untuk dipakai di hari itu.
Sementara di sisi yang lain, kepala suami kalian tengah hancur ribuan kali dan tumbuh lagi ribuan kali pula. Mendapat pukulan palu gada malaikat yang tiada habisnya. Ringkih jerit dan sakit itu menyebar di semua penjuru, mendatangkan gada lain yang lebih hebat setiap waktu.
Tidak semua istri itu sama
Sementara ini, dan semoga seterusnya, saya masih hanya mencoba satu orang istri. Satu saja. Ini agaknya lucu bagi sebagian orang. Jika saya memiliki setidaknya seratus istri, barangkali tulisan ini akan sedikit berubah.
Berdasarkan satu istri itu, alasan mengapa suami berbohong kepada istinya adalah, yang dominan karena kalian para istri terlalu lembek. Tidak mampu menerima kenyataan yang sebenarnya. Terlampau mengedepankan emosi negatif yang justru memperburuk keadaan penghidupan rumah tangga.
Lantas, Anda sebagai pembaca menyangkal, istri saya tidak seperti itu. Saya perlu jawab, ya, itu istri Anda yang jelas belum pernah saya coba nikahi. Kalau pun Anda bersedia memberi kesempatan, bolehlah kita bicarakan dengan baik-baik agar tulisan ini semakin mengarah ke objektivitas.
Gacekane!
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi