Ibu adalah perpustakaan pertama yang dilupakan bangsa ini

Ibu adalah perpustakaan pertama yang dilupakan bangsa ini

Ibu adalah sosok yang paling dekat dengan anak. Sosoknya biasa saja, sebagaimana malaikat pada umumnya. Itulah kenapa Virgiawan Listanto, Melly Goeslaw, Aunur Rofiq Lil Firdaus, dan deretan penyanyi lain mengabadikannya dalam lagu. Juga lebih banyak penyair dalam puisi mereka, juga para penulis dalam buku mereka.

Tetapi, mari lupakan semua keagungan perempuan sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang memang sudah kita sadari itu. Keagungan yang tak terbantahkan sejak dulu sampai kapan pun. Mari masuk ke ranah domestik rumah tangga keluarga yang –kalau kau juga percaya– akan ada begitu banyak persoalan keliru yang kadung terpatri dalam pikiran masyarakat kita. Itu adalah persoalan literasi.


Anak lahir dari perpustakaan pertama dunia

Jika literasi adalah mobil balap, maka perpustakaan tidak lain adalah penggeraknya. Anak-anak kita di rumah yang lucunya minta ampun itu telah memiliki semua yang dibutuhkan untuk menjadi mobil balap. Mereka sejatinya tidak perlu menunggu hingga dewasa untuk dengan sadar mendatangi perpustakaan daerah. Sebab, perpustakaan itu sudah ada, dan sialnya begitu dekat –teramat dekat. Anak-anak kita di rumah yang lucunya minta ampun itu tidak lain lahir dari perpustakaan pertama yang melupakan dirinya sebagai penggerak literasi anak di rumah. Lebih jauh, penggerak literasi sebesar bangsa Indonesia.

Kau boleh mengabaikan data indeks kegemaran membaca masyarakat kita turun dari 72,44 pada 2024 menjadi 54,80 pada 2025 menurut survei Perpustakaan Nasional yang diolah Badan Pusat Statistik (BPS). Tetapi, kau perlu percaya dengan memberi literasi yang layak di ranah domestik paling privat dapat memberi dampak nasional yang luar biasa. Itulah mengapa para ‘perpustakaan pertama’ harus menyadari perannya sebagai penggerak literasi yang di pundaknya terdapat beban sebesar Semeru.

Ibu adalah penggerak itu. Sosok pendidik pertama dan paling sering berinteraksi dengan anak pada masa pembentukan kebiasaan di usia emas 0 sampai 5 tahun (golden age).

Golden age perkembangan anak merupakan fase penting di mana fondasi karakter dan pola kebiasaan hidup mulai terbentuk. Dalam rentang usia sensitif ini, ibu memegang peran sebagai pendidik pertama dan utama, kita boleh menyebutnya sebagai madrasatul ula, yang berinteraksi paling intensif dengan anak setiap harinya.

Melalui pembiasaan, keteladanan, serta pengasuhan yang penuh kasih, sosok ibu menginternalisasikan nilai-nilai moral dan kebaikan ke dalam benak anak secara berkelanjutan.

Perspektif tersebut beririsan erat dengan pandangan Islam berkemajuan yang menempatkan perempuan tidak sebatas subjek domestik, melainkan agen perubahan dan penggerak peradaban.


Beban Semeru di pundak yang rapuh

Namun, aku dan kau juga perlu membuka mata. Menyematkan predikat mahapenting sebagai perpustakaan pertama ke pundak rapuh seorang ibu sangat mungkin jatuh pada romantisisasi yang melanggengkan ketidakadilan. Kita begitu mudah menyanjung peran ibu sebagai penggerak peradaban, tetapi alpa melihat betapa timpangnya ekosistem yang menopangnya.

Bagaimana mungkin sebuah perpustakaan bisa berfungsi menyalakan lentera pengetahuan jika sosoknya sendiri dibiarkan kosong terhadap bahan bacaan yang layak?

Di sisi lain dalam ranah domestik Indonesia, ibu kerap terjebak dalam beban ganda yang melelahkan –dan mengkhawatirkan. Waktu dan energinya habis tergerus oleh rutinitas pengurusan rumah tangga yang seolah tak pernah usai. Urusan yang sama-sama kita pahami sebagai dapur-dan-kasur. Dan dalam kondisi fisik dan mental yang terkuras tersebut, menuntut sosok malaikat ini untuk secara konstan menghadirkan stimulasi literasi yang berkualitas bagi anak. Bukankah itu tidak beda dengan ketidakadilan struktural? Literasi di tingkat keluarga lantas berubah menjadi beban moral yang menghakimi.

Sayangnya, kondisi beban ganda itu makin diperparah oleh minimnya akses literasi yang inklusif bagi banyak perempuan di ranah privat. Bahkan di banyak daerah, bacaan berkualitas masih menjadi barang mewah yang tergantung di langit. Hanya sedikit di antaranya berada di internet yang kini bisa diakses gratis.

Saat teknologi digital masuk ke rumah tangga tanpa adanya pendampingan literasi media yang memadai, perpustakaan pertama ini justru rentan terpapar serbuan racun disinformasi, godaan konsumerisme digital, hingga budaya doomscrolling yang justru mengikis interaksi luhur antara ibu dan anak.

Akhirnya, masyarakat dan negara tidak bisa terus-menerus menuntut ibu untuk mencetak generasi unggul berwawasan luas, sementara di saat yang sama membiarkannya berjuang sendirian tanpa daya. Ironis! Kita telah membiarkan sang penggerak literasi bertarung di medan perang tanpa senjata, lalu heran mengapa angka indeks membaca bangsa ini tak kunjung melesat tinggi.


Menghidupkan kembali penggerak peradaban dari meja makan

Setelah semuanya, menyelamatkan perpustakaan pertama yang luar biasa ini mustahil dilakukan dengan sekadar membebankan seluruh tanggung jawab literasi kepada ibu seorang diri. Membangun ekosistem literasi berbasis keluarga membutuhkan langkah-langkah konkret dan realistis, dan juga saling menopang di ranah privat (maupun publik).

Pertama, literasi keluarga harus menjadi kerja kolektif, sama sekali bukan tugas tunggal. Ayah, sosok yang digambarkan maskulin ini, tidak boleh hadir sebatas pencari nafkah yang lepas tangan dari urusan tumbuh-kembang buah hati.

Sinergi antara ayah dan ibu dalam berbagi peran domestik mutlak dibutuhkan. Sinergi ini mampu memberi ruang bernapas bagi ibu. Ketika mencapai titik di mana beban fisik rumah tangga terbagi secara adil, ibu memiliki ruang dan energi mental yang cukup untuk membaca, belajar, dan berinteraksi secara berkualitas bersama anak.

Kedua, mendekatkan akses bahan bacaan ke ruang-ruang hidup perempuan. Jika ibu sulit mendatangi perpustakaan daerah karena keterbatasan waktu dan mobilitas, maka perpustakaanlah yang harus menghampiri mereka. Lain tidak.

Penguatan literasi perempuan sesungguhnya tidak perlu dimulai dari nol. 'Aisyiyah sendiri telah memiliki 10.721 PAUD yang tersebar di 34 provinsi, ditambah jaringan pengajian ranting dan cabang yang menjangkau hampir setiap kampung. Titik-titik ini bisa disulap menjadi pojok baca ibu-dan-anak tanpa perlu membangun apa pun dari awal. Cukup menambahkan rak buku sederhana dan jadwal baca bersama di sela kegiatan yang sudah rutin berjalan. Mengisi perpustakaan pertama, ternyata, bisa dimulai dari perpustakaan kedua yang sudah ada dalam majelis.

Ketiga, pemberdayaan literasi digital yang terarah. Di era serba digital, memberikan pendampingan literasi media bagi para ibu adalah menghindari pagar makan tanaman. Ibu perlu memperoleh bekal yang benar-benar matang. Itulah kemampuan memilah informasi serta memanfaatkan media sebagai sarana belajar mengasuh anak (parenting).

Aku dan kau yang masih percaya dengan ungkapan ibu takut anaknya kenapa-kenapa, ayah takut anaknya tidak bisa apa-apa perlu banyak-banyak istighfar. Membagi peran dengan sinergi kelembutan sudah mampu memecah penghalang itu.

Dan pada akhirnya, dan paling awal, kita perlu menghadirkan cermin benggala raksasa untuk berkaca. Apakah perpustakaan pertama di ranah paling dekat dengan buah hati sudah terisi? Apakah perpustakaan pertama itu sudah menyadari di pundaknya ada Semeru?


Artikel di atas sempat diikutkan "Lomba Menulis Artikel Milad ke-100 Tahun Suara Aisyiyah" yang berlangsung 7 September - 5 Oktober 2026; dan keluar sebagai olok-olok.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi