Mencatat lendir
Lendir keluar dari lubang hidung kanan
sedang lubang hidung kiri tembok
dan kening dipalu-palu
dan tenggorokan gatal
yang selalu disederhanakan sebagai demam.
Pada sepertiga malam terakhir
lendir juga keluar dari kelangkang
dalam pergumulan kepanasan
ekstasi gelap dan terang
dan sekelumit harapan.
Dua botol anggur merah tidak bisa
meredakan gatal di tenggorokan.
Satu botol obat dari apotek
harganya selalu naik.
Tisu-tisu berterbaran seperti gunung-gunung
saat kiamat.
Seperti apotek dan dokter gadungan.
Seperti sakit yang diwariskan.
Orang desa jugalah yang ikhlas menerima
mereka memberi nama musim demam.
Seperti musim durian dan musim mangga.
Ada saatnya untuk meniada.
Aku memetik kesembuhan dari pohon mangga
di depan rumah
orang.
Menambah sambal mengubahnya menjadi rujak.
Apotek menyarankan rujuk ke rumah sakit
yang lebih besar.
Sambil membujuk kematian datang
berbalut selimut rajut
agar tidak kelihatan.
Jika ada alasan untuk membawaku ke rumah sakit
itu adalah perawat rok pendek
yang menungging
agak mengangkang.
Memunguti obat-obat yang tercecer
di lantai.
Supaya lendir di hidung berhenti
digantikan lendir dari bagian lain.
Aku harap langit-langit tetap menjatuhkan
obat.
Di rumah sakit berlendir. Di rok-rok perawat bahenol.
Aku kembali tersadar
sekarang sudah pukul 11.44
masih di dalam selimut kamar
sendirian.
Musim demam membawa mimpi buruk
atau mimpi aneh
oleh angin dingin yang sama-sama aneh
setiap hari
saban malam.
Tidur dua menit dapat mengantarkan aku
pada cerita kehidupan alam semesta lain
terpelanting loncatan sekian juta tahun cahaya
berbenturan dengan bintang-bintang di angkasa
yang membikin kepalaku makin pening.
Oh, Tuhan... Apakah demam adalah secuil rasa kematian?
Sungguh mengerikan. Kalau harus melaluinya sendirian.
Aku membiarkan lendir keluar dari lubang hidung kanan
merembes ke bibir. Masuk sesenggukan. Bersama isak yang datang
setelah mengingat dosa-dosa dan pertaubatan.
Gumpalan lendir yang lebih besar
bersarang di tenggorokan
tak mau keluar.
Menghalangi minum dan makan
juga doa-doa kesembuhan.
Menggigil. Kepanasan.
Jika musim demam berakhir
semua lendir akan kering.
Lendir di hidung dan tenggorokan
lendir di kelangkang dan punggungmu.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi