Mencatat tengah malam 4
Cerita, selamanya tentang manusia, kehidupannya, bukan kematiannya. Ya, biarkan yang ditampilkannya itu hewan, raksasa, atau dewa, atau hantu. Dan tak ada yang lebih sulit dapat dipahami daripada sang manusia. Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana, biar pengelihatanmu setajam mata elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap tangis kehidupan, pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput. (Pramoedya Ananta Toer)
Aku sering salah sangka karena mataku tertutup. Selepas magrib sampai tengah malam duduk di depan layar Chromebook yang sama, aku terpikir untuk membuka mata. Melihat setiap manusia dengan masing-masing perjuangannya.
Ada banyak --begitu banyak-- orang selain kita yang tengah menanggung sengkarut. Brangkali kita hanya melihat kebahagiaan yang sengaja mereka tampilkan di media sosial, lantas membandingkan dengan kebahagiaan kita yang selalu alpa datang. Itu agaknya menyakitkan.
Tetapi, di sisi lain yang lebih kelam dan luas. Perjuangan setiap manusia tak bijak kalau dianggap remeh.
Kupikir, aku yang paling sial di dunia karena harus menulis dengan papan tik Chromebook yang njepat empat. Nyatanya, ada orang yang lebih sial, katakanlah begitu, yang harus mengedit video dalam waktu enam jam untuk menghasilkan empat menit video hasil dengan ponsel-purba-layar-pecah.
Kupikir, aku yang paling berjuang di atas muka bumi ini untuk menulis di blog dan mengembangkannya. Nyatanya, ada lebih banyak bloger yang mengabaikan tidur malam dan meletakkan muka untuk meminjam laptop temannya selama dua hari demi menyajikan sebuah blog yang layak kepada pembaca.
Dan juga, kupikir, aku yang paling sayang kepada anak hingga merelakan hobi memancing tak pernah terlaksana sejak tiga bulan terakhir. Nyatanya, ada banyak bapak yang berjalan panjang menjajakan kerupuk hingga malam sambil menggendong anaknya di punggung dan menuntun sepeda yang bannya bocor.
Aku --dan barangkali juga kau-- sering menganggap (atau malah selalu) bahwa kehidupan kita adalah bencana paling buruk. Yang tanpa kita sadari membuat kita berjalan di atas muka bumi dengan kesombongan.
Oleh karenanya, pada tengah malam saat waktu terhenti, juga pada waktu-waktu kita terbebas dari lupa. Ada baiknya selalu memohon ampun kepada Allah.
Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku. Tiada Tuhan selain Engkau, yang telah menciptakan aku. Dan aku adalah hamba-Mu. Dan aku berada pada garis perintah sesuai perjanjian-Mu sebagaimana kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari hal celaka atas perbuatanku. Aku mengakui kepada-Mu segala nikmat-Mu atasku, aku mengakui dosaku, maka... ampunilah aku. Sungguh, tiada yang mengampuni dosa selain Engkau.
Dan yang terakhir kali, aku belakangan selalu kepikiran, mustahil mengabaikan. Untuk setiap anak yang bernasib kurang beruntung, yang mengalami kekurangan fisik pun mental, yang menghirup asap keparat kebakaran hutan, yang dipaksa sabar dalam usia sedini itu, yang jumlahnya lebih banyak dari yang selama ini kusangka; semoga kalian semua mendapat balasan yang jauh lebih baik, di sini pun di sana, di dunia pun di surga, suatu hari ini, pasti.
Tengah malam ini mungkin tidak akan terlalu lama di depan Chromebook. Aku ingin meletakkan kepala. Memuji kesucian-Nya. Menunggu keajaiban yang masih dalam perjalan mendekat.
Baiklah. Salam.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi