Kembali ke Jendela Biru Mikocok
Setelah sekian lama menggunakan chromebook yang jeroannya pakai sistem operasi ChromeOS, saya akhirnya kembali ke Jendela Biru alias Windows dari Mikocok alias Microsoft.
Saya mulai memegang komputer (PC) tahun 2010, itu pun untuk main gim Point Blank (Gemscool) dan Lost Saga. Seharusnya saya pakai buat beli Bitcoin yang harganya masih gorengan, ya.
Sungguh disayangkan.
Sejak 2010 hingga sekitar 2024, saya bergonta-ganti dari Windows ke Linux.
Setelah itu, karena alasan finansial (dan alasan lain), saya akhirnya melirik notebook murah dengan spesifikasi super kentang, chromebook. Ini menajdi kali pertama saya menjajalnya.
Satu tahun dengan ChromeOS, rasanya begitu nikmat dan memuaskan.
- Tidak ada aplikasi sampah bawaan Jendela Biru yang bikin komputer sudah lelet semakin lelet.
- Tidak ada notifikasi update setiap waktu yang bikin risih banget.
- Tidak ada pula kekhawatiran terkait virus sama sekali.
- Mau menjadi petani pun juga mumpuni.
Saat melihat teman di warung kopi masih menggunakan laptop dengan sistem operasi Jendela Biru dari Mikocok yang harganya mahal sekali, saya akan mengatakan dengan percaya diri: Segera pindah ke ChromeOS sebelum terlambat.
Sungguh sayang, sampai saat ini pun saya belum pernah menjajal MacOS, jadi kita abaikan pengalaman perihal itu.
Saya mendapat citra baru, jika ingat saya, maka ingat Chromebook.
Namun, chromebook murah itu ternyata tidak bertahan selamanya. Hari ini saya harus mengatakan selamat tinggal.
Keyboard ringkih itu tidak mampu mengikuti kecepatan menulis brutal saya yang sampai 140 WPM. Alhasil, banyak keyboard yang njepat, dan saya kurang suka menggunakan keyboard eksternal.
Apa gunanya laptop ada keyboard kalau ke mana-mana masih bawa keyboard eksternal?
Hari ini kedua tangan saya terbuka, menyambut kedatangan kembali si berengsek Jendela Biru.
Setelah saya tinggalkan, ada beberapa hal yang menarik, tampilannya semakin bersih. Dan, saya menjadi lebih "tega" untuk menghapus paksa berbagai macam aplikasi bawaan sampah yang hanya membebani itu.
Di hari pertama menggunakan Jendela Biru, saya langsung mulai dengan install ulang. Jelas. Install ulang alias inul adalah keniscayaan untuk sistem operasi satu ini.
Saya juga mulai mengingat kembali eksplorasi dengan file .bat yang dulu begitu menarik.
Saat kuliah, saya menggunakan jadwal.bat untuk membuat daftar jadwal otomatis.
Agak konyol, namun benar adanya, warna wajib 0a, @echo off, dan sekelumit teks aneh di bagian atas.
Hari ini, saya ulangi kembali, namun untuk tujuan yang konon lebih mulia: bekerja.
Saya membuat file .bat menjadi shortcut super ringan yang mampu ditangani dengan sangat baik oleh AMD Athlon 300u
Contoh sederhananya, saat saya ketik w (enter), langsung otomatis membuka Chrome dan mengakses Google Docs. Atau, saat saya ketik d (enter), langsung membuka Google Drive.
Sebenarnya, ada banyak hal yang bisa kita lakukan dengan file .bat ini. Tanpa perlu double click shortcut di desktop, tanpa perlu membuka aplikasi lebih dulu.
Jendela Biru Mikocok, engkau begitu berengsek, di waktu bersamaan begitu menarik. Entahlah.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi