Mencatat keburukan

Keburukan, sebagaimana digambarkan banyak orang, itu tak ubahnya bangkai. Dan bangkai, meski tak kelihatan wujudnya, aromanya niscaya tercium.

Kau yang mencium aroma bangkai, akan melakukan satu di antara tiga ini.

Pertama, mendekati untuk mencari sumbernya lalu membuangnya ke tempat yang seharusnya.

Kedua, mengabaikan semuanya seolah-olah tidak mencium apa-apa.

Atau, ketiga, mengutuki dengan segala macam kutukan yang mungkin terbayang di batok kepala.

Mencium aroma busuk bangkai (atau keburukan manusia) jugalah itu semua berlaku.

Namun, lihatlah ada sisi baik tatkala keburukan kita tercium --atau terkuak. Bahwa, kita tidak lagi menanggungnya sendiri dengan sembunyi-sembunyi.

Persoalan berikutnya yaitu apakah orang yang mengetahui keburukan kita akan mengambil pilihan pertama, kedua, atau terakhir?

Bagi kebanyakan orang, yang ketiga akan berpotensi memunculkan masalah baru dalam kehidupan. Tidak banyak orang yang kebal dengan caci maki.

Tetapi bagiku, yang mana saja tidak masalah. Persoalan yang lebih penting bagiku setelah semuanya adalah apakah aku masih berpeluk erat dengan bangkai atau melepasnya dengan kerelaan?

Itu juga termasuk catatan rancu di blog ini. Kalau kau entah bagaimana diantarkan takdir untuk membacanya, dan kau juga mengenalku di dunia nyata, aku tak lagi menutupi bangkai-bangkai ini

Hal semacam itu tidak akan berpengaruh pada orang yang mampu berangkat ngopi di warung kopi dan memancing ikan di pinggir kali sendiri.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi