Ada orang-orang hebat di sekitar kita
Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaran dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput.
Kita perlu memulai catatan ini dengan kutian Pramoedya dalam Bumi Manusia tersebut.
Entah mengapa, saya tiba-tiba menyadari ada begitu banyak orang luar biasa. Saya kagum, jujur saja, melihat mereka mengabdikan hidupnya, dan memanfaatkan waktunya sebaik mungkin demi sesuatu yang mereka impikan.
Waktu, aih, sesuatu yang tidak akan pernah kembali itu, berhasil diisi dengan sesuatu yang bermanfaat. Hebat sekali.
Tadi pagi, saya melihat seorang bapak mendorong gerobak, dan seorang anak kecil berada di dalamnya, lekat sekali dengan tumpukan sampah. Mereka pelan-pelan saja melewati pasar, menunggu lampu jalan berwarna hijau, lalu mendorong gerobak sekuat tenaga agar motor-motor di belakangnya tidak buru-buru membunyikan klakson.
Di sela waktu yang terasa berhenti itu, saya mengikuti mereka di belakang. Melihatnya kemudian menepi di bahu jalan. Si bapak memberikan air dari botol yang tampak lusuh saja, sang anak menerimanya dengan senyuman, dan anehnya, si bapak membalas senyuman itu.
Saya berharap catatan ini tidak cenderung ke-aku-an, hanya saja, sulit.
Saya langsung membandingkan dengan kehidupan saya, yang konon menurut saya sendiri begitu penuh sengkarut. Padahal, saya masih bisa naik motor, memiliki keluarga yang baik, dan sebuah serangkaian panjang doa ibu saban malam sebagai azimat sakral.
Cukup lama mereka menepi, sampai kemudian melanjutkan perjalanan. Si anak yang sekira berusia sekolah dasar itu sesekali mengintip keadaan sekitar dari dalam gerobak. Sebentar saja, sepasang mata yang lain muncul, semburat kelelahan dan keletihan, bercampur dengan legam babak-belur dihajar tumpukan sampah. Anak yang lebih kecil, sekira usia taman kanak-kanak.
Saya benar-benar tidak kuat membendungnya. Pecah sudah, sebuah isak, tanpa suara.
Ya Allah...
Akhirnya melipir, mencari warung kopi terdekat dan meresapi bagaimana kehidupan ketiga orang itu berjalan. Semoga Allah memberikan secuil kekayaannya kepada kalian.
Saya di sana sampai siang. Melihat di HP bahwa ada begitu banyak video yang memposisikan polisi sebagai pihak yang menyengsarakan. Ada juga para kiai yang tampak gagah dan berwibawa turun dari mobil besarnya. Tak ketinggalan para pejabat yang entah apa jabatannya sedang merayakan ulang tahun putrinya di sebuah hotel, cukup gemerlap, hingga puncak acara pemberian hadiah mobil yang sama-sama gemerlapnya, sebuah kendaraan yang sama sekali tidak cocok untuk usianya.
Sore itu saya pulang, di perjalanan menjumpai dua orang laki-laki sedang adu mulut di pinggir aspal. Usut punya usut, seorang laki-laki dari arah utara ngebut, menyerempet laki-laki lain yang hendak menyeberang jalan.
Sedangkan tidak jauh dari kerumunan ada seorang anak perempuan berusia sekolah menengah pertama yang meringkuk kebingungan, dan tampak ketakutan. Ia adalah putri laki-laki yang mau menyeberang, katanya buru-buru berangkat les. Ia merasa bersalah, menurutnya, karena dirinya meminta cepat-cepat, ayahnya jadi terkena musibah.
Ya, begitulah, kehidupan ini terus berjalan.
Hingga tiba pukul 11 malam menjelang tidur, saya melihat dua mata merah yang kelelahan. Mata yang mengisyaratkan agar doa-doa yang senantiasa dipanjantkan kehadirat Allah segera terkabul. Agar segala macam utang menggunung berubah menjadi membukit saja, kemudian landai hilang tanpa timbul kembali di kemudian hari. Entah berapa lama, saya menyadari itu adalah mata saya sendiri yang terpantul dari layar HP mati.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi