Mencatat tengah malam 3
Ada banyak pilihan yang menyiksa diri untuk kita ambil jika waktu sudah menunjukkan tengah malam. Di antara cara itu, yang paling sulit adalah mencuci muka untuk menghilangkan kantuk kemudian duduk menghadap layar kosong Chromebook dan memeras otak untuk mengeluarkan sulingan intisari dengan cara penuh sabar. Sedangkan yang termudah adalah membenarkan posisi rebahan dan mengambil selimut hangat sambil membayangkan surga sembari menghitung domba.
Dan sebagai laki-laki biasa, aku akan memilih cara yang termudah. Jadi, sekarang aku sedang berada di alam imaji surga yang indahnya tidak terbayangkan. Di sana ada domba-domba berbulu putih bersih mirip awan besar yang berbaris untuk dihitung. Angin lembut turut menggoyangkan rumput pendek sepanjang mata memandang.
Siang ini di surga terasa damai tanpa berita-berita dari pejabat keparat yang sering kudengar di dunia nyata. Aku mulai menghitung. Domba yang sampai gilirannya akan berhenti di depanku sebelum melompati pagar masuk ke kelompok sudah terhitung.
Pada hitungan ke-75, aku berhenti karena mengingat sebuah perayaan asap dan api di dunia. Itu seperti perayaan ulang tahun dari seseorang dengan tiup lilin raksasa sebesar pulau. Lantas, aku menangis kenapa di sini masih mengingat kesedihan semacam itu. Dan aku lebih menangis kenapa angka 75 tidak mengingat bebek saja daripada usia seseorang.
Menghitung domba tidak perlu terburu-buru. Aku memiliki cukup banyak tengah malam karena pada jam-jam ini waktu berhenti.
Hingga akhirnya aku sampai pada hitungan ke-180 yang berhasil membuatku menangis kembali. Teringat beberapa catatan di Spreadsheet yang berisi angka-angka tak terbayangkan dan tenggat waktu dan nama-nama perusahaan keuangan besar di dunia nyata. Di bawahnya, aku ingat pernah menulis beberapa doa yang konon katanya kalau dibaca 1.000x akan dapat membawa pada kebebasan. Tuntas kulengkapi juga waktu-waktu terbaik untuk membaca doa-doa itu.
Domba-domba lucu di surga seolah tidak ada habisnya. Orang biasa sepertiku seharusnya sudah tertidur pada hitungan berapa puluh saja. Sekarang aku sampai pada urutan domba ke-2.400.096 tetapi belum juga mengantuk.
Di sampingku hadir dua ekor burung yang cantik. Yang kanan berwarna biru, sedang yang kiri berwarna kuning. Mereka bahkan turut bernyayi dengan gembira untuk membuat hitungan-hitungan ini punya warna.
Dan tak berselang lama, beberapa hewan lain mulai mendekat karena tertarik oleh keceriaan hitungan yang berubah serupa nyanyian. Telah berkumpul kelompok semut hitam, seekor unta yang bercahaya, anak sapi yang lucu, anjing-anjing yang setia, keledai yang rela, dan beberapa ekor ikan yang entah bagaimana bisa melayang di udara.
Kami bersama-sama menghitung --atau bernyanyi-- ke kanan dan kiri, sementara itu domba-domba tetap melompati pagar.
Angin mengelus kepalaku lalu membisikkan sekarang sudah hampir pukul empat. Aku berbaring di rumput hijau yang luas tak terkira meringkuk dan terisak melanjutkan hitungan setelah 4.240.013 domba dan ingatan tentang sebuah kalung anak kecil.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi