Kata-katanya sampai ke ulu hati: Ayo melu mancing ye mas?
Saya sudah cukup lama gantung joran, sedangkan setengah jiwa saya adalah memancing. Sehingga, selama ini saya menjalani kehidupan setengah jiwa.
Saat perjalanan menuju warung kopi biasanya untuk sekadar merenungi betapa sia-sia waktu selama ini. Saya berpapasan dengan anak-anak kecil.
Mereka tahu bahwa dulu saya setiap hari berangkat mancing: Pagi, siang, dan bebebrapa waktu juga malam.
Anak-anak itu membawa beberapa senjata. Pertama, joran pancing tegek custom kolong yang saya tahu betul harganya cukup murah. Kedua, tegek biasa yang ujung ruas 1 dan 2 diganti dengan entah kanibalan apa. Ketiga, joran fiber warna-warni dengan golak kayu kecil yang dijual satu paket itu.
Saya tahu betul dalam sekali lihat, pusaka yang mereka bawa tidak mahal. Namun, waktu kebersamaan menuju spot mancing bersama teman-teman itu tidak ternilai harganya.
Salah satu dari mereka, sepertinya yang paling besar, menyapa saya yang sedang mengendarai motor butut-berisik-minta-servis-pajak-habis.
"Ayo, melu mancing ye mas?!" teriaknya dengan suara agak keras.
"Baiyuh," kata saya tak tahu mengapa, sembari terus menuju warung kopi.
Sialan betul, satu kalimat yang diteriakkan bocah itu sampai ke ulu hati. Setengah jiwa lain yang sedang hilang seolah memberontak dari persembunyian, ingin bangkit dan kembali seperti dulu.
Bocah-bocah sialan, anak-anak kurang ajar, tetaplah begitu dan jangan biarkan segala badai-ombak kehidupan dewasa nanti menghilangkan anak kecil dalam diri kalian!
Mungkin sampai di sini saja catatan ini. Sekarang saya di warung kopi biasanya. Merenungi kesia-siaan seperti biasanya. Dan, akan pulang beberapa waktu kemudian layaknya biasanya.
Veteran mancing ini telah kalah perang dengan kehidupan.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi