Saya pun juga ingin memiliki hidup yang bermakna
Hidup yang bermakna, aih, omong kosong apa lagi ini?
Makna hidup berkaitan tujuan dan keyakinan. Jika tidak memiliki keduanya, hidup akan terasa begini-begini saja.
Jika saya akan hidup sampai usia 60 tahun, di mana produktif hanya sampai 40 tahun. Kiranya akan sulit menjalani sisa umur dengan perasaan tanpa gairah, tanpa makna seperti ini.
Menurut logoterapi yang dikemukakan Viktor Frankl, dorongan utama manusia adalah mencari makna hidup, bukan sekadar mencari kesenangan (freud) atau kekuasaan (adler).
Berpijak pada logoterapi, seseorang akan merasakan makna hidup jika dan hanya jika:
- Memiliki karya atau pencapaian,
- Pengalaman akan cinta, keindahan, kelembutan, hingga relasi,
- Sikap dan respons atas kesulitan maupun penderitaan yang tidak terhindarkan.
Kalau seseorang tidak memiliki pencapaian yang bisa dibanggakan selain betah menganggur sejak lahir sampai kepala tiga, ini akan mengkhawatirkan.
Hidup terasa hambar, sayur tanpa gula, tulisan tanpa cerita, omong kosong yang sebenar-benarnya.
Kita sebenarnya bisa melihat "hidup yang bermakna" sebagai tujuan maupun proses.
Hidup bermakna sebagai tujuan
Jika seseorang membutuhkan petunjuk arah yang memberi arti hidup. Hasil akhirnya berupa kepuasan menjalani kehidupan, sehingga makna hidup berperan sebagai sesuatu yang ingin dicapai.
Penjelasan itu secara implisit menunjukkan kalau sekarang, saya belum memiliki makna tentang hidup.
Apakah ini perlu? Ya, memiliki tujuan hidup sangat perlu.
Sayangnya, jika Anda sudah menentukan tujuan kehidupan yang bermakna, misalnya menerbitkan karya sampai mendapat penghargaan nobel sastra.
Namun sejak tujuan itu ditentukan sampai sekarang sama sekali belum mengalami kemajuan.
Anda kemungkinan besar akan merasa bahwa hidup lebih tidak bermakna lagi.
Oleh karenanya, cukup penting menentukan makna hidup yang rasional. Abaikan kata-kata bermimpilah setinggi langit, jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.
Aih, kita bukan seorang Soekarno yang memiliki segenap kesempatan terbuka lebar.
Satu usaha kita gagal, barangkali berarti seluruh hidup kita juga gagal.
Jika boleh menyarankan, tujuan yang pasti bisa kita raih adalah bersujud kepada Tuhan, menaruh jidat kita yang konon katanya berharga untuk beribadah hanya kepada-Nya.
Bukan malah menjilat ujung sepatu atasan yang penuh tahi demi jabatan komisaris.
Hidup bermakna sebagai proses
Nyatanya, hidup bermakna juga merupakan bagian dari prosesnya. Sebab, makna kehidupan bisa kita temukan lewat pengalaman sehari-hari.
Contohnya ada banyak, seperti menolong orang lain. Dengan menolong orang lain, makna kehidupan yang bisa kita petik adalah bukti bahwa kita bermanfaat.
Kita bermanfaat bukan berarti kita boleh dimanfaatkan, bermanfaat dan dimanfaatkan dalam hal ini berbeda. Bukan pula berarti kalau kondisi kita lebih baik dari orang yang kita tolong, ini bisa menumbuhkan sifat sombong.
Kira-kira apakah ada orang yang berhasil mendapatkan makna kehidupan dari kondisi sulit yang penuh cobaan, ya?
Misalnya begini, kita mendapatkan ujian yang nyaris bikin sinting. Ujian yang rumit penuh sengkarut, sedangkan pintu-pintu jalan keluar tidak ada yang terbuka sama sekali.
Kemudian, kita tiba-tiba memiliki kesadaran akan makna hidup, bahwa kita kuat menghadapi penderitaan.
Ayo, sini kalian semua wahai penderitaan sialan, akan saya hadapi kalian seorang diri!!!
Paradoksnya, hidup yang bermakna justru tidak memiliki makna
Siapa yang bisa menjamin Rafathar dengan segala-galanya itu hidupnya bermakna? Atau, siapa yang bisa menjamin seorang pedagang asongan tua di pinggir jalan hidupnya tidak bermakna?
- Makna itu sejatinya relatif, sesuatu yang begitu bermakna bagi kita, barangkali hanyalah udara yang dihirup sehari-hari oleh orang lain, sesuatu yang tampak sepele.
- Kehidupan tetap bermakna meski kita tidak mendefinsikan seperti apa makna itu. Alasannya jelas, makna hadir dari kehidupan, bukan konsep. Kehidupan manusia memiliki rasa, dan itulah sumber dari pemaknaan yang sejati.
- Saya sebenarnya tidak mau menyeret teori filsafat absurd, absurdisme Albert Camus. Hanya saja, Camus (kamnyu) menegaskan hidup manusia itu absurd! Manusia terus mencari makna dalam alam semesta yang diam.
Sederhananya, jika saya hanya terobsesi pada pencarian makna kehidupan, hidup justru terasa hampa dan hambar.
Sebaliknya, jika saya menerima ketidakbermaknaan hidup, malah muncul makna otentik untuk menjalani kehidupan sepenuhnya.
Apakah saya benar-benar menginginkan hidup yang bermakna?
Filsuf Prancis, Jean-Paul Sartre dalam eksistensialisme secara tersirat mengungkapkan bahwa hidup memang tidak datang dengan makna bawaan.
Dengan begitu, manusia sejatinya memiliki kebebasan untuk menciptakan makna kehidupannya sendiri.
Melalui apa? Tentu saja, pilihan.
Konon, manusia itu hidup antara huruf B sampai D. B untuk born, dan D untuk dead. Sedangkan di antara B dan D, ada C: choice (pilihan).
Ambil pilihan yang mana saja, lakukan dengan tindakan, dan bertanggung jawab penuh atas pilihan tersebut.
Meminjam kacamata eksistensialisme, bolehlah jika sekarang ini kehidupan saya tampak benar-benar tidak bermakna, maka itu bisa menjadi undangan untuk menentukan sendiri pemaknaan, apa yang penting bagi saya.
Stoisisme Marcus Aurelius memberi saran tindakan nyata agar tidak terlepas dari realitas kehidupan.
Alih-alih bertanya “apa makna hidup?”, coba tanyakan “apa yang bisa saya lakukan sekarang dengan baik?”
Sedangkan kalau dari pandangan humanisme, hidup jadi lebih bermakna ketika kita terhubung positif dengan orang lain.
Virgiawan Listanto pernah mengatakan: Ada benarnya nasehat orang orang suci, memberi itu terangkan hati, seperti matahari yang menyinari bumi.
Ini bukan soal apakah saya menginginkan hidup bermakna atau tidak.
Namun, ini soal ketika hidup terasa tidak bermakna, yang bisa kita lakukan adalah menciptakan makna lewat tindakan, menerima absurditas dengan berani, fokus pada yang bisa kita kendalikan, dan membangun hubungan manusiawi.
Oya, sebaiknya tidak ada yang bertanya sudah berapa kali saya pergi ke psikiater.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi