Saat kamu butuh bantuan, namun sudah tidak ada lagi yang mau membantu

صِرَاطِ اللّٰهِ الَّذِيْ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ اَلَآ اِلَى اللّٰهِ تَصِيْرُ الْاُمُوْرُࣖ ۝٥٣

(yaitu) jalan Allah yang milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ketahuilah (bahwa) kepada Allahlah segala urusan kembali!
Asy-Syura (53)

Kabar buruk, saya sekarang sedang berada dalam kondisi dhorurot yang begitu membutuhkan bantuan. Rasanya menghadapi satu per satu penolakan dari orang terdekat membuat mental saya runtuh. Namun, saya kembali teringat, bahwa memberi bantuan kepada orang yang berkali-kali melakukan kesalahan yang sama itu tidaklah logis.

Berada di tengah hujan-angin-badai-petir-kehidupan-sendirian seperti ini tidaklah baik-baik saja. Saya mesti menguatkan mental, menjaga kewarasan.

Tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari, yang konon diungkapkan Raja Salomo bin Daud. Jadi, barangkali kondisi yang sedang saya hadapi juga dihadapi oleh ribuan orang sebelum-dan-sesudah saya kelak.

Kemarin setelah mancing di pinggir kali tengah sawah saat hujan badai sendirian, saya iseng membuka Al-Qur'an. Secara acak dan aneh menemukan ayat terakhir Asy-Syura yang menyatakan bahwa satu-satunya muara kembalinya segala urusan hanyalah kepada Allah.

Saya pikir ini sudah sampai pada batas maksimal saya. Punggung saya lurus tetapi bengkok, tangan saya kuat tetapi tak berdaya, hati saya di dalam dada tetapi penuh luka, pikiran saya masih waras tetapi penuh sengkarut. Saya tidak akan memohon pertolongan dari kerabat dan saudara jika kondisi ini masih mampu saya kendalikan. Seperti para maling yang tidak akan mencuri jika kebutuhannya tercukupi, kecuali anggota parlemen.

Sekitar tujuh tahun yang lalu (ternyata sudah lama, ya), saya pernah menulis tentang kutipan, usahaku wis tekan pasrah. Saat itu lagi booming buku berjudul Nanti Kita Sambat tentang Hari Ini terbitan Mojok.

Saya menggunakan kutipan itu karena merasa menjadi satu-satunya manusia di muka bumi ini yang memiliki hidup paling sulit karena persoalan asmara. Mengunggah ulang kutipan itu di Twitter, berharap masalah asmara yang lebih parah dari pengguna lain menyadarkan bahwa saya tidak sendiri.

Sialan betul, sekarang di 2026 malah persoalan asmara adalah satu hal yang begitu-teramat sepele. Saya menyadari dulu belum membuka new-level-kehidupan yang tingkatnya di atas Nightmare.

Semoga saya mampu melewati hantaman bertubi-tubi hujan-angin-badai-petir-kehidupan-sendirian ini, saya akan tetap berbuat baik dan menolong mereka yang membutuhkan. Betapa mendapat penolakan setelah meminta bantuan benar-benar menyakitkan. Semoga, semoga kehendak Allah sejalan dengan apa yang kita harapkan.

Saya memiliki firasat ini adalah titik paling rendah yang akan membuat saya bertolak dan bertumbuh. Terima kasih untuk kalian yang dulu pernah menolong. Saya tidak akan melupakan kebaikan-kebaikan yang tak ternilai itu.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi