Mencatat blogger 2

Hari ini aku menjelajahi lagi para blogger yang --dengan cara ganjil-- dapat konsisten di jalan sepi ini.

Jalan sepi seorang blogger, ternyata bisa ramai dan penuh warna juga.

Tak habis kekagumanku tentang mereka yang mampu konsisten menekuni si sialan blogging dalam jangka waktu belasan tahun!

Ah, belasan tahun. Sekali lagi, belasan tahun!

Sebagai salah satu apresiasi yang barangkali tidak berarti, perlu kucatat dalam catatan ini beberapa nama domain dan pemiliknya.


Evylia Hardy

Melalui URL blog https://evyliahardy.com/ memberikan sesuatu yang luar biasa!

Seorang perempuan senior dengan tata bahasa runtut, di satu sisi memberi motivasi ajaib dan di sisi lain membuatku kecil dan kerdil.

Tentang Evylia Hardy

Praktisi pendidikan yang suka menulis. Tak lagi mengajar di lembaga pendidikan namun tetap berkecimpung di dunia itu. A lifetime sunday school teacher yang sesekali bepergian dan menyempatkan diri berkutat di dapur.
Tidak tergila-gila memasak maka suka dengan resep yang praktis agar sempat ngeblog eh ... agar bisa ngelakuin banyak hal selain meracik hidangan dan nguleni adonan ^^

Dalam sebuah unggahan blog berjudul "Pengalaman Paling Berkesan yang Bikin Betah jadi Blogger", ada sebuah kalimat yang menurutku juga perlu banget masuk catatan.

Itu adalah ini:

"...awal yang pahit bukan alasan untuk menyerah"

Aku tidak menganut mazhab positivisme dengan keterlaluan. Hanya saja, kalimat tersebut terasa begitu rupa kejujurannya yang hangat.

Dunia blogger keparat luasnya!

Dari nama pertama ini sebenarnya sudah meruntuhkan anggapanku selama ini yang menganggap emak-emak (seperti emakku) hanya bisa sen-kiri-belok-kanan.

Ternyata tidak! Sialan.

Emak-emak jugalah yang mampu menulis dengan bendahara kata yang kaya. Meraciknya menjadi narasi sederhana yang entah kenapa tidak membosankan!

Dan yang terbaik di antara semua itu adalah kita bisa membacanya dengan gratis.


Evi Indrawanto

Blogger perempuan ini sudah berada di tingkat yang berbeda. Dan menurutku, penyusunan kalimatnya yang paling mengalir.

URL blog https://www.eviindrawanto.com/

Aku merasa lebih kecil dan kerdil meski hanya membaca beberapa tulisannya. Aku merinding, dan rasa-rasanya ingin menangis!

Aku tidak melebih-lebihkan. Kau tentu bisa mengunjungi blog Evi Indrawanto tersebut --dan aku memang menyarankannya.

Dia mampu membahas banyak hal seolah isi pikirannya serupa ensiklopedia hidup. Lantas, menyusunnya menjadi sebuah alur yang saling berkelindan.

Aku tidak tahu ada penulis --katakanlah begitu-- mengeluarkan energi yang demikian hebat hanya untuk sebuah artikel blog. Entah kenapa, dia tidak menulis buku saja!

Kupikir dengan keahlian yang seperti itu, dia mampu masuk jajaran penulis kondang di Indonesia.

Kau tidak perlu membandingkan tulisannya dengan tulisanku yang hanya pendek-pendek itu dan beraroma mendung.

Perbandingan yang sejak awal sudah tidak layak.

Atau, jika dia berkenan menulis untuk membela kemanusiaan yang kian diinjak-injak sepatu besi itu. Bukan tidak mungkin tulisannya dapat menciptakan gema yang memicu gema lebih besar atas tulisan-tulisan lain.

Sekali lagi, aku tidak melebih-lebihkan.


Sharon Loh

Melalui URL https://sharontravelogue.com/

Konsistensi belasan tahu menulis di blog bukan aktivitas main-main.

Siapa pun bisa melupakan bahwa dirinya memiliki blog. Tetapi, Sharon Loh tidak lupa.

Konsisten sedemikian rupa tidak berhenti membuatku merinding.

Barangkali ini pula yang disebut Pramoedya sebagai "...pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput".

Blog Sharon Loh kuposisikan sebagai cermin benggala raksasa untuk berkaca. Nyatanya, aku masih (sering) melihat manusia bukan sebagai manusia.

Setiap orang memiliki hal hebat. Barangkali itu juga kamu.


Pada akhirnya, setelah semuanya, aku merasa perlu lahir kembali sepuluh tahun lalu dengan pandangan yang sekarang. Sehingga, aku akan lebih menghargai setiap hidup yang menghidupi.

Sehingga, aku dapat pula agak bergeser dari menulis tentang bunuh diri menjadi menulis untuk hidup diri.

Tetapi, waktu selalu saja memiliki keangkuhan tak tergoyahkan. Dia mustahil mendengarku, tetapi sangat mungkin membaca tulisan-tulisanmu.

Tulisanmu yang sederhana namun menggetarkan.

Salam.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi