Menulis di Chromebook dengan tiga huruf njepat

Tulisan ini sengaja saya tulis. Siapa tahu kelak di masa depan yang penuh misteri itu, saya bisa memiliki laptop yang lebih layak digunakan.

Saya pakai Chromebook. Awalnya menggunakan perangkat yang lepas dari jendela biru Mikocok, hanya karena harganya jauh lebih murah. Harganya hanya Rp1.200.000 untuk Samsung Chromebook 4.

Tentu saya tidak perlu menjelaskan mengapa tidak pakai MacBook. Sudah jelas, kan, alasannya karena tidak ada MacBook bekas kondisi normal (apalagi baru) dengan harga Rp1.200.000.

Namun lama kelamaan, saya demen banget karena performa laptop seharga itu sangat mantap.

Jeroan laptop ini tidak main-main kentangnya. Celeron 4020, 4GB RAM, penyimpanan eMMC 32 GB. Aduh, bayangkan betapa Chromebook dengan spesifikasi yang demikian akan misuh-misuh jika dipaksa menggunakan jendela biru Mikocok.

Penggunaan sejak 2022 lalu, tidak ada kendala yang saya temui. Saya bisa menulis dengan kecepatan brutal hingga 120 wps dalam bahasa Indonesia. Bukan yang tercepat, memang, namun sudah lumayan lah.

Akhir-akhir ini perangkat tua ini mulai menunjukkan gejala sakitnya.

Keyboard yang pertama kali kena dampak. Huruf a njepat karena mengetik brutal. Disusul huruf p, dan sekarang huruf b. Tiga huruf tersebut kosong di keyboard saya.

Berhubung kemiskinan ini belum reda, saya isi tiga petak kosong di keyboard karena saking cerdasnya saya.

  • Huruf a ganti dengan tanda ~ yang jarang digunakan
  • Huruf p ganti dengn tanda { yang juga agak jarang digunakan
  • Dan, huruf b yang belum memiliki penggantinya sekarang

Saya ingin mengganti petak di huruf b dengan simbol yang jarang digunakan juga. Namun sepertinya, belakangan saya lebih sering main-main dengan simbol-simbol untuk mengetik di markdown dan mengerjakan CSS.

Ubah pakai angka sepertinya cukup menarik, ya.

Sebenarnya, saya mendapat saran dari teman. Daripada mengganti petak huruf yang njepat karena ngetik brutal, lebih baik mengganti Chromebook dengan yang baru.

Saya jelas setuju. Hanya saja, dompet yang agaknya kurang setuju.

Disklaimer: tulisan ini sekadar catatan pribadi untuk tujuan, sebagaimana yang sudah saya sampaikan di paragraf pertama. Tidak ada maksud mengeluh karena keyboard rusak, tinggi hati karena bisa mengetik cepat, atau anggapan buruk lain yang barangkali terlintas di batok kepala Anda.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi