Catatan dari Bawah Tanah, Fyodor Dostoyevski
| Judul asli | Записки из подполья |
|---|---|
| Judul transliterasi | Zapiski iz podpolya |
| Judul Inggris | Notes from Underground |
| Judul Indonesia | Catatan dari Bawah Tanah |
| Penerbit | Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) |
| Tahun terbit | 2016 |
| Tahun terbit pertama | 1864 (dipublikasikan secara berseri melalui jurnal sastra Rusia bernama Epoch |
| Penerjemah | Asrul Sani |
| Sebelumnya diterbitkan | PT Dunia Pustaka Jaya |
| Cetakan 1 | 1979 oleh penerbit ini |
| Cetakan 2 | 1992 oleh penerbit ini |
| Cetakan 3 | 2008 oleh penerbit ini |
| Jumlah halaman | vii + 155 halaman |
| Ukuran | 14 x 21 cm |
| Jenis | Novela |
| ISBN | 978-602-6208-86-6 |
Yang menarik, Catatan dari Bawah Tanah terasa seperti campuran antara esai filsafat, pengakuan pribadi, curhatan, dan cerita fiksi. Bagian pertama bahkan hampir tidak memiliki alur cerita; isinya berupa monolog tokoh utama yang mengkritik gagasan bahwa manusia selalu bertindak rasional demi kepentingannya sendiri.
Saya bingung memasukkannya dalam kategori apa, sehingga biar aman masuk saja ke novela. Ditulis zaman lawas, terbit 1864 secara berseri melalui jurnal sastra Rusia bernama Epoch. Lantas kemudian dibukukukan dan dialihbahasakan sampai ke bahasa Indonesia, dan akhirnya pada Mei 2026 setelah melalui perjalanan begitu panjang sampai juga di depan mata saya.
Sangat terlambat, ya? Barangkali tidak, mungkin iya. Tergantung bagaimana kita menilai apa yang kita sepakati dengan terlambat itu. Sebab, mustahil juga saya memelototi buku ini di tahun 1864 atau setelahnya sebab saya pun masih belum berwujud manusia. Fyodor 'terlanjur' menulis bahkan sebelum sempat ayah-ibu saya bersepakat membikin saya.
Saya perlu sedikit menceritakan latar belakang mengapa saya membaca buku ini. Alasanya ada dua, pertama, saya haus akan cerita kelam dan murung macam Gagal Menjadi Manusia (Osamu Dazai). Kedua, saya juga haus akan cerita yang berbentuk liar dan ringkas macam tulisan-tulisan --atau semacam curhatan-- Amato Assagaf.
Dan, apakah Catatan dari Bawah Tanah dapat menjadi tuak Tuban segar yang dapat meredakan kehausan saya? Entahlah. Saya masih selesai membaca Bagian I di awal saja, dan seperti sebelumnya, saya tulis resensi --atau semacam catatan setelah baca buku-- ini sembari membacanya. Itu akan terasa lebih memberi kejutan daripada harus saya membacai semua isi buku, baru kemudian menuliskan catatan tentangnya.
Daftar isi
Daftar Isi ... v
Foto Fyodor Dostoyevski ... vii
Bagian I ... 1
Bagian II ... 49
Tentang Penulis ... 154
Bagian I
Melihat daftar isinya cukup menarik, ringkas dan hanya begitu saja. Dazai di No Longer Human juga memiliki daftar isi yang ringkas, bentuk yang seolah mendobrak daftar isi-daftar isi umum di buku-buku sekarang. Saya cukup berharap buku ini bagus.
Seperti yang sudah saya sampaikan di paragraf pertama. Bagian I hampir tidak memiliki alur cerita, berisi monolog. Ringkas dan emosional, apakah memang begitu tulisan-tulisan pada 1860-an ditulis, ya?
KINI, TUAN-TUAN, aku akan menceritakan, apa Anda ingin mendengarkan atau tidak, kenapa aku bahkan tidak bisa jadi seekor serangga. Dengan sungguh-sungguh kukatakan bahwa aku sudah berkali-kali mencoba untuk jadi serangga.
hal. 7
Aduh, Dostoyevski! Pada 1849 kau itu sudah berdiri di hadapan regu tembak yang bakal mencabut nyawamu. Masak kau menulis ingin menjadi serangga! Kau sudah melihat apa itu kematian dengan mata kepalamu sendiri! Saya benar-benar berharap lebih pada buku ini. Meski, terus-terang saja, saya belum bisa menikmati terjemahan dari The Gambler-mu. Menutup buku itu bahkan sebelum sampai ke halaman 20.
Bagian I tersusun dari 11 bagian, ditandai dengan angka besar di tiap satu darinya. Dostoyevski memang sedang curhat. Barangkali isinya hanya akan dipahami oleh dirinya sendiri. Saya jadi bertanya mengapa sebuah majalah saat itu mau menerbitkan curhatan seseorang yang kelam dan murung.
...aku sudah sampai pada titik tempat aku merasakan semacam kenikmatan aneh penuh rahasia dan memuakkan waktu pulang ke sudutku pada suatu malam Petersburg yang memualkan, penuh kesadaran bahwa pada hari itu aku lagi-lagi melakukan perbuatan yang keji, bahwa apa yang telah dilakukan tidak bisa dihapus lagi, dan dengan diam-diam menggerogoti diriku sendiri karenanya, merobek dan melahap diriku sendiri sehingga akhirnya kegetiran itu berubah menjadi semacam kemanisan terkutuk yang memalukan, dan akhirnya jadi kenikmatan yang betul-betul nikmat! Ya, jadi kenikmatan, kenikmatan! Itu harus dikatakan.
hal. 8-9
Ia akhirnya juga menyadari kalau apa yang ia tulis di bagian-bagian atas merupakan omong kosong belaka.
Cukup sekian... ah, sudah banyak omong kosong yang kuutarakan,...
hal. 9
Apa pula Bagian I ini, saya terasa sulit memahami apa yang hendak Dostoyevski sampaikan sebagaimana yang ada di The Gambler. Terlalu panjang dan njlimet. Asu... saya barangkali akan setuju dengan Osamu Dazai yang mengatakan Dostoyevski sebagai benak yang kacau, dasar kolam keruh penuh sampah...
Mengapa ia tidak mencoba untuk membuat narasi dengan bahasa yang sederhana saja? Harus perumpamaan-perumpamaan aneh yang berubah jadi seonggok variabel, bertemu dengan variabel lain, yang disambungkan dengan kejadian dalam variabel pula? Terlalu banyak simbol-simbol dalam tata bahasa rancu yang barangkali menggambarkan betapa rancu pula isi kepalanya.
.
.
.
Saya benar-benar tidak mampu memahami apa yang hendak Dostoyevski sampaikan. Akhirnya tidak saya lanjutkan. Saya tutup buku ini di halaman 20 --seperti The Gambler. Saya kecewa --entah pada kemampuan memahami saya yang dangkal, harapan saya akan buku ini yang terlalu besar, Dostoyevski yang benar-benar kacau benaknya, terjemahan yang kurang bersahabat, atau entah apa...
Intinya... sekian.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi