Nyobok adalah bukti pemancing Indonesia gigih dan militan
Nyobok adalah teknik mancing dengan menceburkan diri ke air. Pemancing nyobok akan berendam setidaknya setengah badan, bahkan ada yang hanya kelihatan lehernya saja. Ada yang pakai kursi panjang sebagai pinjakan, atau pelampung biar tidak tenggelam. Istilah lain nyobok adalah ngeban.
Nyobok tidak hanya dilakukan oleh pemancing laki-laki, tetapi juga pemancing perempuan.
Umumnya, nyobok menargetkan ikan nila/mujaer dengan umpan lumut.
Menurut saya, pemancing Indonesia layak berbangga diri. Terlebih pemancing yang menggunakan teknik mancing nyobok.
Sejauh paham saya, hanya di Indonesia yang pure dan murni benar-benar nyobok.
Mungkin Anda mengatakan orang luar negeri juga ada yang nyobok, atau setidaknya mancing dengan berendam setengah badan ke dalam air.
Itu berbeda, bolo, orang luar memakai baju keamanan mirip jas hujan, boot full badan.
Coba kalau diminta nyobok hanya dengan pakaian alakadarnya seperti pemancing Indonesia. Yang notabene kelamin pasti mengkerut lantaran direndam lama di air. Semua orang luar negeri pasti sepakat untuk menolak ajakan nyobok yang demikian.
Percaya saya saja daripada harus membuktikan dengan bertanya satu per satu pemancing luar untuk nyobok. Oke?
Dari sisi yang lain, alasan mengapa pemancing nyobok Indonesia layak berbangga adalah soal kegigihan dan sikap militan. Benar-benar all out mancing!
Mereka mungkin ada rasa khawatir tatkala nyobok. Misalnya serangga air masuk kelamin, diterkam buaya, digigit ular, atau dicengkeram hantu sungai.
Tetapi, kegigihan dan militan itu terbukti dengan mereka tetap nyobok mendobrak kekhawatiran.
Apalagi kalau mengingat nyobok juga belum tentu dapat ikan.
Pemancing nyobok harus mendapat apresiasi yang pantas, setidaknya sebuah acungan dua jempol! Saya pribadi kagum dengan pemancing militan seperti itu.
Berbicara soal sikap militan, setelah mancing malam di sungai besar tempo hari. Saya ada janji mancing malam lagi keesokan harinya.
Teman saya antusias, pun siap boncos, dan benar-benar mempersiapkan semua alat pancing yang sesuai setelah pengalaman sebelumnya.
Padahal, saya mengatakan akan menyusul setelah isya. Ia merespons tidak apa-apa, dan akan berangkat sejak sore.
Begitu militannya! Ia betulan berangkat sejak sore di pinggir sungai besar.
Sewaktu saya datang sekira pukul 7.20 petang, ia belum dapat ikan sama sekali, tentu saja. Satu hal yang membuat saya harus mengacungi dua jempol tangan adalah ia masih semangat sebagaimana saat membikin janji mancing kemarin meski ikan sulit makan.
Baik teman saya dan pemancing teknik nyobok Indonesia, mereka adalah pemancing militan! Lain tidak!
Kiranya begitu pengecut jika saya sampai menolak ajakan mancing hanya karena manjing (kerja), kan?
Makanya, kalau ada yang mengirim pesan p mancing, saya seketika akan membalas dengan sharelok. Lantas segera menutup laptop dan berangkat.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi