Deruan rewel bocil yang bikin jengkel dan kangen

Ada seorang teman yang sama-sama telah menjadi bapak, ia mengatakan bahwa mustahil menyerahkan tanggung jawab mengurus anak kecil kepada satu pihak. Saya paham, maksudnya menyerahkan bocil itu pada si ayah saja, atau si ibu saja.

Saya setuju dengan hal tersebut. Sebab, sudah merasakan sendiri bagaimana mengurus anak usia satu setengah tahun yang tidak bisa diam.

Suatu kali ia minta mainan A, beberapa waktu kemudian minta mainan B, begitu seterusnya sampai Z, dan akhirnya kembali ke A.

Sayangnya, tatkala ia meminta itu tidak bisa kita tolak. Kita sebagai orang tua harus pintar-pintar membujuk dan mengalihkan perhatian.

Misalnya, kalau si anak minta mainan A, yang notabene berbahaya. Alih-alih melarangnya, kita sebaiknya mengatakan bahwa ayah punya mainan yang lebih asyik, itu adalah mainan B di ruang tamu.

Kemungkinan besar, anak akan menurut untuk berpindah dari mainan A ke B dengan cara baik-baik.

Menyuruh anak seusia itu juga tidak mudah-mudah amat. Lagi-lagi, kita harus lebih pintar dalam merayu dengan lembut.

kalau dalam dunia tulis-menulis, merayu seperti itu bolehlah dikatakan sebagai soft-selling.

Contohnya lagi begini, kita ingin meminta anak usia satu setengah tahun untuk mengambilkan tisu untuk mengelap bekas tumpahan minuman.

Daripada mengatakan: Nak, ambilkan tisu di kamar. Kita bisa ganti dengan mengatakan: Nak, apakah kamu bisa mengambil tisu di kamar?

Dengan begitu, entah mengapa sebuah tantangan akan lebih mudah terlaksana daripada hanya perintah semata.

Anak-anak suka tantangan, atau hanya anak saya saja?

Lebih lanjut lagi, dengan cara yang sama, kita bisa menyuruh anak mengelap bekas tumpahan minuman tadi menggunakan teknik soft-selling. Misalnya, Nak, coba itu dilap, apakah bisa?

Tentu, kalimat yang lebih bervariatif akan lebih membantu. Nak, [nama anak] berani membuang bekas tisu ini ke tempat sampah sendiri?

Dengan kalimat yang lebih sederhana: Kita sebagai orang tua harus memutar otak, meningkatkan kesabaran, dan lebih telaten setiap waktu.

Anak seusia itu sama sekali tidak bisa dibentak. Alhasil hanya akan berdampak buruk pada tumbuh-kembangnya.

Jika dari mulai bangun tidur pukul setengah lima pagi sampai mau tidur pukul setengah delapan malam, otomatis semua energi kita terkuras.

Saya pernah merasakan bentrok sengkarut yang bertubi-tubi hanya karena persoalan sepele.

Di satu sisi saya harus mengurus website klien. Di sisi lain (karena ibunya bocil sedang ada urusan) saya juga harus mengurus bocil.

Energi habis, pusing, dan denyut di kepala belum hilang sampai ia tertidur.

Apakah saya menanggung peran ganda? Entahlah. Saya pikir cukup berlebihan menyebut suatu momentum yang tidak terjadi setiap hari sebagai menanggung peran ganda.

Tulisan ini sekadar pengingat, bahwa saya pernah merasakan pusing yang sampai berdenyut-denyut di kepala. Di hari ini, malam ini, website klien belum tersentuh. Anak sudah tidur. Dan, energi sudah habis.

Mungkin, ini juga merupakan berkah tersendiri dari kelembutan Allah SWT. Di tengah getir takdir, pekerjaan saya yang cukup fleksibel harusnya tidak berpengaruh pada banyak hal dalam aktivitas sehari-hari.

Saya bisa mengerjakan website itu besok, atau mungkin lusa, atau membatalkan proyek begitu saja. Yang tidak bisa saya tinggalkan adalah si bocil yang rewel namun bikin kangen. Sihir yang luar biasa, keajaiban yang begitu nikmat.

Jangan pikir saya tidak pernah emosi. Saya sering emosi, namun menahannya sekuat tenaga agar tidak keluar lewat kata-kata.

Meski saya seorang pemancing ikan, saya tetap bisa marah, kok. Wong saya ini manusia biasa nan fana.

Melihat wajah damai yang teramat lucu, terasa berbanding terbalik saat bocil itu bangun dan aktif.

Namun, beberapa waktu lalu saya telah menyadari. Bahwa, anak saya yang saya pikir begitu rewel, ternyata jauh lebih anggun daripada anak tetangga. Pada saat itu, saya bersyukur dengan agak ganjil.

Begitulah alasan panjang mengapa saya setuju dengan kata teman saya tadi mengapa tidak bisa menyerahkan tanggung jawab mengurus anak pada satu pihak saja. Jelas, jika hal ini terjadi setiap hari selama anak itu bayi. bisa pecah dulu kepala orang tuanya sebelum anak itu dewasa.

Alternatifnya, saya sepakat dengan ibunya bocil untuk mengurusnya bergantian. Setengah hari bersama bocil rewel sudah melelahkan, namun kelelahan itu akan dibayar tuntas pada setengah hari yang lain ketika melihatnya tertidur dan bertumbuh.

Kelucuan anak seusia itu saat tidur seperti obat mujarab yang melibas segala lelah. Menumbuhhkan kangen tulus yang bergejolak terus-menerus.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi