Mancing malam, arak, dan Setetes air mata

Mancing malam di kali pinggir sawah sambil minum anggur (atau sejenisnya) sudah saya rencanakan sejak berusia 25 lalu, namun baru bisa terwujud lima tahun kemudian, malam ini.

Jangan salah, sebagai orang yang merasa dilahirkan untuk memancing ikan, saya mancing malam hampir setiap hari, namun tidak dengan anggurnya.

Suasana malam yang dingin, sepi, sunyi, dan agaknya hitam itu seperti kabur saja. Kita semula berlima, satu per satu memutuskan undur setelah salah seorang dari kami mengeluarkan botol air mineral yang berisi cairan tidak seharusnya. Hingga pukul 11, hanya tersisa dua orang; saya dan ia yang mengeluarkan botol

Saya terharu melihat botol tersebut. Biasanya hanya di indekos seorang teman beberapa bulan yang lalu. Tetapi sekarang, saya benar-benar menemukannya di pinggir kali. Rencana setengah dekade yang lalu sebentar lagi akan terlaksana, pikir saya.

Jika kamu bertanya apakah mancing malam sambil minum arak di kali pinggir sawah yang dingin, sepi, sunyi, dan hitam itu menyenangkan? Pada saat itu, ya. Setelahnya, tidak.

Kita menghabiskan sebotol itu tanpa bersuara. Kasturi orang sini bilang, kasih tuang sendiri. Tentu saja, mumpung ada minuman gratisan, saya tuang sampai penuh seloki.

Satu per satu tenggakan, satu per satu umpan dimakan ikan, satu per satu sengkarut kehidupan rontok seperti rambut orang berusia 35 tahun.

Kita merasa seperti tidak di dunia, ini benar adanya, kondisi setengah sadar, selangkah ke depan adalah kali yang dapat membawa kita ke dunia lain. Namun, juga merupakan waktu yang sangat ringan, segala sengkarut kehidupan berkurang separuhnya.

Kegiatan mancing malam yang menyenangkan itu kami selesaikan pukul setengah tiga malam. Sedangkan nanti harus bangun pukul lima dini hari seperti biasa. Itu artinya, saya hanya memiliki waktu sekitar dua jam untuk berbaring dan menutup mata.

Setelah kegiatan itu, efek samping arak masih terasa. Pagi harinya saya seperti mayat hidup; rambut acak-acakan, setengah sadar, mata merah, mulut terbuka, celana terbalik.

Tetapi itulah salah satu malam yang cukup berkesan. Malam yang menghilangkan sengkarut lewat setetes yang jatuh dari mata. Nikmat benar, terharu benar, setelah masuk surga kelak saya ingin langsung mengadakan pesta miras di pinggir kali bersama para pemancing meski tak tahu namanya satu per satu.

Air surga, saya penasaran apakah air sungai di surga benar-benar terbuat dari anggur? Jika iya, beruntung betul ikan-ikan yang berenang di sana. Tak perlu iuran 10 ribu per orang untuk membeli segendul yang harganya 65 ribu.

Baiklah, baik, jika ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi, kalau ada umur panjang, boleh kita minum sambil mancing lagi. Sekian dan terima satu seloki.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi