Pendamn! Ruang raung dalam diam

Cerita ini merupakan kebebalan yang berulang. Sebuah tamparan, aih, bukan, mungkin adalah pecutan yang keras dan penuh amarah, lantas meninggalkan luka terbuka dengan darah.

Selesai satu pecutan, disusul pecutan kedua, ketiga, keempat, dan ke-sekian-ratus di tempat yang sama. Membuat luka yang jelas masih menganga semakin dalam karenanya.

Pada saat yang begitu jahanam itu, kita tidak lagi bisa berteriak. Tiada lagi tempat meraung. Hanya memendam. Hanya pendamn!!!

Disaksikan hujan yang belum reda sejak siang tadi, kita masih duduk di emperan rumah mertua. Menyadari bahwa segala sumber pecutan itu berasal dari tindakan kita semata.

Rasanya ingin kembali ke masa lalu, memperbaiki sesuatu yang salah, dan menghindari lubang dengan cara apa pun.

Namun, tentu penyesalan yang berlebihan hanya akan membuat kita jalan di tempat. Tidak bergerak. Waktu mustahil menunggu.

Kita mengharapkan semua kesalahan sebelumnya tidak pernah terjadi, kemudian sekarang keadaan menjadi lebih baik, serta tetap berbuat baik untuk menebar lebih banyak manfaat untuk sesama.

Saya merasa cukup paham dengan apa itu hampa. Kondisi yang begini, saat tidak lagi mendapat gairah dalam hidup. Putus asa kalau mati hanya masuk neraka.

Dan sialnya, mungkin akan kekal di dalamnya.

Lagian sebelum itu, saya khawatir kalau tiba-tiba mati tidak akan ada yang mensalati. Meninggalkan beban luar biasa berat ke anak yang tidak tahu apa-apa.

Sial benar. Sudah berada di ujung tanduk. Tanda-tanda datangnya perubahan ke arah lebih baik belum juga nongol batang hidungnya.

Narasi di atas hanyalah awalan agar saya sedikit bisa bernapas. Sebenarnya, saya tidak pernah benar-benar putus asa dalam hidup, pun serumit apa sengkarut yang sekarang tengah saya hadapi.

Sebab, entah mengapa meski dihadapkan dengan keadaan menganggur, banyak utang, dianggap tidak berguna, hanya menjadi beban, dan kebanyakan orang akan lebih berbahagia jika saya tidak ada. Saya tetap bisa ingah-ingih senyum-senyum sendiri dengan santai.

Barangkali ini tanda-tanda akan gila. Tetapi, saya berpikir lain, ada sebuah keyakinan yang aneh bahwa hidup di dunia hanya sementara. Semuanya akan tetap baik-baik saja jika kita ikhlas dan ridha dengan segala macam getir takdir.

Allah akan bertanggung jawab. Sepenggal kalimat yang sempat saya dengar dari tutur kiai negeri ini, kalimat yang betul-betul saya tunggu perwujudannya.

Anda hanya akan bosan jika saya menulis dengan rinci bagaimana cobaan yang tengah saya hadapi ini. Dan, itu tidak akan berguna bagi Anda sama sekali.

Toh, setiap orang punya standardisasi tingkat menerima cobaan, bukan?

Juga, saya tidak akan bercerita panjang lebar. Anda harus memaksa saya bercerita jika benar-benar ingin mengetahui detailnya, misalnya dengan sebotol sesuatu itu di tempat tertutup yang hening dan penuh hantu.

Anda juga pernah mengalaminya, masalah yang tampak begitu besar. Misalnya, Anda sedang sekolah di tingkat SMA, mendapati pujaan hati Anda menaruh hatinya ke orang lain. Itu masalah yang mungkin, saat itu, Anda anggap besar.

Padahal, beberapa tahun kemudian Anda akan menemukan masalah yang jauh lebih raksasa. Lantas, menganggap masalah pujaan hati Anda sewaktu SMA merupakan persoalan sepele.

Dalam matematika, sengkarut yang memiliki penyelesaian bukanlah masalah, tetapi persoalan. Masalah adalah sengkarut yang tidak memiliki penyelesaian, jalan buntu.

Dan, yang sedang saya hadapi adalah sepenuhnya masalah sejati. Tidak ada penyelesaian kecuali keajaiban langsung dari Allah SWT. Jauh lebih rumit daripada persoalan pujaan hati Anda.

Jadi sudah jelas, satu-satunya yang saya tunggu adalah jawaban-Mu atas doa-doa hamba, ya Allah!

Jawaban yang jelas, terang, dan lembut.

Jawaban yang dapat menyelesaikan masalah dunia-akhirat. Engkau merupakan Tuhan semesta alam. Tiada sesuatu pun yang setara dengan Engkau. Jika bukan kepada-Mu, kepada siapa lagi hamba memohon?

Tentu, Engkau akan bertanggung jawab. Engkau tidak membutuhkan hamba, namun hamba begitu sepenuhnya membutuhkan Engkau. Dalam setiap tarikan napas, dalam setiap embusan napas, dalam setiap kelapangan dan kesempitan.

Hantu-hantu dan setan-setan datang silih berganti. Satu per satu kopi hitam di gelas habis tak tersisa. Ratusan kali baterai HP habis untuk menulis puji-pujian untuk Engkau.

Sudah tak terhitung sujud nikmat untuk membisikkan doa-doa berulang kepada Engkau, wahai Dzat Yang Maha Mendengar lagi tidak lupa.

Engkau mampu mengubah gunung batu menjadi emas. Membuat lautan luas menjadi kering. Atau jika mau, menggelar kiamat saat ini juga.

Engkau adalah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, termasuk hidup-mati hamba-hamba-Mu.

Mengubah hidup linglung seseorang bukanlah sesuatu yang sulit sama sekali bagi-Mu. Maka, ubahlah hidup hamba-Mu ini.

Engkau adalah Yang Maha Kaya lagi Maha Memberi Kekayaan, Engkau adalah Yang Maha Besar, Engkau pula-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Memberi Pengampunan.

Maka, ampunilah hamba-Mu ini.

Untuk ke sekian kalinya, hamba memohon kepada Engkau, jangan matikan hamba dalam keadaan berutang.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi