Mencatat tulisan rancu

"Rum!" kata seorang teman. Itu merupakan salah satu panggilanku secara verbal. Aku cukup senang dengan itu, bagaimana pun, rum merupakan minuman luhur pelaut. "Mengapa tulisanmu rancu?"

"Rancu itu yang seperti apa?"

"Kadang kau bermain di alur. Kadang di cerita yang datar-datar saja," katanya. "Kadang ceritamu terlalu bagus sampai aku mau menangis. Tidak jarang terlalu buruk sampai ingin aku ludahi."

"..."

"Kadang tentang keakuan. Kadang membicarakan sesuatu yang cukup mengkhawatirkan. Aku masih ingat dengan tulisan sembrono yang mengatakan bahwa sastrawan Indonesia sedang micek atas kondisi negaranya."

"Entahlah."

"Hmm.. Kau jelas tidak bisa hanya menjawab dengan entahlah."

"Kau melupakan satu hal," kataku kemudian. "Bahwa, kau itu satu-satunya yang membaca tulisanku."

"Jelas itu juga tidak bisa dijadikan alasan. Seorang penulis harus menulis dengan anggapan akan dibaca seluruh umat manusia selama mereka bisa membaca. Pun buta huruf, mereka harus rela menyewa juru baca hanya untuk membaca tulisanmu."

"Haha..."

"Salah?"

"Iya. Ada satu kesalahan paling fatal di sana. Kau menyebutku penulis."

"Kalau bukan, apa?"

"Kau tahu," aku mencoba menghela napas. "Ada jutaan manusia di muka bumi ini yang memiliki buku harian dan nyaris semuanya tidak menyebut diri mereka, atau terbesit di pikiran mereka, atau di pikiran orang-orang yang kenal mereka, sebagai penulis."

"..."

"Ah, aku tahu, kau sebenarnya mungkin sedang mempertanyakan tujuanku menulis, kan?"

"Aku hanya penasaran. Jika boleh."

"Boleh. Tapi aku khawatir kau bakalan kecewa, bahwa sebenarnya aku tidak memiliki apa yang kausebut tujuan itu. Aku menulis hanya karena memiliki sedikit waktu luang di tengah kesibukanku memancing ikan."

"Orang mabuk pun tahu itu hanya omong kosong."

"Seratus persen kosong. Kau tidak salah. Sudah mengenalku cukup lama, masak kau masih menganggapku punya isi?"

"Beberapa tulisanmu andaikan saja agak lebih panjang bisa nangkring di surat kabar."

"Dan tulisan itu akan menjadi jembatan para pembaca untuk sampai ke tulisan-tulisanku lain yang cakar ayam. Itu buruk," aku melirik padanya. "Oya, bukankah setiap cerita yang kautulis selalu diterima koran?"

"Aku tidak seproduktif kau."

"Tidak salah. Kau hanya menulis tulisan yang bagus-bagus. Bagaimana dengan honorariumnya?"

"Ah...," dia ganti menghela napas. "Beberapa media menghilangkan itu."

"Bukankah itu baik. Sesuai dengan tujuanmu menulis."

"Aku tetap butuh makan."

"Aih, janganlah kau itu gandengkan antara makan dan uang dengan kegiatan mulia menulis."

"Aku tidak akan bisa menulis tanpa makan."

"Bohong! Ada begitu banyak orang malah menjadi bisa menulis karena puasa."

"Itu berbeda."

"Mungkin. Kau hanya perlu menahan berahi dengan bini bahenolmu saat siang hari."

"Kau selalu menyebalkan."

"Sudah jelas, kan? Mari memancing saja."

"Ada kali yang ada warung kopinya?"

"Ada."

"Gas."

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi