Jurnalisme online, cepat atau akurat?
Akhir abad 20, sekitar 1990-an.
Ketika jaringan internet mulai dikenal di Indonesia melalui penyedia layanan internet komersial pertama bernama Indonet, berdiri pada 1994.
Republika Online dengan domain republika.co.id digadang-gadang adalah media daring pertama yang tayang, yakni pada 17 Agustus 1995, dua tahun setelah Harian Republika terbit.
14 September 1995 muncul Kompas Online (KOL) memakai domain kompas.co.id, kemudian pada 1996 mengubah domain jadi kompas.com.
Pada 1996, Tempo Interaktif dengan domain tempointeraktif.com yang sekarang ganti menjadi tempo.co.
Alasan tidak pakai tempo.com sebab domain tersebut telah dipakai.
Media pemberitaan daring Tempo tayang juga di wajah dunia maya. Dengar-dengar karena awak media Tempo menganggur sebab saat itu majalanya diberedel Orba.
Kalau meminjam kata Anderson menjadi Orde Babe, atau Joss Wibisono menjadi orde baru --ditulis kecil.
Pemberitaan daring bukan hal usang. Namun dalam jangka hampir tiga dekade ini perkembangan pesat mirip hewan liar yang lepas tali lehernya.
Selanjutnya, Harian Waspada meluncurkan Waspada Online (WOL) dengan domain waspada.co.id pada 11 Januari 1997.
Merekalah generasi pertama media online di Indonesia (Media Online, hal. 16, diterbitkan AJI Indonesia)
Mereka tersebut pada awalnya untuk menyalin versi cetak ke versi digital.
Dalam kata lain, hanya menampilkan replika dari berita-berita harian yang terbit pada hari itu.
Jagat pemberitaan daring yang fitrah dipelopori oleh Detik.
Domain detik.com muncul pada 9 Juli 1998 tanpa mengekor media cetak mana pun.
Dalam maksud lain, detik.com berdiri sendiri secara otonom.
Meski menyandang nama Detik, tidak ada hubungan apa pun antara
detikcomdengan Tabloid Detik dan Detak... (Media Online, hal. 17)
Awal abad 21, media-media pemberitaan daring mulai bermunculan.
Mulai situs hiburan seperti kapanlagi.com sampai situs agak serius seperti merdeka.com yang dibuat oleh kelompok yang sama.
Pada 2013, media pemberitaan daring mulai mempercantik serta memanjakan pembacanya.
Seiring berjalannya waktu, kolaborasi media pewarta dengan teknologi makin inovatif.
Misalnya, mereka bisa secara langsung dan bebas memberi komentar pada kolom komentar yang diberikan pada laman situs webnya.
Partisipasi pembaca diberi ruang lebih luas dalam layanan blogging.
Detik.commenyediakandetikblog, sementarakompas.commembukakompasiana. (hal. 22)
Hingga akhirnya berdiri dimensipers.com pada 2015 lalu, kira-kira masih empat tahun, usianya terlalu muda untuk mati.
Sayangnya, semakin banyak, mudah, dan bebas tiap individu membuat situs web, gencarnya media pewarta daring sejalan dengan meledaknya isu-isu hoaks.
Kisah Imanda Amalia
Imanda Amalia dikabarkan tewas di Mesir pada 2011 ketika kerusuhan atas pergolakan politik di sana.
Berita tentang WNI tersebut meluap ke publik di Indonesia lewat media pemberitaan daring.
Bahkan, raksasa-raksasa pewarta daring mulai detik.com, kompas.com, viva.co.id, okezone.com, serta tribunnews.com.
Untung dimensipers.com belum lahir sehingga tidak turut menyebarkan berita tentang Imanda Amalia yang ternyata adalah hoaks.
Imanda Amalia sehat walafiat. Seorang mahasiswi pascasarjana UGM saat itu, dan sama sekali bukan WNI yang tewas karena kerusuhan di Mesir.
Media-media di atas tersebut kemudian menulis kelanjutan tentang Imanda Amalia. Jika ada berita yang terlempar ke ruang publik, dan berita tersebut adalah tidak benar, maka amat perlu diumumkan klarifikasi.
Jika tidak, pewarta tersebut telah menjerumuskan banyak umat pada kesesatan informasi.
Para warganet yang maha benar, membicarakan Imanda Amalia. Sempat pula mengirim ucapan duka cita, simpati, dan sejenisnya.
Tentu saja, bertanya siapa sosok Imanda Amalia itu. Dan jika bertanya, warganet yang maha benar yang lainnya akan menjawabnya.
Memperkuat isu. Semakin menyebarkan hoaks secara tidak sadar.
Mereka yang tersambung dengan internet memiliki wadah yang tampak terpercaya, tanpa peduli dengan etika dan elemen jurnalisme, bisa menyebarkan segala sesuatunya.
Menjelma jadi pewarta seketika. Artinya, semua warga internet adalah jurnalis!
Fakta yang terjadi di media sosial merefleksikan satu hal: ruang-ruang informasi kini bukan lagi hanya milik jurnalis dan media, tapi juga warga biasa. Jurnalis dan media kini bukan lagi pihak yang memiliki privilege penyebar informasi (hal. 10)
Istilah-istilah baru tentang fenomena itu muncul. Seperti citizen journalism atau jurnalisme warga, participatory journalism, alternative journalism, open source journalism, hyperlocal journalism, hingga network journalism.
Tiap media pemberitaan daring, dalam hal ini situs web, memiliki pedoman pemberitaan dan bisa kalian cek satu-satu.
Sejarah mencatat, media-media baru selalu hadir seiring dengan perkembangan teknologi.
Penemuan mesin cetak menghasilkan media cetak. Munculnya radio melahirkan jurnalisme radio. Begitu pula munculnya televisi, melahirkan jurnalisme broadcasting.
Setelah internet bukan jadi hal yang mustahil, orang-orang makin lari ke "dunia datar" tersebut.
Bahkan nyaris semua media pemberitaan daring mainstream memakai inovasi yang lebih khusus, yaitu aplikasi di PlayStore ponsel, dll.
Tampaknya, internet telah jadi kebutuhan pokok.
- Papan
- Sandang
- Pangan
- Internet
Barangkali kita kerap mendapati berita runnews.
Berita dari pewarta daring yang memburu cepat. Dampaknya, akan ada beberapa tulisan yang ditulis beberapa wartawan dengan tema yang sama. Di situlah keakuratan berita diuji.
Sayangnya, dimensipers.com belum mampu menciptakan siklus arus besar begitu.
Jika ada isu, berita, atau agenda maka hanya akan ada satu-dua tulisan dengan tema yang sama.
Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa hal, Dimensi tidak mengejar traffic, sesuatu yang menjadi tujuan media online dewasa ini.
Memiliah berita mana yang hendak diliput dan mana yang tidak, dan yang paling mempengaruhi --seperti kebanyakan LPM lainnya-- krunya sedikit.
Namun perlu diingat, meski online, dan muskil diberedel, kita harus tetap mempertimbangkan cover both side.
Tetap memegang 9 elemen jurnalisme. Ditambahkan dengan pedoman pemberitaan media siber yang dikeluarkan Dewan Pers pada 2012, Kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI), dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ).
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi