Memancing malam hampir setiap hari

Catatan ini akan mengisi rubrik kategori cerita mancing sebagai yang pertama kalinya. Jadi, kupikir akan lebih cocok jika aku membahas hal sederhana, seperti mancing malam.
Mancing malam dulu dan sekarang bagiku berbeda.
Dulu, mancing malam aku benar-benar berada dalam kegelapan dan kengerian yang mencekam. Tidak ada cahaya selain dari senter yang melekat di batok kepala. Tidak ada suara selain dari congor seorang teman. Dulu, aku mustahil mancing malam sendirian.
Sekarang, mancing malamku punya dua syarat khusus. Pertama, harus ada warung kopinya. Kedua, harus terang. Tidak ada kegelapan dan kengerian itu lagi. Mancing malam, aih, bukan, barangkali lebih pas kusebut sebagai wisata malam. Menjadi begitu biasa-biasa saja tanpa jedag-jedug di dada seperti dahulu. Ya, meski sekarang sudah terbiasa mancing malam sendirian karena di warung kopi yang terang.
Tetapi biarlah, semua hal niscaya berubah. Aku dan kau barangkali hanya perlu bersepakat dengan waktu. Apalagi waktu yang sudah menunjukkan usia tidak muda lagi.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi