Mencatat keraguan

Seikat catatan dangkal
bunga rampai narasi basi
berkelindan di batok kepala
yang bobrok
dan fana

Angkasa raya hitam belaka
legam serupa mata
yang sembab di pojokan
kamar sempit yang bising bunyi telepon berdering

Satu kalimat pesan singkat
masuk dari orang dekat
keheranan dan keraguan
eh, orangnya barusan lewat

Lihat bantal apek selimut pesing
menjadi teman paling disayang
lebih dari bayangan

Mata sembab ronde kedua
sudah pukul tiga
jangkrik mengantuk Allah terjaga

Lantas bisik busuk bau mulut dua hari belum makan sembrono keluar

"Ya Allah,
Yang Maha Besar
Engkau lebih besar,
dari keraguanku."

Dua menit tiga belas detik berlalu
bisikan jadi tuntutan

"Aku tidak memiliki-Mu,
Engkau yang memilikiku,
maka, tanggung jawablah!"

Seikat catatan dangkal
bunga rampai narasi basi
kini jadi puisi sepi

Kopi hitam kemarin masih setengah isi
dirubung semut hitam
ada juga yang merah
andaikan bisa jadi semut
tak pusing kelaparan
apalagi utang
dan dering telepon gagap
juga pesan orang dekat

Lihat jam pukul delapan
ternyata baterai habis daya

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi