Mencatat ziarah Senin sore

Semua yang berada di permakaman ini sempat hidup di atas tanah di dunia ini. Termasuk yang berada di bawah sebuah nisan putih sederhana bertuliskan "Ari Sunawan" yang diapit oleh nisan kijing keramik oranye di baratnya dan kijing keramik biru di timurnya. Gundukan tanahnya datar, itu sudah lama, 2019 lalu. Sebuah andong merah yang entah bagaimana sejak dulu tumbuh tepat di atas nisan ayahku itu kini semakin tinggi dan teduh. Tanaman itu satu-satunya penanda yang kelihatan dari pintu masuk permakaman, di sanalah ayahku tinggal.

Sebenarnya, hal semacam itu naif belaka. Aku sering datang ke sini, permakaman ini, sekadar untuk menunaikan semacam kegiatan yang kuanggap sebagai tanggung jawab anak kepada orang tua. Dia adalah sosok yang penyabar. Sekarang semakin sabar-terdiam dalam pelukan tanah tanpa pernah datang ke mimpiku atau mimpi keluarga-keluargaku yang masih hidup untuk menyampaikan wejangan atau semacam nasihat luar biasa mistis yang sakti.

Aku datang, menepuk nisan putih sederhana itu tiga kali sembari mengucap salam kepada penghuninya. Duduk di atas kijing keramik biru. Mengisap pelan tiga kali kretek dan yang terakhir asapnya kubuang ke atas langit. Oh, ternyata Senin sore pukul lima ini masih cerah. Dunia ini luas. Langit bersih saja. Berwarna biru pucat dari timur sampai ke barat. Sedang di ujung sana, matahari membuat beberapa perlintasan kuning panjang tempat para bidadari main perosotan.

Suasana di sini tenang. Aku sering menjumpai suasana semacam ini saat memancing ikan. Para pemancing di sebalah kanan dan kiriku tidak banyak bicara. Mereka tak ubahnya patung yang tangan dan bibirnya bergerak-gerak; satu untuk memegang pancing, sisanya untuk memegang rokok. Namun di permakaman ini apa yang kuanggap ketenangan justru terasa lebih murni yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi ngeri kalau-kalau ada yang bangkit dari kubur setelah dua puluh satu tahun kematian. Tapi, hal seperti itu barangkali hanya ada di buku cerita saja.

Sore ini aku tidak memancing. Pesan singkat dari orang dekat kemarin masih cukup membekas di perasaanku. Besok akan dilaksanakan kenduri sebagai pengingat-ingat orang yang berada di bawah nisan ini. Setiap hari memancing ikan di pinggir kali membuatku gagap atas apa yang harus aku lakukan sore hari di rumah jika tidak melakukannya. Maka, setelah pertimbangan pendek selama sebatang rokok waktu di atas mulut kakus, aku memutuskan untuk memakai sarung dan kopiah seadanya lantas menuju ke permakaman.

Kulihat rokok yang masih berkurang tiga isapan; sayang kalau dibuang. Dalam sengkarut kemelaratan seperti ini rokok seapek dan selusuh apa pun terasa daun-kering-surga. Aku letakkan dalam kondisi menyala di pinggiran kijing biru yang berdebu ini. Dan sekarang aku harus segera memulainya, membaca Yasin, tahlil, dan doa-doa keselamatan untuk mendiang ayahku sebelum sore berubah menjadi surup.

Kemudian dengan aneh kusadari bahwa membaca doa di ruangan terbuka seperti ini terasa berbeda dengan membaca doa yang sama di ruangan berkotak-kotak di dalam rumah. Ini jugalah yang menjadi alasanku memutuskan untuk menulis catatan ini setelah pulang dari sini.

Setelah semua prosesi, kurang lebih sekarang pukul lima lebih seperempat. Aku telah menjadi cukup ahli dalam menerawang waktu sore karena kebiasaan memancing yang seolah menjelma kewajiban. Rokok itu yang terdiam masih menyala, terbakar separuh, dan kuisap sampai habis separuhnya lagi.

Aku adalah satu-satunya manusia yang masih hidup dalam jarak panjangan mata. Rasanya luar biasa menjadi yang hidup --pun dalam sengkarut berengsek yang tak berkesudahan. Dan dari tiap-tiap tancapan nisan ada satu --atau lebih-- kerangka manusia yang sempat hidup. Di mana masing-masing kerangka yang punya tengkorak itu memiliki cerita. Serta dalam cerita bentuk apa pun sengkarut merupakan keniscayaan. Akhirnya, aku bukan satu-satunya yang menanggungnya.

Mungkin apa yang ada di batok tengkorakku sudah agak tidak beres. Bagaimana bisa kurasai ketenangan dalam kesendirian di permakaman? Tidak bisa, ini tidak bisa dibiarkan. Dengan sembrono bahkan aku tidak khawatir kalau-kalau ada ulat bulu yang merambat di punggung atau kakiku; juga ular yang barangkali sudah memantau dari balik salah satu nisan. Biarlah! Sekitar tujuh menit berdiam di sini bakal menjadi waktu terbaik dalam hidupku menghabiskan rokok kretek murah yang tinggal setengah.

Dugaanku benar, permakaman itu mirip badut. Tidak ada yang benar-benar lucu dan tenang kalau sudah menjelang malam. Aku lantas bergegas menuju pintu masuk untuk keluar, mengembalikan Yasin ke tempat semula, mencuci kaki di keran air dekat kali, dan pulang setelah menyapa dua petani yang duduk berbincang di pinggir jalan.

Harapanku saat datang dua minggu kemudian masih sama dengan dua minggu yang lalu, semoga kelak bisa membawa bunga yang merah dan putih, dan kuning, dan segar-segar untuk ayahku.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi