Mencatat lupa
Alam semesta sedang bergerak entah maju atau mundur. Yang aku rasakan hanyalah berputar.
Sementara aku hanya duduk di depan rumah mertua. Tidak bergerak di lantai merah dengan corak yang biasanya. Menghadapi Chromebook dan lembar kosong yang belum juga terisi kata-kata.
Aku sedang menanggung sengkarut yang semakin rumit di samping kepala pusing, badan kedinginan, dan hidung kiri mampat.
Angka di pojok kanan bawah menunjukkan 19.54. Itu berarti barang empat jam ke depan hari ini akan berubah menjadi besok, dan besok telah menjelma hari ini.
Alam semesta sedang bergerak ke arah entah. Kau boleh memaknai maju karena tahun masehi selalu bertambah. Kau juga boleh memaknai mundur karena dengan semua kemudahan memperoleh informasi, manusia justru tidak bisa menulis bagus. Manusia yang salah satunya adalah aku.
Sementara dalam duduk yang tidak berubah sejak dua puluh menit lalu, aku masih merasa berputar. Kata-kata mulai terisi di lembar kosong, kata-kata lain mengikuti setelahnya, menjadi serangkaian kata yang dapat kita sepakati sebagai kalimat.
Kepala pusing, badan kedinginan, dan lubang hidung kiri mampat tak urung membuatku mengabaikan rokok. Ini bisa menjadi kebiasaan buruk, seharusnya aku tidak merokok. Atau, seharusnya aku tidak duduk di depan rumah malam hari dalam kondisi begini. Sebaiknya aku berkumul dengan obat dan selimut, serta doa-doa pertaubatan yang bisa jadi lebih berarti daripada menulis sebuah catatan tak penting.
Dan di antara semua kebiasaan buruk, sakit dan sengkarut menyampaikan bahwa yang paling buruk adalah melupakan Tuhan. Melupakan Allah.
Aku tidak perlu gusar pada sakit jika itu merupakan penebusan dosa sebagaimana pada malam-malam tertentu aku harapkan. Hanya perlu sedikit lagi bersabar. Toh, kalau kupikir-pikir, seratus tahun dari sekarang tidak ada apa pun yang akan tersisa. Termasuk sakitku dan sakitmu, sengkarutku dan sengkarutmu, anggapan buruk orang atasku dan atasmu.
Aku juga tahu apa yang barangkali sedang kaupikirkan. Berbicara tentang nasihat ketuhanan seperti ini kurang sangar. Tetapi, rasa-rasanya kata-kata tuan miskin yang kebanyakan teorinya dipelintir itu ada benarnya juga, bahwa agama itu candu rakyat.
Kau bisa merasakan candunya dalam kondisi kemiskinan dan kemelaratan yang keterlaluan, sepertiku, dengan memegang agama dan nasihat-nasihat di dalamnya. Niscaya kau melupakan sementara derita apa pun, meski tidak benar-benar mengatasi akar masalahnya.
Siapa peduli dengan akar masalah?! Bertaruh pada turunnya keajaiban dari agama ini jauh lebih menarik daripada melempar uang di meja judi. Penulis The Gambler mustahil memahaminya.
Sehingga kalau kauanggap aku sedang berada di bawah candu agama, itu sepenuhnya benar. Aku sedang berenang-renang di dalam lautan candu agama, menikmati alam semesta yang rasanya berputar di kepalaku, menanggung sengkarut, dingin, dan hidung kiri mampat sembari menulis catatan omong kosong.
Aku telah membutakan mataku pada realitas. Melempar hidup ke meja taruhan untuk sebuah keajaiban kecil. Jika kalah, hidupku akan kembali kepada Allah. Jika menang, hidupku akan kembali kepada Allah. Sebab, seratus tahun dari sekarang tidak ada apa pun yang akan tersisa, juga akar masalah dalam candu agama.
Sekarang pukul 20.20 dan aku sudah melupakan Allah untuk ke sekian kali.
Benarkah aku ini sedang berada dalam candu agama? Atau sekarang aku hanya demam lalu menulis catatan dalam kondisi kepala berputar, tubuh kedinginan, dan hidung kiri mampat?
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi