Menunggu di kursi

Saya sedang membayangkan keindahan. Di ruang imaji muncul gambaran sebuah sungai besar yang arusnya tenang. Warna air berwarna hijau kecoklatan, sebuah kondisi di mana ikan-ikan paling doyan makan jika dilempari pakan. Pinggir sungai merupakan pohon-pohon kersen berjajar lurus mirip pagar sejauh mata memandang.

Di sanalah saya duduk sendirian. Memegang joran tegek di satu tangan dan memasang cacing ke kail dengan tangan lainnya. Hati-hati melakukannya sembari merasakan aroma angin sore hari di pinggir sungai bawah pohon kersen saat itu.

Setelah kelar, umpan saya lempar, bersiap untuk ikan tawes kelima. Saya ambilah itu kretek yang tadi saya biarkan tergeletak saat memasang umpan. Saya isap dalam-dalam dan angin semakin terasa dan keindahan itu akan menjadi lebih lengkap tatkala pelampung mulai bergerak-gerak.

Atau, jika saya sedang membayangkan kesejahteraan. Saya akan melakukan hal sama. Memancing di pinggir sungai di bawah pohon kersen yang rindang di sebuah sore yang indah. Bedanya, saat itu saya tidak akan terbesit memikirkan perihal utang, tagihan, minyak telon, listrik, air, gas LPG, deterjen, Molto, sebuah sabun batang yang tersusun dari tiga atau lebih sabun batang lain yang digabungkan jadi satu, pajak motor, beras di kendi, cabai rawit, bawang merah dan putih, rengek anak minta jajan, omelan bini yang tiada pernah berhenti, dan segala tetek bengek yang memusingkan. Saya hanya akan memikirkan memancing. Menikmati setiap detiknya dengan sangat mantap.

Bayangan saya tentang ruang imaji itu tetiba buyar setelah Hari Niskala mengirim satu pesan WhatsApp yang mengatakan: "Sudah."

Saya cek mobile banking sebentar. Lantas berdiri dari kursi depan Indomaret yang telah saya duduki 27 menit 32 detik. Masuk ke dalamnya. Membeli sebotol minyak telon dan kebutuhan anak lainnya yang ternyata sudah habis sejak empat hari lalu. Dan... jelas, membayarnya.

Pesan darinya kali ini membawa angin segar yang aneh. Sebab kalau tidak ada pesan itu, saya tidak bisa membayangkan sampai kapan akan terus duduk di sana atau terjebak dengan bayangan-bayangan tentang keindahan dan kesejahteraan yang masih belum nyata.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi