Usia 30 tahun dan menganggur
Usia 30 tahun dan menganggur, definisi hidup ketar-ketir. Terlebih saya laki-laki, seorang suami, merangkap ayah, sekaligus anak tertua dari adik-adik yatim. Dalam arti yang jauh lebih sederhana, bisalah dikatakan kalau saya ini adalah beban keluarga. Baik keluarga sendiri maupun keluarga mertua.
Aih, ini hidup yang menantang, belum tentu kalian akan mampu menjalani kehidupan yang begini. Jadi, biar saya ceritakan bagaimana saya mampu tetap bertahan, dan agaknya masih memiliki harapan optimis.
Siapa saya kok seperti mau memberi motivasi ini? Sekalian disklaimer saja, artikel ini saya tulis berdasarkan pengalaman, tanpa latar belakang psikologis atau pendidikan terkait.
Stigma buruk dan citra tak keruan sudah melekat di dahi saya. Belum lagi segudang masalah yang mustahil diselesaikan dalam waktu enam tahun ke depan. Aih, aih, sekali lagi, ini hidup yang menantang.
Lantas, bagaimana saya masih bisa bertahan sampai sekarang? Sederhana, andai kalian tahu, saya hampir merasakan bagaimana itu kematian beberapa kali. Mati yang sesungguhnya. Dan, sudah berkali-kali saya mati dalam artian kehilangan harapan hidup.
Pengalaman tentang kematian dalam 30 tahun ini menyadarkan sesuatu yang amat penting: bahwa, saya masih hidup, dan masih waras.
Seburuk-buruknya kehidupan ini, masih lebih baik daripada mati. Kesadaran itu pula yang berhasil membangkitkan harapan saya yang sudah berkali-kali padam.
Sedangkan kalau sampai sekarang masih menganggur, kenapa tidak mencari pekerjaan? Aih, aih, kalian juga tidak tahu bagaimana usaha yang sudah saya lakukan, atau seberapa panjang doa-doa yang saya panjatkan pada malam-malam, pagi-pagi, siang-siang yang ramai dan gemilang itu.
Seorang teman pernah mengingatkan, bahwa berdoa itu biasa-biasa saja. Sebab, kalau sampai terlalu serius dan tidak mendapat jalan keluar saat itu juga, dapat menyebabkan kesangsian pada keyakinan atas takdir Allah SWT.
Saya berdoa tidak biasa-biasa saja, bahkan saya juga berdoa dalam posisi yang agaknya aneh. Bukan cuma duduk, melainkan juga sujud, berdiri, jongkok, hingga berkendara dan saat memancing ikan.
Pada titik-titik yang lalu, saya sempat berpikir kalau nasib yang begini karena sebuah kutukan --hal klenik. Lalu pikiran yang begitu saya abaikan karena bukan hanya saya manusia yang memiliki problema kehidupan seperti ini.
Jadi, apa ini sebenarnya, usia sudah 30 tahun namun masih menganggur? Entahlah, saya juga tidak tahu.
Jika kalian mengalami hal serupa, ingatlah ini sebagai obat bius: sadari kalian masih hidup, dan sadari kalian masih waras. Pun kalau kalian sama-sama tidak memiliki apa-apa selain nyawa, dan nyawa itu pun sejatinya hanya titipan.
Coba ucapkan ini:
Alhamdulillah ya Allah, Engkau masih memberi hamba hidup
Alhamdulillah ya Allah, Engkau masih memberi hamba hidup
Alhamdulillah ya Allah, Engkau masih memberi hamba hidup
Saat kita semua menyadari kalau masih hidup merupakan anugerah yang tak terbantahkan. Tak ada ada satu alasan yang menghalangi kita untuk bersyukur.
Takdir Allah SWT begitu lembut dan indah, dan penuh cinta, pun dalam kegetiran yang fana. Kita hanya perlu membiak satu per satu tabir itu untuk menemukan makna kejadian sejati.
Di usia 30 tahun dan menganggur, saya pikir ini bukan sesuatu yang berhak mengganggu kita. Masalah lain seperti belum memiliki tabungan, punya utang menggunung, tidak dianggap manusia oleh masyarakat materalistik, atau belum berhasil membeli alat pancing baru. Juga bukan sesuatu yang berhak mengganggu.
Kita bukan orang spesial, sebab ada jutaan manusia sebelum kita, dan jutaan manusia setelah kita yang bakal mengalami problema serupa. Jadi, apa yang akan kita lakukan? Biarkan mengalir saja, syukuri semuanya, dan mohon ampun atas segalanya mumpung masih ada waktu.
Sebab, kalau kita sudah tidak hidup, atau kita sudah tidak waras; maka tidak ada kesempatan untuk bersyukur dan memohon ampun itu.
Selebihnya, terkait hal-hal yang berada di luar kendali kita, mari serahkan semua-muanya pada Allah SWT.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi