Begitu rupa edan
Begitu rupa edan kehidupan
satu langkah ke cahaya
seribu rintangan merajalela
sepuluh langkah ke lubang
mulus tanpa kendala
Saya telah dipermainkan
oleh hantu-hantu tersesat
ajak-ajak
mencak-mencak
nggandoli tangan dan kaki
kelimpungan diri
Segelas seloki
kubang kenang
merah jambu
merah hati
hati-hati
pergi lagi
Buku teronggok berbaring kesepian
di atas wajah penuh kelelahan
sengkarut biru, tulisan rancu
berpilin seremoni melepas sepi
Tercium aroma keringat,
belum mandi
magrib datang entah kapan
empat hari yang lalu udara masih dingin
di dalam celana masih pesing
Cerita kematian orang begitu menarik
perhatian saya
ada yang ketiban kura-kura dari langit
ada yang dihajar sepi tanpa menjerit
ada yang kesakitan, ada yang kedinginan
bara api di ujung jari
membakar sengkarut sembelit
Perut sakit,
mental sakit,
pantat silit,
otak pelit,
geser sedikit.
Deru orang baju hitam
berbondong semangatnya
menyala di kobaran api
kemelaratan, edan-edanan
tuding-menuding, adu jotos
sepi-sunyi saya lumat sendiri
edan ini,
enak sekali
Lampu kuning di warung kopi
terpencil di Tulungagung
jadilah puisi
berbentuk pedang panjang
yang kembar
satu di tangan kanan,
lainnya di dada kiri
tembus ulu hati
Oh... Gusti...
ampun, Gusti...
jangan Engkau benci
pun Engkau maki
orang edan, kan
bisa dimaklumi?
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi