Mencatat tengah malam 5
Aku tidak menulis untukmu, setidaknya di blog ini. Aku menulis hanya untuk diriku sendiri yang sedang membutuhkan semacam perubahan besar ke arah lebih baik. Oleh karenanya, pada setiap tengah malam, saat waktu benar-benar berhenti (atau berganti), aku selalu meyakini bahwa keajaiban sedang dalam perjalanan mendekat.
Aku akan membaca puisi hebat dari orang-orang hebat. Juga beberapa cerita yang bisa kutemukan di situs tidak resmi. Mereka membagikan bacaan yang bagus dengan gratis. Mereka tidak membuat bacaan serupa tawanan yang harus dikurung di antara paywall.
Aku juga akan melihat video pendek tentang perjuangan manusia dalam keadaan tidak sempurna yang selalu bisa membuatku meneteskan air mata. Lantas menyadari bahwa perjuanganku belumlah apa-apa.
Beberapa kali aku akan mengutuki, sebagai manusia biasa, video pejabat keparat yang rakus nan serakah.
Tengah malam memberiku lebih banyak waktu untuk menyesap kesunyian dan kesepian dengan cara baik-baik. Aku bisa mendengar hantu-hantu gentayangan sedang merumpi tentangku. Mereka mencibir lalu tertawa sebelum berakhir pada tangis panjang yang memilukan.
Jika itu enam tahun lalu, aku akan lari terbirit-birit ke kamar dan menutupi seluruh badan dengan selimut. Namun kini, entah kenapa, ada yang terasa lebih menyeramkan dan menakutkan daripada mereka.
Aku sedang menulis dan menghadapi cangkir kopi kosong dan kesepian dan setumpuk abu rokok dan kepala berdenyut dan bunyi tik-tik-tik dari huruf yang kutekan. Dan di antara semuanya, aku sejatinya sedang menunggu. Sungguh. Keajaiban, janganlah engkau mampir-mampir karena ada yang menantimu.
Seorang kawan menawarkan bantuan menuang anggur selama menunggu kedatangan keajaiban. Aku menolaknya, dan aku pun kaget karena menolaknya. Aku hanya khawatir luput menyambut keajaiban yang datang jika berada dalam kondisi setengah sadar.
Dan untuk istriku. Aku tak tahu seberapa panjang janji-janji itu akan bertahan membendung amukanmu. Dan untuk anakku. Aku tak tahu bagaimana takdir memberikan kehidupan untukmu. Dan untuk ibu dan adik-adikku. Aku tak tahu dengan apa mengganti semua susah dan payah kalian selama ini. Dan untuk orang-orang baik. Aku selalu mencatatnya sebagai utang budi. Dan untuk diriku. Sebaiknya engkau segera tidur dulu.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi