Mencatat perjalanan

Dalam bus, perjalanan menuju entah

Menulis catatan di dalam bus yang bergoyang begitu rupa dalam kecepatan agak lumayan tidak mudah. Akan aku lanjutkan --atau mulai-- jika situasinya lebih mendukung.

Aku bebas menulis di mana saja; dan tidak harus sekarang. Boleh aku selesaikan kapan saja. Hanya tes masuk suatu instansi pemerintahan yang mengharuskan aku dan kau untuk menyelesaikan tulisan dalam waktu tertentu.


Baiklah, sekarang aku sudah sampai di (hampir) tujuan. Aku sedang menghadapi cangkir kopi di tanah sepi. Serta sekelumit sengkarut yang selalu mengikuti ke mana pun aku pergi.

Perjalanan dalam bus itu mirip dengan kehidupan. Itulah mengapa komunitas sastra, jika boleh kusebut begitu, menggunakan analogi serupa. Sadha, komunitas di Tulungagung. Tidak ada ketua, sekretaris, apalagi bendahara. Di dalamnya hanya ada sopir, kernet, pengamen, pengasong, dan sedikit penumpang. Bus Sadha dengan itu semua menempuh perjalanan menuju entah.

Sopir mengikuti aba-aba kernet. Satu pengamen menyanyikan rock, satunya lagi membacakan puisi. Pengasong kadang ada, mampir sebentar unjuk gigi, turun di perhentian terdekat. Dia melipir seolah tidak pernah ada --tidak pernah naik.

Sedangkan para penumpang sudah turun sampai tak tersisa. Sadha hanyalah tumpangan untuk mengantar mereka kepada urusan. Mendekatkan cita-cita yang dianggapnya luhur dan ideal.

Dan begitulah kehidupan. Tidak ada perhentian yang selamanya. Satu-dua akan menghilang, menemukan sepi, berkompromi dengan kesepian untuk menuju entah.

Ya, menuju entah.

Menuju entah.

Bus itu kehabisan solar. Teronggok diam. Tidak bergerak.

Mereka tidak pernah menarik ongkos untuk tiap penumpang. Kesalahan mereka yang terlalu tulus, bukan salah juga.

Masing-masing dari orangnya berpencar. Beberapa mencari bantuan, beberapa terkail perempuan.

Hingga saat catatan ini kutulis, aku masih melihat bus itu teronggok diam di pinggir jalan. Aku menumpang Bagong dulu. Nanti kalau sudah dapat solar, aku akan kembali menemui semuanya agar dapat bergerak-bergoyang lagi. Menggerakkan Sadha menuju entah.

Ya, menuju entah.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi