Mencatat bayar pajak motor
Motor tua warna merah tahun 2011 itu kini perlu membayar pajak lima tahunan ketiga kalinya setelah serangkaian panjang pajak-pajak lain per satu tahun. Dan kali ini dalam mempertimbangkan etika, kiranya akulah yang perlu melakukan pembayarannya.
Jangan salah paham, ini bukan motorku, tetapi motor mertua yang selalu kupakai ke mana pun pergi.
Jika aku punya motor sendiri, maka niscaya aku tidak akan memiliki kerelaan menyisihkan uang hanya untuk membayar para keparat lewat pajak.
Pagi ini waktuku bersama anak perempuan usia dua tahun yang lucu berkurang. Pagi ini aku harus ke Samsat dengan jarak tempuh hampir 40 km melewati jalan berlubang-lubang, parkir Rp3.000, fotokopi berkas Rp10.000, pasang plat nomor Rp10.000, dan yang paling pamungkas adalah pajak Rp400.000. Ya, dalam kondisi ekonomi negeri yang sedang tidak baik-baik saja --dalam kondisi ekonomi keluargaku yang sedang porak-poranda. Pajak --sebagaimana program unggulan--menurut mereka harus tetap berjalan.
Sekarang aku masih berada di Samsat. Memangku Chromebook yang sama di bawah pohon berbatu. Menulis catatan ini sebelum diusir orang dengan baju serupa tahi karena tidak boleh duduk di bawah pohon, apalagi sambil merokok dan menangis.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi