Mencatat anak usil ingin mengetik padahal Chromebook sedang dipakai mengetik
Batok kepala SupraX 125R injeksi tahun 2009 bergetar begitu rupa saat mengantarku melewati gang sempit namun panjang yang tidak kunjung diaspal menuju suatu tempat yang sepertinya ada harapan. Buah dada montok yang tampak begitu kenyal dalam balutan kaus kuning ketat bergetar naik-turun secara membabi buta dari lawan arah. Itu sekilas penghiburan tiga detik sebelum mata dipaksa kembali fokus pada jalan keparat yang sejak dulu begitu-begitu saja. Di tengah gang, sebuah C200 hitam, barangkali tahun 2014 teronggok diam dikerumuni orang lantaran bumper depan penyok terkena sesuatu. Empat meter di belakangnya menganga lubang dengan batu makadam mencuat.
Kira-kira sekarang antara pukul sepuluh sampai sebelas siang. Entah kenapa terasa dingin belaka. Udara bercampur debu mengenai lengan dan dengkul. Jari kakiku di atas sandal jepit Mely hijau kaku. Ah..., ini bisa jadi diakibatkan sepanjang malam aku belum tidur. Sudah, tidak apa-apa. Tinggal bersabar dua kilometer lagi di atas gang berengsek ini semuanya akan selesai. Semoga kedipan di fuel meter sejak tadi tidak berubah menjadi petaka yang lebih mematikan.
Azan terdengar, ternyata sudah lebih dari pukul sebelas. Tebakanku kali ini meleset. Seharusnya tidak ada tebakanku yang meleset. Kurasa gudang penyimpanan meleset milikku sudah habis pada tebak-tebakan kehidupan akan sesuatu yang memberiku harapan. Namun yang ditunjukkan oleh kenyataan justru kekecewaan. Sebuah perempatan lagi tebakanku tidak akan meleset. Di sana ada sebuah rumah --rumah mertua. Dan di rumah tersebut, terdapat sebuah harapan yang sudah kunantikan semenjak tujuh hari lalu.
Pikiranku sekarang sedang membayangkan betapa lucu seorang anak perempuan berusia dua setengah tahun yang dengan kagetnya mengetahui ayahnya datang. Dia pasti akan berlari sekonyong-konyong hampir terjungkal untuk mendekat. Kedua tangannya sudah terbuka siap untuk mendekap. Selama itu dia akan terus mengatakan dengan suara paling kurindukan itu, "Ayah... Ayah... Ayah....", lantas aku menyambut dengan pelukan yang luar biasa. Seketika kedinginan berganti menjadi musim semi, warna orange, daun randu berguguran dan kitiran meranti berjatuhan. Waktu akan berhenti di sana. Sementara itu, si betina tua akan melihat dari kejauhan bagaimana momen luar biasa yang hanya dia bayangkan secepat itu dirasakan oleh anaknya.
Kita akan bergandengan tangan menuju emperan. Duduk di sana makan jeruk sambil menertawakan ketika sari buahnya muncrat ke baju putihmu. Wajah kita menengok bersamaan melihat di kejauhan sana, si betina tua tampak berang, dan kita akan lebih tertawa lagi. Kita memang gemar mengusilinya. Sebab, sesuatu yang begitu sederhana cukup untuk membuatnya murka. Selanjutnya, dengan sengaja dan ketawa-ketiwi kita melepeh ampas jeruk, membuangnya ke halaman yang baru saja disapu olehnya. Berkumpul dengan kulit jeruk yang sudah berceceran di sana.
Si betina tua mendekat. Kita berlari menjauh. "Awas ada singa," kataku kemudian. Kau akan mengikuti lariku sembari berteriak, "Ayah aku takut singa! Ayah aku takut singa!" Kau sering mengulang kata --dan kalimat-- beberapa kali. Dengan kepolosan yang serupa purnama itu, sudah mampu membuatku melupakan setiap kekecewaan dari buah dada tiga detik, gang panjang rusak sialan, debu yang sembrono masuk mata, serangkaian panjang melesetnya tebakan.
Cahaya sore berwujud pedang raksasa mengenai tubuh abu-abu SupraX yang sedang terdiam menatap kebersamaan kita. Menyeret bayangan panjang ke arah timur samar-samar. Bayangan itu memenuhi pikiranku dalam perjalanan yang terasa begitu lama. Cukup satu perempatan lagi! Ayolah mesin, perjuanganmu tanpa henti sejak kemarin tak akan sia-sia!
Sebelum melanjutkan catatan ini, aku mesti terus terang kepadamu. Anakku yang menjadi salah satu tokoh di sini, lari kecil dari dalam rumah sambil berteriak menuju arahku, "Ayah aku mau mengetik! Ayah aku mau mengetik!"
"Aku mau duduk situ," katanya setelah sampai.
Enggan menunggu persetujuanku, dia langsung meloncat ke pangkuan. Dua tangannya diletakkan di atas papan tik Chromebook yang tiga huruf sudah hilang. Dia lantas mulai mengetik. Membuyarkan lamunanku akan alur cerita sekaligus di waktu sama memperjelas cerita yang sesungguhnya.
Pojok kanan bawah layar menunjukkan angka 17.12. Anak perempuan dua setengah tahun ini sudah mandi. Sekarang waktunya melanjutkan cerita yang lebih nyata daripada apa pun. Jadi, perlu kututup catatan ini dengan begini saja. Harap maklum!
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi