Arti kode H joran tegek dan tabel action lengkap
Catatan ini akan menjelaskan arti kode H joran tegek dengan lebih lengkap. Sebab, aku telah melakukan riset panjang tentang topik ini; hingga pada sistem tonality yang dipakai di joran tegek asal Tiongkok.
Jika kamu enggan membaca catatan panjang, inti dalam pembahasannya adalah ini.
Tidak ada aturan baku yang berlaku mutlak dan universal tentang kode H pada joran tegek. Sedangkan kita bebas memaknainya dengan mudah sebagaimana yang sekarang, yaitu semakin tinggi kode H, semakin kaku juga joran tersebut. Selain itu, ada banyak (untuk tidak menyebut banyak sekali), label H dimark-up sehingga tidak akurat.

Semacam pendahuluan
Saat melihat tegek impor yang ada di Indonesia, seringkali muncul angka atau kode aneh seperti 4H, 6H, 8H, 10H, sampai 14H bahkan lebih. Pertama melihat, kita mengabaikan. Namun saking seringnya melihat, muncul juga itu yang namanya penasaran.
Aku sendiri butuh waktu cukup lama untuk benar-benar mendapat definisi paling mendekati kode H joran tegek tersebut.
Sudah bertanya kepada penjualnya langsung; yang kemudian dijawab dengan sederhana bahwa, semakin besar nilai H maka joran semakin kaku. Yang menurutku bukan merupakan sebuah jawaban tentang apa itu kode H pada joran tegek.
Sedangkan di internet, tidak ada blog mancing di Indonesia yang membahas tentang hal tersebut; kecuali dua blogku sendiri yang mana keduanya sudah tidak aktif.
Aku juga bertanya ke Jarvis, asisten pribadiku, yang kemudian mengantarkan aku kepada blog mancing luar negeri sampai negeri Tiongkok. Bangsat pula, bahasanya aneh seperti simbol-simbol tidak jelas.
Dalam catatan ini aku akan merangkumnya dalam bahasa yang semoga saja sudah sederhana. Dan mudah dipahami, itu yang paling penting.
Soalnya, menarik juga tahu dari mana asal-usul istilah kode H yang didahului dengan angka di joran tegek.
Oya, catatan ini terbuka dengan semua kripik-saran dari para suhu mancing sekalian!
Apa arti kode H pada joran tegek?

Akan kubagi saja menjadi beberapa poin penting ringkasan biar tidak terlalu banyak omong kosong lagi di sini.
Poin pertama.
Kode H adalah singkatan dari hardness.
Poin kedua.
Secara harfiah, hardness berarti kekerasan bahan. Yang mana semakin keras (dan padat) bahan blank joran, akan membuatnya semakin kaku.
Poin ketiga.
Mengadopsi istilah hardness ke dalam industri joran pancing, maknanya bergeser dari kekerasan menjadi kekakuan.
Poin keempat.
Belum ada badan resmi yang memberlakukan aturan baku agar berlaku mutlak dan universal untuk menjelaskan hardness dalam industri joran pancing khususnya tegek.
Hal tersebut pula yang membuat tegek 10H di satu merek, bisa sangat berbeda tingkat kakunya dengan tegek 10H di merek lain.
Poin kelima.
Karena belum ada standar sebagaimana pada poin keempat di atas, maka tidak ada cara mengukur atau mendefinisikan kode H joran tegek ini secara seragam untuk semua merek. Itulah kenapa penting untuk kita semua memahami konsep awalnya.
Sehingga kita tidak berpegang pada angka H yang bersifat nisbi dan relatif itu.
Menjelajahi makna kode H tegek lebih dalam

Berdasarkan poin-poin di bagian sebelumnya, kita sebenarnya sudah bisa menarik sebuah definisi yang paling bisa diterima. Yaitu begini.
Kode H joran tegek adalah angka yang menunjukkan seberapa besar tenaga yang dibutuhkan untuk membuat joran melengkung; di mana semakin tinggi angka H, maka akan semakin besar tenaganya.
Tentu saja, definisi tersebut tidak berpatokan pada standardisasi mana pun. Istilah semakin tinggi jelas tidak konkret. Tetapi, bukankah kita sepakat dengan itu?
Polemik yang paling umum tentang memahami kode H tegek bisa kita klasifikasi menjadi dua sudut pandang.
Pertama, yang mengartikan H sebagai kekerasan bahan, hardness dalam arti harfiah. Dalam kerangka pengertian ini, semakin tinggi angka H, maka semakin keras dan padat material yang digunakan untuk membuat blank/ruas tegek tersebut. Mirip dengan konsep kekerasan bahan pada ilmu material, seperti resistensi permukaan terhadap goresan.
Kedua, yang mengartikan H sebagai kekakuan atau rigidity (stiffness). Sedang dalam kerangka pengertian ini, kode H menunjukkan seberapa besar tenaga yang dibutuhkan untuk membuat joran melengkung. Yang kemudian kita jadikan sebagai definisi paling dekat untuk menjelaskan hardness tegek di Indonesia.
Tentu, aku memilih pendekatan dengan pengertian kedua tersebut bukan tanpa alasan.
Sebab, secara etimologi, kata hardness memang berarti kekerasan.
Hanya saja secara fungsional, yaitu apa yang benar-benar ingin dikomunikasikan produsen lewat hardness tegek ini ke pemancing, jawabannya jauh lebih dekat ke kekakuan.
Yang kita cari saat melihat kode H bukan seberapa tahan gores materialnya, kan?
Melainkan, seberapa besar tenaga yang dibutuhkan untuk menekuk joran saat mendapat ikan.
Akhirnya...
Meski namanya "hardness", kode H joran tegek dalam praktiknya lebih berfungsi sebagai indikator kekakuan.
Variasi angka pada kode H joran tegek
Di pasaran Indonesia, variasi angka pada kode H joran tegek yang paling umum kita temui adalah 2H, 3H, 4H, 5H, 6H, 7H, 8H, 9H, 10H, 12H, 14H, sampai 16H,
Beberapa merek mungkin saja mengklaim angka yang lebih tinggi lagi, meski tanpa standar pengujian yang seragam.
Kode H juga erat kaitannya dengan tonality yang diadaptasi dari sistem hand-rod Tiongkok. Tonality (调性, dibaca "tiáoxìng"), yang secara sederhana mengukur di titik mana sebuah joran mulai melengkung ketika mendapat beban.
Cara mengukurnya dengan membagi 10 bagian sama panjang. Sehingga klasifikasinya akan menjadi 19 (1:9) yang berarti sangat kaku hingga 55 (5:5) yang berarti sangat lentur.

Lihat tabel berikut.
| Kode H | Karakter | Tonality | Titik lengkung |
|---|---|---|---|
| 2H atau kurang | Sangat lentur, melengkung merata | 55T | 50% dari ujung (parabolic) keseluruhan |
| 3H-4H | Lentur, terasa di tangan | 46T | 40% dari ujung |
| 5H-6H | Sedang, all-round | 37T | 30% dari ujung |
| 7H-8H | Kaku, respons cepat | 28T | 20% dari ujung |
| 8H atau lebih | Sangat kaku, hampir tidak melengkung | 19T | 10% dari ujung |
Ingat, tabel tersebut bersifat estimasi kasar berdasarkan korelasi umum, yang jelas bukan patokan mutlak. Tetap ada kemungkinan (malah kemungkinannya sangat besar) bahwa suatu merek punya standar penilian kode H joran tegek yang berbeda dengan merek lain.
Selain itu, seperti yang sudah aku sampaikan di awal, bahwa cukup banyak produk yang label kodenya tidak akurat alias di-mark-up.
Karena, ya, memang. Semakin tinggi angka H semakin menggoda, serta tidak ada standar baku yang berlaku secara umum.
Sedangkan untuk menunjukkan kekakuan, sebenarnya tonality (T) malah lebih akurat daripada angka hardness (H) yang masih ambigu itu.
Tonality (T) lebih akurat menilai kekakuan joran tegek

Antara tonality dan hardness, keduanya mengukur dimensi yang agak berbeda. Tetapi kalau bicara soal mana yang lebih bisa kita percaya untuk menilai kekakuan tegek, tonality (T) lebih akurat dan konsisten.
Kenapa? Sebab, tonality joran punya metodelogi pengukuran yang jelas. Sebagaimana yang sudah kita bahas, semua ruas dibagi menjadi 10 ruas sama panjang, lantas diberi beban untuk melihat di mana titik lengkungnya mulai terjadi.
Artinya, siapa pun yang mengukur dengan cara yang sama akan mendapat hasil yang relatif konsisten. Terlepas dari merek apa tegek itu.
Sedangkan hardness (H) masih terasa ambigu. Meski secara fungsi dapat kita artikan mengukur seberapa besar tenaga untuk menekuk joran tersebut. Kode H joran tegek sampai artikel ini kutulis belum punya standar pengujian yang seragam antar pabrik/merek.
Tonality tegek sama tetapi harga beda

Setelah jelas dengan hardness atau kode H di joran tegek. Ada baiknya kita juga membahas perihal tonality (T) yang sama tetapi harganya beda. Misalnya, dua tegek 19T 8H, satu harganya Rp300 ribu, satunya lagi Rp1,5 juta.
Mengapa hal keparat macam itu bisa terjadi?
1. Kepadatan carbon yang berbeda
Pertama, kepadatan carbon pada blank joran tegek yang berbeda. Aku sudah membahas beberapa klasifikasinya di mengenal tegek.
Yang mana, ada standar modulus, intermediete modulus, high modulus (yang cukup populer), dan ultra high modulus.
Grade carbon yang rendah dan kepadatan serat yang kurang rapat. Secara angka tonality atau kode H joran tegek, hasil pengukurannya bisa saja mirip.
Tetapi dari sisi kekuatan menahan beban berulang dan daya tahan terhadap fatigue (kelelahan material), carbon dengan kepadatan rendah akan lebih cepat aus dan berisiko patah.
2. Rasio resin dan fiber yang banyak
Kedua, Uzaki Nissin (atau yang biasa kita sebut dengan tegek Nissin saja), itu memiliki klasifikasi sendiri untuk rasion resin dan fiber dalam blank carbon mereka.
Beberapa di antaranya ada:
- WSVF (kualitas terbaik);
- HSVF (kualitas lebih baik);
- MSVF (kualitas baik); dan
- TSVF (kualitas paling standar).
Resin dan fiber produsen pancing tambahkan semata-mata untuk menekan biaya produksi. Mungkin, juga biar produk tegek mereka lebih bervariasi juga.
Kedua bahan tersebut akan menjadi perekat serta memberi tambahan kekakuan tegek. Tetapi, resin itu sifatnya getas kalau dibandingkan dengan serat carbon murni.
Oleh karenya, tegek yang rasanya kaku di awal, namun lambat laun mudah retak atau malah pecah tanpa sebab jelas. Misalnya ketika menyentak ikan biasa, blank kaget, tiba-tiba patah.
3. Proses gulungan dan curing kurang presisi
Alasan lainnya yaitu proses rolling atau penggulungan lembaran carbon. Di mana tegek premium, biasanya punya proses yang lebih rapat dan pemanasan (curing) yang terkontrol.
Hasilnya, merupakan distribusi kekuatan di sepanjang batang yang merata. Kalau distribusi tidak merata, misalnya kaku di satu titik saja dan lemah di titik lain, meski secara angka kode H joran tegek sama bisa lebih mudah patah.
4. Ketebalan dinding batang
Ketebalan blank menjadi faktor lainnya yang membuat harga tegek beda meski tonality dan hardness sama. Dua tegek mungkin saja punya diameter luar yang mirip, tetapi ketebalan dinding di dalamnya berbeda. Dinding lebih tipis pada tegek cenderung ringkih saat menghajar ikan babon.
Jadi, kalau kamu nemu dua tegek dengan tonality tegek yang sama tapi harga jomplang, jangan buru-buru pilih yang paling murah hanya karena angkanya identik.
Angka tonality atau kode H tegek memang bisa membantu menebak karakter kelenturan, tapi kualitas material dan proses produksi di baliknya merupakan faktor yang tidak terlihat dari angka semata.
5. Reputasi merek joran
Terakhir, yang barangkali tidak akan dibahas di blog mancing lain. Bahwa harga tinggi, misalnya Rp3,5 juta untuk sebuah tegek. Itu kemungkinan besar berasal dari merek yang sudah besar.
Mereka menjaga nama besar dan reputasi. Artinya, kualitas joran sultan dan joran biasa mungkin saja sama. Tetapi yang berasal dari merek kenamaan akan memiliki harga lebih tinggi.
Tidak semua tegek mahal kualitasnya selalu baik, dan tidak semua tegek murah kualitasnya selalu jelek.
Mengapa tidak ada kode H atau T di tegek?
Ingat, tidak semua joran tegek memiliki kode H dan/atau T. Sebagian tidak ada, karena memang bukan itu nilai yang produsen tawarkan. Sehingga, para produsen tidak perlu repot-repot menambahkannya.
Di sisi lain, tidak ada regulasi yang mengikat produsen harus memasukkan informasi kode H.
Tegek untuk segmen kompetisi/premium biasanya lebih niat mencantumkan kode H joran tegek karena pembelinya memang mencari spesifikasi teknis.
Sementara tegek segmen umum yang dijual berdasarkan panjang, harga, atau bobot saja, pembelinya seringkali tidak terlalu peduli angka H, asalkan actionnya sudah sesuai dengan harapan.
Karena tidak ada standar pengujian, sebagian merek justru sengaja tidak mencantumkan angka kode H joran tegek agar tidak dibanding-bandingkan pembeli dengan merek lain. Di mana itu malah bisa memicu komplain kalau ternyata di lapangan terasa beda dari angka yang tertulis.
Sebenarnya ada banyak alasan. Dan apalah esensi yang penting untuk kita memiliki angka-angka itu sebenarnya di joran tegek?
Akhir kata
Alternatif lainnya adalah kamu mengabaikan semuanya; baik tonality maupun hardness tegek.
- Datang langsung ke toko pancing, atau COD dengan penjual agar memegang langsung joran tegek itu;
- Rasakan sendiri pakai tangan dan hatimu. Apakah kira-kira tingkat kekakuannya sudah pas;
- Beli jika sudah pas, atau segera katakan minta maaf tanpa membuang waktu kepada penjual karena menurutmu tegek tersebut belum sesuai dengan kebutuhan.
Tanganmu akan lebih jujur, dan hatimu akan jauh lebih jujur lagi.
Kita bisa mengabaikan angka kode H joran tegek yang tidak jelas itu (kebanyakan memang begitu). Sebab, suatu merek tegek 6H belum tentu sama dengan 6H dari merek lain.
Tetapi kalau tonality, jika 19T kemungkinan besar akan sama dengan 19T yang lain. Meski kompromi dengan kekerasan bahan joran yang mungkin berbeda. Serta kualitas ruas tegek yang sudah kita bahas di bagian sebelumnya.
Lantas, apa sekarang yang terpenting?
Tidak ada yang lebih penting daripada bersyukur atas apa yang kita miliki. Apalagi kalau tegek tersebut masih bisa memenuhi kebutuhan mancing kita.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi