Kemunduran raksasa teknologi Google dalam memahami apa yang dicari pengguna
Google bodoh!
Aku memiliki keyakinan bahwa mesin pencari haruslah memahami apa yang dicari penggunanya; bukan sebaliknya. Google, salah satu raksasa teknologi dunia, masih juga berpegang pada otoritas yang jelas-jelas semu dan rekaan itu.
Kan sudah ada Mode AI, tinggal mengetik di sana dan kau akan menemukan apa yang kaucari sesuai dengan apa yang kaumaksud. Kebodohanmu lebih tidak tertolong daripada Google jika sampai terbesit pikiran yang begitu.
Malam ini aku sedang menanggung sengkarut, dan akan aku keluarkan emosi tersebut dalam kata-kata acak dan rancu yang barangkali tidak akan jelas maksud-tujuannya di sini.
Jika aku mengetik "tulisan keputusasaan" di pencarian, kalau agak pintar, Google harusnya memunculkan wajah Dazai di urutan pertama; bukan malah artikel yang jelas-jelas rekaan dan sampah dari media pemberitaan dengan judul "Tips mengatasi putus asa" atau "55 Kata-kata putus asa terbaik yang mewakili isi hatimu".
Begitu pula jika aku mencari "tulisan curhat", tidak lain, dan harus, Amato yang muncul paling atas. Namun, Google dengan kebodohan serupa purnama itu memunculkan situs web tertentu hanya berdasarkan angka otoritas yang jelas-jelas bisa dimanipulasi dengan sangat gampang oleh mereka yang punya uang. Sehingga yang tampil hanya artikel yang sama-sama omong kosong dengan judul paling tolol seperti "Kata-kata curhat tentang kehidupan" dari situs web yang semula membahas musik.
Dan yang menjadi omong kosong paling pamungkas adalah saat aku mencari "review joran tegek", yang muncul malah review bintang dari Shopee. Kan tololnya sudah tidak tertolong lagi. Sedangkan isinya hanya mengantarkanku pada omong kosong yang lebih pamungkas lain, "Barang sesuai. Kurir lemot."
Algoritma yang menaikkan hasil pencarian di halaman pertama hanya dari angka otoritas itu justru dilanggengkan Google.
Aku --dan kau-- tidak perlu repot-repot melakukan riset yang memusingkan di sisi lain menghabiskan waktu. Kau cukup mencari informasi ala kadarnya dari internet, meracik ulang, dan membubuhkan omong kosong sesuai otak kosongmu agar artikel menjadi lebih panjang. Sehingga, aku --dan kau-- dapat terlihat sangat memahami topik yang kautulis; terlepas seberapa tidak pahamnya kau tentangnya.
Karena alasan itu juga; Google bodoh!
Otoritas situs web yang bisa dimanipulasi, artikel yang menerapkan kaidah kepenulisan tertentu agar optimal --yang juga diatur raksasa lain, seorang penulis atau robot pun tidak masalah, serta dilanggengkan algoritma yang ketololannya luar biasa. Maka, hasilnya adalah apa yang selalu aku --dan kau-- pelototi di hasil pencarian Google.
Ekosistem blog yang fitrah dan murni sudah tidak ada. Orang-orang memalingkan wajahnya, melihat dengan kekaguman aneh kecerdasan buatan. Di sanalah muaranya. Kecerdasan buatan yang berwujud aplikasi ponsel seolah pembawa obor penyelamat yang terang-benderang dari kebodohan mesin pencari. Sialnya, seringkali dia malah lebih memahami apa yang kau maksud.
Kalau peramban Google mau keluar dari jurang kebodohan, tentu akan kukasih sebuah saran. Jika aku mencari "penulis Tulungagung", jangan kau tampilkan halaman Tentang Penulis dari situs web pemberitaan daring! Kau mestinya memasang wajah Hari Niskala di halaman paling atas!
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi