Mencatat sore
Pukul 08.10 bangun tidur
menyeduh kopi
menyeruput pagi.
Setelah habis kopi
pergi ke warung kopi
terdekat itu lagi.
Pukul 11.20 malam
lampu dimatikan
penjaga mulai pulang.
Aku bertemu malam
menembusnya sendirian.
Ternyata hari punya sore
di antara pagi dan malam
yang selalu kulewatkan.
Pada suatu Kamis aku diminta ibu
mengunjungi ayah di kuburan
di sana ada sore
yang lebih dulu datang.
Setelah dua tahun tidak kujumpa
hampir lupa mukanya
sore cukup ramah
dengan taburan bunga di tanah.
Pada suatu Minggu aku diminta teman
membawakan umpan mancing ikan
sore yang sama di sana
duduk di sebelah teman dalam penantian.
Pada suatu hari yang lain
aku lambaikan tangan untuk sore.
Juga untuk pagi dan malam
dan ibu dan teman
Aku menyerah pada pengulangan.
Bertemu malaikat maut di persimpangan jalan.
Sejengkal lagi berjabat tangan
dengan kematian.
Pukul 05.10 bangun tidur
istri mengajak salat subuh berjemaah
setelahnya menyapu halaman rumah.
Disajikan olehnya kopi dan ubi kukus
aku gigit pagi yang terbungkus
kehangatan.
Pada Sabtu dan Minggu pulang ke rumah ibu
bersama anak perempuan dua tahun yang lucu.
Malaikat maut masih berjalan
bergandengan pagi, sore, dan malam
ke mana pun aku pergi.
Sayang sekali,
bukan hari ini.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi