Kupikir semua penulis adalah dewa
AS Laksana, seorang penulis kenamaan Indonesia yang luar biasa, setidaknya menurutku dan menurut temanku. Karena satu-dua alasan, aku mendapatkan nomornya.
Aku mengirim pesan ke nomor tersebut pada Minggu. Lantas tak mendapat balasan di hari yang sama.
Baiklah. Penulis besar adalah dewa yang duduk di atas awan, dan memang begitulah seharusnya, pikirku.
Entah kenapa hari ini, lima hari semenjak pesanku terkirim kepadanya. Dia membalasnya dengan permintaan maaf.
"Coba saya lihat dulu, Mas. Saya sedang menyelesaikan ebook dalam beberapa pekan terakhir. Terima kasih sudah mengingatkan, dan maaf baru menanggapi sekarang. 🙏"
BJIR..., mendapat balasan dari penulis setinggi itu sudah serupa mendapat pesan dari langit yang mampu mengubah hari mendung ini menjadi agak mendingan.
"Luar biasa, Bang. Saya pikir penulis sekaliber Abang Sulak ini duduk di atas awan. Penulis yang dikagumi teman saya karena tidak pernah kena kritik Nuruddin Asyhadie, juga penulis yang berani menggebrak meja redaksi surat kabar dengan mengirim tulisan 'murid'-nya menggunakan namanya. Luar biasa. Bisa-bisanya membalas WA orang asing. 😁 Terima kasih," balasku kemudian.
Setelah semuanya yang singkat itu, mungkin tidak salah menganggapnya tetap sebagai penulis besar atau dewa penulis; tetapi sosok ini masih menginjak bumi.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi