Hal biasa, kerja freelancer yang dipandang sebelah mata
Freelancer yang hidup di masa peralihan dari zaman tradisional ke zaman modern dipandang sebelah mata, bahkan tidak dipandang sama sekali.
Freelancer yang notabene tidak membutuhkan kantor dan tidak terikat waktu (kecuali deadline), menyandang gelar sebagai 'tidak bekerja'.
Apalagi kalau freelancer itu berada di tengah masyarakat konvensional. Di mana sebuah common sense bahwa bekerja harus di suatu tempat atau melakukan sesuatu yang menghasilkan nilai nyata, benar-benar dipegang erat dan kuat.
Apalah daya, freelancer yang kelihatan enggak ngapa-ngapain tetapi bisa mencukupi kebutuhan hidup dasar, tuntas sudah di jidatnya ada label 'pesugihan'.
Kamu tak perlu kaget, tak perlu melakukan verifikasi seperti cross-check dan cover both-side. Sebab, di sebuah negara antah berantah fenomena ganjil dan jelas tak masuk akal, sangat mungkin terjadi.
Jika kamu yang berhasil hidup di lingkungan masyarakat modern dan maju, lalu membaca tulisan ini, maka kalau saya katakan ada koruptor yang berhasil mengganyang uang negara sebesar 300 triliun (kalau buat beli iPhone 16 --sekitar 16 juta di tahun 2024-- maka boleh mendapatkan delapan belas juta tujuh ratus lima puluh ribu unit) hanya dihukum 6 tahun penjara, dan masih sangat mungkin berkurang.
Sangat lucu, kan? Benar, lucu sekali. Bahkan orang yang sudah mati di kuburan sampai malaikat di kayangan terpingkal-pingkal miris.
Freelancer lain cerita, ia hanya akan mendapatkan upah saat bekerja. Makanya bisa dikatakan kalau freelancer hanyalah serabutan online.
Sedangkan lingkungan yang kurang tepat, akan menganggap bahwa para freelancer adalah orang yang tidak bekerja. Akhirnya, freelancer teralienasi.
Hidup di masa peralihan yang begini memang enggak gampang-gampang amat. Bisa-bisanya pekerja lepas berubah menjadi lepas pekerja.
Meski begitu, saya akhirnya menyadari bahwa sesuatu --yang buruk pun-- jika sudah terbiasa, akan menjadi suatu hal yang biasa. Para akademisi mengatakan sebagai normalisasi.
Tetapi lantas kamu membantah, oh freelancer tidak begitu, meski kelihatan enggak ngapa-ngapain tetapi upahnya bisa dua digit per bulan.
Sekali lagi, masyarakat yang konvensional tidak memandang besaran upah. Melainkan sesuatu yang jauh lebih krusial berkaitan dengan dengan status sosial.
Kalau kamu seorang freelancer dengan penghasilan minimal 15 juta per bulan, memiliki passive income dengan nilai aset lebih dari 250 juta, dan berhasil membuka lapangan pekerjaan untuk menyelamatkan puluhan anak muda desa dari nasib menganggur, akan tetap dianggap tidak bekerja jika dibandingkan dengan seorang pegawai negeri dengan penghasilan ~5 juta per bulan.
Lebih parahnya, kamu tidak ada apa-apanya dengan serabutan offline seperti pekerja bangungan dalam persoalan status sosial.
Tetapi di tempat saya masyarakat tidak memandang freelancer begitu. Maka kamu harus bersyukur.
Saya lantas teringat dokumenter Pramoedya yang mengabadikan nasihat ibundanya bahwa, semua yang bekerja itu mulia, yang tidak bekerja tidak memiliki kemuliaan. Tampaknya, masyarakat yang menganggap freelancer sebagai orang yang tidak bekerja, tak benar-benar memahami apa itu yang dimaksud dengan kerja.
Terlampau buta memegang kepercayaan tentang bibit (status sosial), bebet (tingkat ekonomi), dan bobot (karakter pekerti).
Freelancer dalam pandangan masyarakat yang demikian sudah seperti bibitnya anjlok ke dasar bumi, bebetnya tidak jelas untuk masa depan, dan bobotnya berantakan karena terlihat pemalas.
Para freelancer yang mengalami keadaan seperti di atas semoga kalian tetap kuat. Elus dada untuk meningkatkan kesabaran, pahami bahwa ujian di dunia sementara belaka.
Sebab, mengubah pandangan masyarakat yang terlanjur membatu justru hanya akan membuat kepala kamu tertimpa batu.
Freelancer bukanlah nabi yang memiliki kesabaran luar biasa. Jadi, kalau kepala kamu tertimpa batu, mungkin kamu akan membalasnya dengan dua buah batu. Itu akan menimbulkan sengkarut yang lebih runyam.
Lalu freelancer yang sudah di ambang batas mau meledak harus apa? Sabar dan diam adalah kuncinya. Kalau kamu suka memancing ikan, segera letakkan semua beban di pundak, lalu berangkatlah memancing walaupun panas pun hujan badai.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi