Mencatat dunia runtuh
Manusia mengalami situasi yang sulit. Mereka yang masih hidup, juga mereka yang lebih banyak sudah mati. Semua kesulitan itu akan lebih mudah kita sebut sebagai dunia runtuh.
Aku bertanya kepada kecerdasan buatan. Mengatakan bahwa dunia runtuh adalah kiasan untuk menggambarkan perasaan sangat terpukul, hancur, atau begitu putus asa karena sesuatu yang buruk terjadi.
Tidak puas dengan jawabannya, aku membangkitkan seorang acak dari kematian. Bertanya pada wajah belulang itu apa arti dunia runtuh? Dia menjawab bahwa itu merupakan kondisi yang membuat manusia yang masih hidup ingin tidur di sebelahnya. Dia mengatakannya sembari menepuk dua kali tanah di sampingnya. Orang mati sering kesepian. Orang hidup apalagi.
Aku lantas keluar dari permakaman. Bertemu sebuah batu bulat di pinggir kali. Bertanya kepada katak di atasnya apa itu dunia runtuh? Si katak mengatakan bahwa itu merupakan pemandangan saat melihat katak betina kekasihnya digenjot katak jantan lain.
Seratus meter ke arah selatan aku bertemu seorang penyair yang sedang membacakan puisi sedih sendirian. Aku menyela, dan bertanya kepada sosok yang lebih menyerupai gelandangan itu tentang arti dunia runtuh. Dia mengangkat kertas di tangan kanan tinggi-tinggi, sedangkan tangan lainnya yang masih mengapit rokok mengacungkan telunjuk ke batang hidungku. Dia menjawab dengan bunyi-bunyian aneh, bahwa dunia runtuh saat penyair tidak lagi bisa menulis puisi.
Seorang pelacur bahenol datang entah dari mana. Dia duduk di sebelahku. Kemudian aku bertanya tentang arti dunia runtuh pada saat mata kita sama-sama melihat penyair yang mulai menggila. Dia bertanya kembali apakah aku memiliki rokok. Aku keluarkan sebungkus kretek lecek dari sempak, "Agar aromanya gurih dan nikmat," kataku membela diri. Dia telisik sebentar bungkus itu lalu melihat lamat-lamat sebuah bulu, "Apakah ini jembut?" aku jawab bahwa itu adalah tembakau rajang yang terlalu tipis hingga menyerupai jembut. Dia tidak ambil pusing dengan semuanya. Dibakarnya sebatang. Lantas pada isapan kedua, dia menjawab bahwa dunia runtuh adalah saat anak perempuannya yang berusia lima belas mengetahui pekerjaan ibunya sebagai pelacur.
Aku pergi ke arah barat namun pelacur bahenol itu mengekor. Aku bertemu dengan sebuah sungai yang lebih besar dengan air jernih. Di sana terpantul wajahku yang kusam, rambut ke arah kiri, pandangan setengah. Aku memandang wajah pelacur itu yang lama kelamaan cantik juga sebelum kembali memandang wajahku di pantulan air sungai. Aku bertanya kepadanya apa itu dunia runtuh. Tak urung mendapat jawaban, pelacur itu menyambarku dengan begitu rupa edan. Aku mewanti-wanti bahwa aku tidak memiliki uang. Dia mengatakan bahwa untuk yang satu ini tidak perlu uang.
Dalam semacam pergumulan yang hangat. Aku teringat pelacur seorang penulis yang mengatakan bahwa hanya segitu saat diberi uang olehnya. Dunia runtuh pastilah menjadi penulis itu.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi